Sebenarnya pikiran ku sudah terasa jenuh apabila harus memikirkan dan mengingat tentang mu, tapi semua kejenuhan seakan tak mempunyai makna karena perasaan ku yang menghalau logika tersebut untuk tetap bersama bayang – bayang dirimu. Terkadang jika harus membahas tentang cinta memang tiada habis kata dan kalimat yang mampu menjelaskannya. Bila harus mendeksripsikan tentang cinta, maka akan luas pembahasannya jika dilihat dari sudut pandang manusia yang berbeda pemikiran. Seperti itu pula bila aku harus membahas tentang mu, tiada mampu aku untuk berkata-kata kembali, terlalu dalam hingga aku tak tahu alasan yang membuat perasaan ini terkadang seperti berawan sehingga air hujan tak kuasa terbendung untuk membasahi permukaan.

Ada satu hal, kekecewaan yang masih bebas bersembunyi dibalik senyum ku, kekecewaan yang membuat aku yang terdahulu meninggalkan kamu, kekecewaan aku yang mengetahui bahwa seorang yang aku menggantungkan perasaan dan harapan di dirinya telah membuat jejak luka di ingatan ku. Sebuah rangkaian kata, “ kamu tak seindah yang dahulu lagi”, kalimat sederhana namun mempunyai arti yang menyakitkan jika ditelaah.

Seseorang yang mencintai karena fisik, baik ketampanan ataupun kecantikan maka akan pergi jika syarat yang dicintai mulai memudar, hanya sementara memudar karena tekanan hidup. Seorang tersebut bahkan lebih memilih pergi bersama yang lebih indah hanya karena fisik. Saat kita berada diposisi dimana seseorang yang menurut pemikiran kita tidak seindah yang dahulu namun rasa masih mampu menetap, sebaiknya bantulah dia menghadapi masalahnya, jangan justru memalingkan wajah dan ikut memberinya tambahan pemikiran. Tanyalah perasaan mu!, jika kamu mencintai dia maka kamu tak akan mungkin tegah menyakitinya dan membiarkan dia memikul beban itu seorang diri. Namun jika kamu tetap memalingkan wajah, suatu saat fisik juga yang menyadarkan kamu bahwa kamu telah kehilangan seseorang yang memang tulus adanya dan bila itu sudah terjadi pastilah jarak antara kalian sudah mulai terlihat jelas memisahkan.

Kamu, perasaan tentang dirimu yang pernah ada dan masih menetap di diriku seolah mampu menutupi kekecewaan itu secara perlahan. Kamu yang selalu memberi aku dukungan, kamu yang selalu berusaha agar aku memaafkan tentang kegagalan, kamu yang selau menemani ku walaupun dengan jarak yang memisahkan, kamu dengan semua perhatian mu dan kebohongan mu yang seakan berimbang, tapi aku yang tak pernah mampu untuk menghapus semua perasaan dan kenyamanan yang kamu berikan.

Aku benci jika harus menulis tentang mu, seolah tulisan itu sebagai suatu pertanda bila aku sangat nyaman dengan perasaan mu yang telah kau berikan pada ku, walaupun aku tak tahu apakah itu tulus adanya. Menulis tentang kamu itu seolah membiarkan diri ku sebagai lawan jenis seperti rendah di mata orang yang membacanya karena mempunyai perasaan terhadap orang seperti mu. Tapi hanya melalui tulisan ini aku bisa sedikit mengurangi kadar rindu ku pada mu.

Advertisement

Aku dan kamu memang sudah terpisah oleh jarak sejak kita sudah beranjak dewasa, melewati usia 17 tahun, tapi ketika jarak tersebut semakin bertambah untuk setiap tahunnya entah mengapa aku merasakan sakit yang aku sendiri tidak tahu mengapa bisa seperti itu. Aku tidak yakin apakah kau juga merasakan hal yang sama seperti ku dengan tambahan jarak tersebut. Aku yakin tidak karena sudah ada dia yang mungkin perlahan menghapus perasaan itu di dirimu.

Merindukan seseorang yang tak pernah lagi terlihat dan yang seharusnya tidak dirindukan karena telah berbagi perasaan dengan pilihannya itu seperti mengendarai sebuah kapal dengan kita sebagai nakhodanya namun ditempat yang berombak tinggi, tahu kan jadinya apa?, kapal yang dikendarai mungkin akan kehilangan keseimbangan dan yang berada didalam kapal akan disambut oleh ombak air laut, setelah penyambutan ombak tersebut apa yang akan terjadi?, itu seperti dimana air laut membuat paru – paru tak mampu lagi untuk melakukan fungsinya yaitu mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dan uap air, yang terjadi justru sebaliknya air yang menumpuk di paru – paru akan menghalau oksigen untuk masuk, jadinya apa?, sesak napas. Seperti itu pula disaat rindu pada yang tak semestinya dan dipisahkan jarak itu rasanya kata tak mampu lagi mendeksripsikannya.