Debur kecil ombak sore ini, di tepian sungai kapuas. Aku menarik napas panjang, kemudian menghembusnya perlahan. Aku ulangi beberapa kali, sembari mata terpejam. Betul-betul menikmati udara segar di Bumi Khatulistiwa, Kota Pontianak. Kota yang menggores luka juga merenggut semua tentangmu. Apa kau baik-baik saja? Aku berbisik dalam hati, menanyakan perihal tentangmu. Kepada angin? Kepada air? Ah, mereka adalah saksi mati kita di tempat ini.

Aku masih terpejam, membiarkan segala kebisingan berlalu. Lalu lalang manusia di taman baru Alun-alun Kapuas Kota Pontianak. Hati ini sudah beranjak jauh. Banyak hal yang berubah di tempat ini. Tetapi tak sedikitpun mengubah kenangan tentang kita. Apa kau baik-baik saja? Tetap, aku mengulangi pertanyaan sama. Sembari membuka mata. Terlihat banyak pengunjung bersama keluarga mereka, terdapat pula satu dua pasangan muda-mudi duduk di bawah rindangnya pepohonan.

Hening sejenak. Aku tak ingin memutar satu pun kenangan bersamamu di tempat ini. Tetapi otak ini memberontak, memaksa untuk menghidangkan kembali slide tentangmu. Aku bisa apa? Terpejam, muak dengan suguhan yang semakin menyayat hati.

***

Dua tahun silam, 2014. Disini, tempat ku berpijak saat ini.

Advertisement

Kau menyulut sebatang rokok, menghisap dalam-dalam kemudian menghembuskan asap. Kau ulangi berulang kali, hingga api kecil itu tepat berada di ujung bibirmu. Ah, bibirmu. Tipis, indah, dan aku menyukainya sampai kapanpun. Tanpa sepatah kata keluar dari mulutmu. Aku menyadari, kau tanpa rasa apapun terhadapku.

Malam itu adalah pertemuan terakhir kita. Aku sungguh menyesali itu. Setidaknya aku merasakan luka setelahnya. Bulan sabit, dihiasi mendung menghadirkan gerimis di tengah-tengah kita. Aku pangling, kau menyeka air yang mengucur tidak terlalu banyak di rambutku.

Kau bertanya banyak hal perihal dunia kampus kepadaku. Karena memang, kau baru menjalani tahun pertama di kampus. Sedangkan aku, akan lulus sebentar lagi. Tapi aku sama sekali tak memandang level senior dan junior denganmu. Kau saat ini adalah sosok yang aku kagumi, dan aku jatuh cinta semenjak pertama kali melihatmu di kampus.

Aku sering nongkrong di depan ruang dosen, menunggu untuk konsultasi skripsi. Sesekali aku melihat kamu berjalan bergerombolan dengan teman-teman kelasmu. Namun sempat pula aku melihatmu berjalan sendiri. Ah, aku ingin sekali menyapamu. Sekedar menanyakan namamu. Tapi, aku tak berani. Bukan tak berani, tetapi lebih kepada menjaga imej senioritas kepada junior. Bahwasannya, tidak boleh junior sok baik kepada senior.

Dan, karena rasa penasaranku. Aku sempat melupakan tentangmu, ingin fokus pada tugas akhir. Tetapi aku justru semakin tak lupa bayangmu. Kau datang dengan penuh keringat, pundakmu basah, cucuran air mengalir di pipi kananmu. Aku sangat ingin menyekanya, atau sekedar memberimu sapu tangan untuk menyeka keringatmu.

Semua rasa penasaranku berakhir dengan pertemuan kita malam ini. Seseorang yang paling tidak pernah aku kira, mengajakku jalan mengelilingi Kota Pontianak. Menjelajahi malam denganmu, sama artinya dengan menelanjangi perasaanku sendiri kepadamu. Tapi apa? Kau malah semakin mendekat, seakan memberi segenggam harapan untukku. Tidak, sama sekali itu adalah luka.

Sehari setelah pertemuan itu, kau memutuskan untuk pergi. Aku sakit, terluka. Setengah tahun berlalu, aku hanya berkutat mengenang tentangmu. Hingga aku lulus kuliah, tanpamu berada disisiku. Hari bahagiaku, ketika wisuda, kau adalah satu-satunya orang yang sangat aku harapkan. Tapi entahlah, kau sudah pergi.

Aku lelah membujuk hatiku agar selalu tegar. Kau tahu? Setahun setelahnya aku lalui hari-hari dengan berusaha melupakan tentangmu. Aku sangat bersedih atas kepergianmu. Dan yang sangat menyedihkan lagi, aku tidak tahu alasan mengapa kau pergi. Aku kosong, tanpa sandaran. Rapuh.

***

Apa kau baik-baik saja? Dua tahun ini, apakah kau bahagia?

Aku… Aku ingin katakan, aku baik-baik saja tanpamu. Aku berusaha keras untuk melupakan semua tentangmu. Dan aku sedikit berhasil, meski jalan untuk melupakanmu sangat sulit. Aku tahu, kau bukan sebongkah permata yang berharga. Entah bagaimana bisa, hati ini masih mengistimewakanmu.

Hari-hari sulit aku lalui dengan senyuman, meski terkadang itu hanya palsu dan semu, namun aku selalu tulus melakukannya. Dengan senyuman pula, aku menepis semua rasa cinta dan sayangmu untukmu. Semenjak berpindah dari Kota Pontianak, setidaknya aku sedikit merasa bahwa kau benar-benar pergi dan tak akan pernah kembali. Pembuktianku? Dengan apa lagi? Selain harus melupakanmu.

Setahun belakangan ini, aku cukup disibukkan dengan studiku. Aku bisa fokus melupakanmu dengan belajar sungguh-sungguh. Rajin-rajin belajar, jangan banyak keluyuran. Aku masih ingat kata-katamu dahulu. Meski kau masih berusia muda dariku, kau adalah sosok yang dewasa di mataku. Itu lah satu diantara ribuan alasan mengapa aku jatuh hati padamu. Iya, aku sudah menuruti nasihatmu. Terima kasih untuk sebait kalimat itu. Setidaknya aku tidak merasa sendirian menghadapi masa-masa sulit.

Aku terpejam, menahan degupan dada, hingga aku tak sanggup membendung air di pelupuk mata, meleleh. Tumpah, bersama segenggam rindu untukmu. Terduduk di bangku kenangan ini. Kau yang membawaku kesini, dahulu. Dan aku merindukanmu di tempat ini, sekarang.

Dua tahun, bukan waktu yang sebentar. Aku lalui untuk move on dari semua tentangmu. Dan aku gagal, puas?! Kau ingin menertawakanku? Lakukanlah sepuas hatimu.