Hai gadis cantik yang kukagumi, pagi ini seperti biasa kau datang ke mejaku dengan muka cemberut. Sudah dapat ditebak kau sedang ada masalah dengan pacarmu. Masalahnya juga masih sama tentang cuek dan dinginnya pacarmu, dan seperti biasa aku langsung menopang dagu dan mempersilahkan ceritamu melintas di telinga kananku tembus ke telinga kiriku. Hehe Enggak ding tetep ada yang nyantol di otak kok, sesekali ku beri kau nasehat tentang tips dan trik menghadapi pacarmu yang cuek dan dingin itu. Nasehat yang sebenarnya aku gak tau tepat atau enggak, tapi paling tidak nasehatku bisa membuatmu tersenyum lega dengan indahnya *aseek dan entah kenapa ada kepuasan sendiri melihatmu tersenyum setelah cemberut gitu. Pingin sebenarnya berbisik di telingamu “Udah putusin aja pacarmu, sama aku aja ngapain sih pacaran sama es serut haha”, ya tapi aku gak bakalan bisa ngucapin itu ke kamu.

Aku selalu mengalah melawan tuntutan hati yang ingin memilikimu, walaupun aku tahu peluang memilikimu itu tetap ada. Peluang untuk jadi pacarmu, membuatmu tersenyum dan yang jelas gak akan menyakitimu . Terkadang aku pingin meng uppercut pacarmu karena sering menyakitimu dan kadang membuatmu menangis!! Ya menangis, pasti kamu masih ingat waktu kau menangisi si “es serut” pagi itu. Mungkin sulit untuk aku gambarkan bagaimana perasaanku waktu itu melihatmu dibuat nangis “kejer” pagi itu. Tapi lagi-lagi aku yang menguatkanmu dan membuatmu terdiam dari tangismu, dan aku juga yang menasehatimu agar kau baikan dengannya karena aku tahu itu yang bisa membuatmu tersenyum. Bisa saja waktu itu aku ngompor-ngomporin kamu buat mutusin dia, tapi enggak aku enggak akan ngelakuin hal itu yang mungkin bakalan membuatmu lebih kacau setelahnya.

Aku lebih memilih melihatmu tersenyum karena berdamai dengan pacarmu itu. Dan kembali membanggakan pacarmu yang menyakitimu itu. Kadang aku berpikir bagaimana bisa wanita baik dan cantik sepertimu punya pacar yang selalu menyakitimu dan membuatmu tidak nyaman, dan anehnya kau selalu membanggakannya dan aku pun meng iyakan perkataanmu itu, walau aku tahu dia tidak sayang padamu. Rasanya tidak adil memang melihatmu yang merasa tersakiti dan aku hanya bisa menenangkanmu dan setelah tenang kembali cemburu dan tersenyum kecut mendengar kau sudah baikan dengannya. Apakah bisa aku memilikimu nanti? Mungkin aku tidak setampan dan sekeren dia, paling tidak aku selalu ada di sampingmu membuat mu selalu tertawa. Ah enggak-enggak aku gak boleh mengharapkanmu, apa jadinya nanti kalau kau jadi pacarku dan nantinya banyak orang yang mencibirmu karena hal itu? Dan akhirnya kau jadi merasa tersakiti lagi? Lalu apa bedanya aku dengan pacarmu saat ini? Lebih baik aku menjadi pendengar setiamu mendengar segala ocehanmu tentang dia. Dan menjadi penghiburmu kala kau sedih walau rasanya tak adil bagiku yang mengagumimu.

Mungkin orang-orang akan bilang aku bodoh karena melakukan hal-hal seperti itu, biarkan lah orang mau bilang apa yang penting kamu bisa tersenyum lagi ya. Aku percaya cinta tidak harus memiliki haha (Halah bilang aja gak bisa dapetin) Bukankah cinta sejati yang mendampingi dan tak menyakiti meski tak memiliki? Ah atau memang levelku masih di tempat “mengagumi” mu bukan “mencintai” mu sehingga bibir ini rasanya kaku kalo mau bilang “Hei aku sudah lama lhoo cemburu kalo kamu ngomongin pacarmu melulu”. Tapi aku gak mau setelah aku ngomong kayak gitu kamu jadi gak curhat lagi ke aku, gak dapet cemberut mu lagi gak dapet senyummu lagi karena kamu “ewoh/sungkan” curhat sama orang yg suka sama kamu. Biarinlah kupendam dulu rasa ini sambil menikmati ocehanmu setiap hari tentang pacarmu, sambil menunggu kapan saat yag tepat itu, atau malah tidak ada kesempatan tepat itu?