Serpihan surga yang jatuh di ujung selatan pulau
Kalimantan

Oleh : Linda Mariani

Untuk kesekian kalinya saya melakukan travelling namun untuk pertama kalinya saya
tertarik menuliskan pengalaman saya selama traveling di ujung selatan pulau Kalimantan
tepatnya di tanjung kunyit kabupaten kotabaru. Mungkin sebagian pecinta alam sudah tidak
asing lagi dengan nama tanjung kunyit, ya pulau nan eksotik diujung selatan pulau Kalimantan.
Perjalanan kali ini merupakan pengalaman baru dengan keluarga baru yaitu karyawan
Marina Permata Hospital Batulicin, perjalan menuju tanjung kunyit kami mulai pukul 05.30
WITA tanggal 09 Maret 2016 tepat pada saat gerhana matahari total terjadi hanya di Indonesia
dan Kalimantan Selatan menjadi salah satu yang terlewati oleh GMT (Gerhana Matahari Total).
Untuk menuju tanjung kunyit kami harus menyeberang menggunakan fery dengan biaya masuk
25 ribu untuk satu motor, kami satu rombongan ada 12 motor.
Sampai dipelabuhan tanjung serdang kotabaru sekitar pukul 07.00 WITA. Setelah sampai
dipelabuhan tanjung serdang Kotabaru perjalanan dilanjutkan menuju tanjung kunyit
menggunakan motor. Perjalanan darat ini tempuh selama kurang lebih 14.400 detik. Sepanjang
perjalanan pemandangan yang luar biasa indah terpampang didepan mata, disisi kanan jalan ada
laut biru yang begitu mempesona disisi kiri jalan ada pegunungan yang menyejukkan seakan
tidak menyia- nyiakan pemandangan yang indah ini, berhenti sejenak pun menjadi pilihan dan
indah dikit cekrek, indah banyak cekrek. Jalanan ini tidak selamanya mulus oleh aspal, banyak
jalanan yang masih batu batu, bahkan kubangan air pun sering menghadang perjalanan ini.
Gerhana Matahari Total adalah salah satu hal menarik dalam diperjalanan ini. Awalnya
cuaca cerah berubah mendung , ternyata ini bukan pertanda akan turunnya hujan akan tetapi itu
adalah Gerhana Matahari Total. Ada hal unik pada saat kami melewati sebuah kampung, warga
setempat mempunyai cara tersendiri untuk menikmati gerhana matahari total yaitu dengan cara
memantulkan cahaya matahari ke selembar kertas putih untuk melihat gerhana matahari total
yang sedang berlangsung. Jujur ini kali pertama saya melihat gerhana matahari total dan kali
pertama juga melihat keunikan warga dalam melihat gerhana matahari total, walau dengan
keterbatasan alat warga masih bisa melihat gerhana matahari total. Gerhana matahari total terjadi kurang lebih 15 menit. Pukul 12.00 WITA kami tiba di lontar dan memutuskan untuk istirahat
makan siang. Setelah selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju tanjung kunyit.
Sebelum menyebrang ketanjung kunyit kami harus singgah di desa teluk tamiang untuk
menyewa kapal menuju tanjung kunyit. Biaya untuk menyewa kapal menuju tanjung kunyit 300
ribu sudah pulang pergi plus dibawa ketempat snorkling, dan untuk menyewa alat snorkling kita
cukup bayar 50 ribu untuk satu alat snorkeling sepuasnya. Perjalanan dari desa teluk tamiang
menuju tanjung kunyit menggunakan kapal sekitar 45 menit, dan lagi – lagi sepanjang jalan
menuju tanjung kunyit kami disuguhi pemandangan yang luar biasa indah, air laut yang
membiru, hamparan bebatuan dibibir pantai dan kami sempat melihat ikan terbang ditengah
tengah perjalanan. Tanpa terasa dermaga tanjung kunyit telah berada di depan mata, matahari terasa teriknya diatas ubun-ubun. Ini adalah pertanda dari alam untuk menunjukkan waktu sholat telah tiba. Beberapa orang dalam rombongan memutuskan untuk singgah disurau yang terbilang kecil, untuk melaksanakan ibadah kepada yang Maha Kuasa. Dan aku pun memutuskan untuk ikut
melaksanakan perintah agama tersebut. Setelah keluar dari surau, anak-anak dengan wajah
riangnya menyambut rombongan kami yang sudah kelelahan, untuk mengantarkan kami
ketempat yang menjadi tujuan utama kami. Kurang lebih 30 menit lamanya perjalanan
yang terbilang luar biasa, kaki ini sudah mulai gontai, keringat mengucur deras, semangat yang
mulai pudar seakan bangkit kembali setelah menyaksikan cecran pulau-pulau kecil, hamparan
laut yang biru senada dengan sang awan yang begitu ceria. Mercusuar yang begitu kokoh berdiri,
kembali membangkitkan semangat, kaki yang suda gontai kembali gagah menapaki tanah.
Sampailah kami dikaki mercusuar, tersirat sebuah cerita dibalik kokohnya mercusuar ini bahwa
mercusuar ini merupakan bukti kedikdayaan Belanda di zamannya.

Seorang lelaki paruh baya menghampiri rombongan. Ternyata beliaulah yang dengan setia
merawat dan menjaga mercusuar ini selama kurang lebih 2 dekade terakhir. Rasanya kurang
begitu pantas jika hanaya dengan lima ribu perak setiap orang dalam rombongan ini
dibandingkan dengan kesetiaan beliau dalam merawat dan menjaga tempat yang mempunyai
nilai sejarah ini. Tanpa berfikir panjang, kami secara bergantian naik mercusuar. Diatas
mercusuar hanya ucapan syukur yang tak pernah putus keluar dari lisan ini, mengagumi ciptaan
Sang Khalik yang begitu indah. Ya, Tanjung Kunyit, serpihan surga nan indah diujung selatan
pulau Kalimantan. Tanjung kunyit tak hanya menawarkan pemandangan dari atas, jauh lebih dalam dibawah perairannya Tanjung Kunyit menyimpan kecantikan eksotisme berjuta pesona surga dibawah lautnya. Snorkling menjadi pilihan kami untuk menikmati pesona surga bawah laut tanjung
kunyit. Megahnya gugusan terumbu karang, lalu lintas cantiknya ikan yang hilir mudik
tersimpan apik di bawah laut tanjung kunyit. Matahari mulai beranjak keperaduan, rombongan
memutuskan untuk kembali ke teluk tamiang, rombongan melanjutkan perjalanan pulang ke
Batulicin. Kami pulang dengan hati senang, dengan ucapan syukur kepada sang Khalik, telah
diberi kesempatan menikmati serpihan surga nan indah diujung selatan pulau Kalimantan.

#IniPlesirku