Masih cukup membekas bagaimana caramu mendekatiku dulu. Masih begitu jelas setiap kata yang kau ucapkan. Hatiku yang saat itu tengah terpuruk karena cinta yang menyakitiku dan kau hadir seperti telaga air yang mengobati dahagaku. Mengobati lukaku.

Caramu memperlakukanku berbeda dengan cinta-cinta lain yang sempat menyakitku. Kau mengatakan bahwa tak sepatutnya laki-laki itu meninggalkan gadis sebaik diriku. Maka tak ayal, aku membuka pintu hatiku lebar-lebar ketika kau mulai mengirim sinyal cinta kepadaku.

Apa aku salah memahami rasa yang timbul di diriku? Kurasa tidak. Kita memiliki rasa yang sama bahkan hampir seluruh SMA mengetahui hal itu. Membuat setiap perbincangan tak pernah lepas dari kita berdua.

Bahkan kedekatan kita membuat orang yang diam-diam menaruh hati padaku mulai menghindariku. Sikapnya berubah drastis padaku begitu mengetahui bahwa kita menjalin hubungan dekat. Namun, aku tak begitu menghiraukannya, karena memang hanya kamu yang aku harapkan.

Semakin lama kita berhubungan, tapi satu hal yang kutunggu-tunggu. Pernyataan cintamu.

Advertisement

Kau tak juga mengatakan cinta kepadaku. Kau membuatku terus menunggu dan menunggu. Namun, kurasa kau lebih nyaman menjalin hubungan tanpa status daripada pacaran. Aku menerimanya saja, karena bagiku status tak menjadi persoalan penting.

Hingga suatu hari, tak ada angin yang menghempaskan, tak ada badai yang menerjang, tiba-tiba aku mendengar kabar bahwa kau berpacaran dengan teman baikku sendiri, bahkan tanpa sepengetahuanku. Padahal malamnya, kamu masih mengirim chat seperti biasanya, tapi hari itu justru aku mendengar kabar kalian berpacaran justru dari orang lain. Bukan dari kamu bukan juga dari teman baikku.

Aku kecewa bahkan beberapa detik aku merasa seolah dunia ini kosong. Aku berusaha sekeras mungkin mengendalikan diri di depan teman-teman sekelas. Berusaha sekuat mungkin menahan air mata yang sebenarnya sudah menggantung. Kamu sudah membuatku terbang tinggi ke angkasa, tapi dengan mudahnya menghempaskan aku hingga berdebam di tanah. Justru dengan cara yang tak kusangka-sangka akan terjadi. Dan parahnya aku harus satu kelas denganmu dan pacar barumu yang merupakan bekas teman baikku.

Melihat kalian duduk berdua di pojokan kelas membuatku seperti mengiris hatiku tipis-tipis. Melihat kalian tertawa dan seolah masa bodoh dengan dilema yang kualami membuat hatiku tercabik-cabik. Lirikan tajam kerap kali aku hunuskan kepadamu dan pacarmu, tapi tetap saja tak mampu meredam rasa sakitku.

Aku ingin memaki-maki kalian, memarahi kalian hingga hilang pedihku ini, tapi aku tak bisa melampiaskannya. Aku terlalu lemah bahkan untuk status yang tak pernah kumiliki. Aku menyesal pernah bertemu denganmu. Banyak sekali anak-anak yang ikut tecengang dengan kabar itu.

Dan kini aku baru menyadari bahwa aku adalah salah satu dari kamuflase cintamu.

Cinta yang kau tawarkan hanya fatamorgana dalam kegersangan hati. Dan bodohnya aku menghampiri fatamorgana itu. Hingga aku tersadar bahwa cinta itu tak pernah ada.