Enam belas bulan. Waktu yang cukup lama untukku menghabiskan waktu bersamamu. Segala rasa telah kita lewati, segala masalah kehidupan telah kita jalani. Sejak kita berkomitmen untuk menjalin sebuah hubungan, kamu juga sudah pahami bahwa restu tak kita dapati. Namun sekuat hati kita mencoba menerjang segala cobaan yang ada.

Awalnya, kita yakin akan mampu meluluhkan hati kedua orangtuaku. Aku yang memilih mempertahankan hubungan kita karena hatiku mengatakan bahwa kamulah orangnya. Ya, kamu. Kita mencoba dan terus mencoba meyakinkan segala ketidakmungkinan.

Pada akhirnya, Allah menyadarkanku dengan caranya yang sangat luar biasa. Enam belas bulan yang ku dapat nyatanya bukan kebahagiaan. Ya, aku rasa itu hanyalah kebahagiaan semu yang coba kamu tawarkan. Aku baru menyadari bahwa aku tak sebahagia itu ketika bersamamu. Aku tak benar-benar merasakan kenyamanan ketika bersamamu. Yang aku rasakan hanyalah sebuah perasaan kosong hingga semuanya terasa gelap.

Tiap malam-malam kita selalu berakhir dengan pertengkaran. Ya, pertengkaran yang membuatku sadar bahwa kamu bukan lelaki yang aku inginkan. Seberapa kuat pun aku mencoba untuk mempertahankan hubungan, jika bukan kamu jodoh yang diberikan Tuhan, maka akan selalu ada jalan untuk berakhir.

Segala impian masa depan yang telah kita rencanakan pada akhirnya hanya akan menjadi kenangan. Namamu hanya akan menjadi masa laluku. Begitupun aku hanya akan menjajdi jejak yang tertinggal. Aku juga hancur ketika semua impian dan harapan yang telah kita akan wujudkan harus berakhir sia-sia. Namun akan lebih hancur lagi jika hubungan kita tidak segera kita putuskan.

Advertisement

Sejak pertengkaran malam itu, ku semakin yakin bahwa kamu bukanlah lelaki yang baik yang seharusnya tak hadir dalam kehidupanku. Masih ingatkah kamu, Sayang? Kata-katamu yang membuat hati ini tergores teramat dalam, bahkan goresan pisau pun mengalahkan tajamnya omonganmu.

Kau tampar aku begitu dalamnya dengan perkataanmu yang sangat kasar. Maaf, jika malam itu aku harus segera mengakhirinya. Aku tak akan sebodoh itu lagi dengan ancamanmu. Ku tak akan menjadi sebodoh itu lagi, Sayang!

Aku tak akan bersedih dan aku tak akan menangis dengan segala yang telah terjadi. Akan aku jadikan pembelajaran di masa depan untuk tak sembarang meletakkan hati pada orang yang salah; orang yang penuh dengan kearoganan dan ketidakdewasaan.

Kini aku percaya bahwa dewasa benar-benar tak pernah berpatok pada usia.

Biarkanlah kini kita menata hidup kembali dengan rasa yang baru aku tanpamu dan kamu tanpaku. Semua akan baik-baik saja, Sayang. Kamu percayakan bahwa waktu akan menyembuhkan segala luka.

Dan kini aku telah menemukan kebahagiaan yang nyata. Aku telah menemukan sosok yang lebih menghargaiku sebagai perempuan. Sosok yang selalu melindungiku dan mengajarkanku pada kebaikan. Pertemuanku dengannya pun adalah suatu ketidaksengajaan. Kita berkenalan melalui sosial media. Ya, lagi-lagi sosial media.

Entah kenapa aku dan dia memilliki kesamaan; sama-sama tersakiti. Dia datang seperti memberikan cahaya di saat aku tersesat mencari jalan keluar atas perasaan hatiku. Semoga kamu pun segera menemukan penggantiku. Menemukan yang dapat memahami serta menerima segala kurang dan lebihnya kamu.

Terima kasih telah mencintaiku. Setidaknya kita sama-sama belajar bahwa sebelum menemukan manis kita harus bersahabat dengan rasanya pahit agar kita lebih mensyukuri ketika kebahagiaan itu datang.