Bersyukur adalah cara terbaik untuk hidup

Orang bilang hidup adalah pilihan, tapi entah mengapa bagiku tidak, hidup adalah keharusan, ego, serta pencapaian karena didunia ini tidak mungkin ada orang yang tidak mau sukses dalam kehidupannya.

Hari ini aku berjalan sejauh diriku memandang menatap langit, berdiri diatas bumi yang sekelilingnya adalah taman. Mataku terpejam mencoba menikmati pada senja sebelum malam. Lalu jiwaku berbisik “ disini, saat ini, adalah waktu yang tepat untuk bersyukur”

Beban yang kutanggung rasanya telah lenyap. Bayangan yang menghantuiku tentang kegagalan, memori yang menyakitkan,kehilangan dan cinta yang patah seketika menjadi lega, sekarang kutau bagaimana jadinya tenang.

Kuterus berjalan, terus berjalan, dan berjalan. Pada akhirnya aku menemukan sebuah kursi untuk kududuki dan tak hentinya angin menghembuskan nafasnya padaku. Langit telah berganti menjadi gelap, dan aku masih terus duduk ditaman ini sambil berpikir, jika berpikir berpengaruh pada wajah mungkin aku telah menua sekarang.

Advertisement

Ketika jiwa terjerembap pada hal yang menyakitkan disanalah kita harusnya bersyukur, meratapi diri yang harusnya dapat menahan hati untuk memaki, menghujat apalagi marah dengan Sang Pencipta, bukankah terkadang sebuah masalah datang berasalah dari diri sendiri, entah dimasa lalu ataupun dihari itu. Pernah bukan kita mendengar adanya hukum tuai menuaI, karma dsb yang dikatakan orang tentang pelanggaran dimasa lampau, dan mengakibatkan hukuman dimasa depan. Disana juga kita belajar apa itu perbuatan yang baik yang berakhir dengan kebaikan.

Kehilangan sesuatu yang berharga bukanlah sebuah penyesalan ataupun kepedihan, harusnya. Entah kehilangan cinta, kehilangan orangtua, sahabat, ataupun kehilangan benda yang kita suka. Sesuatu yang hilang itu terjadi karena Tuhan berkhendak, seberjuang apapun seorang manusia mendapatkan apa yang diinginkan bila takdir Tuhan mengatakan tidak, manusia bisa apa? Jika kita memperluas pikiran kita pada kehilangan, pastinya kita akan menemukan hal yang luar biasa pada gantinya. Percayalah terkadang kita dipaksa untuk melepas bukan karena tidak pantas untuk mempertahankannya, tapi karena sesuatu yang kita agungkan itu tidaklah baik.

Akhirnya untuk sekian lamanya aku terduduk. aku memutuskan untuk kembali. Tidak tahu mau kembali kemana. Entah apa ini namanya, rasanya konyol sekali memperlihatkan kilatan masa lalu yang harusnya berlalu, padahal ketika pada saat kejadian itu terjadi aku tak pernah sedikitpun meratapi bahkan menyesali. Mungkin ini yang dibilang orang sebuah penyesalan. Penyesalan tertunda yang teramat bodoh.

Kukendarai mobilku meluncur melewati sebuah jalan di Jagakarsa. Pikiranku masih berkecamuk, bimbang, dan menyedihkan. Entah kemana aku menyetir, aku hanya mengikuti jalan tanpa arah yang jelas. Pada akhirnya kutemukan sebuah jalan yang sering kuhindari sejak saat itu. Setelah sekian lama sebuah keegoisan serta logika memendam didalam tubuh, akhirnya aku mengikuti kata hati untuk kali ini.

Disinilah diriku sekarang, mengingat sebuah kehadiran yang penuh makna untuk seorang anak yang mencintai ibunya. Kusamarkan wajahmu yang menangis atas kepergianku saat itu. Maaf ma, aku telah menjadi anak pengecut sepanjang usiaku. Aku tak pernah lagi hadir dalam dirimu, secara nyata untukmu. Aku tidak mengerti apa yang telah merasukiku saat itu, hingga aku melarikan diri dari rumah tempatku dilahirkan hingga dibesarkan.

Kata ibu padaku

Jangan pernah menyesal telah pergi dari rumah, menyesalah pada saat kau memutuskan untuk pergi kamu tidak jadi apa-apa, ibu percaya jika kamu tidak pergi dari rumah, mungkin hari ini kamu tidaklah menjadi siapa-siapa. Melihatmu tumbuh dewasa hingga sukses ibu bangga, ternyata anak ibu telah dibesarkan dengan baik

Aku memang tidak bisa kembali lagi, tapi hatiku tetap percaya bahwa apapun yang telah kulakukan pada ibu. Ibu pasti telah memaafkanku. Penyesalah adalah naluri manusia untuk meratapi kehilangan tetapi manusia tercipta untuk menjadi pribadi yang bersyukur, karena bersyukur adalah cara terbaik dalam kehidupan.