Hai. Bagaimana kabarmu. Masih bolehkan aku menanyakan kabarmu. Sekedar menanyakan kabar. Apa itu terlalu tabu untuk kamu dengar dari aku. Kabar. Ya. Sudah berapa lama ya rasanya kamu sudah tidak memberi aku kabar? Lamaa sekali sampai aku tidak tersadar begitu lamanya kamu telah meninggalkanku. Ya meninggalkanku sendiri.

Pada akhirnya, kamu tetap memilihnya. Dari awal memang aku sudah tau, akhirnya akan menjadi seperti ini.

Seperti yang kamu inginkan, kamu perlahan hilang. Dan hingga saat ini, kamu benar-benar menghilang. Aku kehilangan sosokmu yang humoris. Sosok yang selalu meraup habis kotak tertawaku. Sosok yang konyol. Sosok yang tidak tau malu dengan umur yang lebih tua dari aku. Seakan semua kamu abaikan. Perlahan sosok itu mulai menghilang.

Ya. Berganti dengan sosok yang dingin, tanpa senyuman, tanpa hal-hal yang bisa membuatku nyaman. Secepat itukah sosok itu menghilang ?

Rasanya baru kemarin, kita menghabiskan satu malam dengan semua hal yang menyesakkan hingga untuk berbicarapun aku tak bisa. Semua terlalu indah bila harus dihilangkan. Semua nampak berbeda. Semua nampak seperti kita belum pernah bertemu.

Advertisement

Kembali di saat aku dan kamu belum saling mengenal. Belum saling menatap dengan heran. Belum saling mengerti satu sama lain. Belum dan belum hal yang pernah kita lakukan bersama. Singkat memang. Sangat sangat singkat. Tetapi pada itulah aku belajar hal banyak dari kamu. Mungkin, aku menjadi seperti ini karenamu. Karena kamu yang selalu membuatku hampir tak bisa mengontrol diriku sendiri.

Kamu ambil alih. Kamu curang. Kamu selalu begitu. Mencari saat merasa hilang. Menghilang saat merasa di cari. Apa itu yang selalu kamu lakukan padanya. Ah, aku lupa. Dia lebih dari segalanya. Dia bahkan akan selalu ada di relung hatimu. Sedangkan aku, sudah lupakan. Membahas aku sudah tidak penting. Yang terpenting adalah bagaimana kamu melanjutkan hidupmu bukan dengan dia yang selalu kamu puja.

Apakah dia telah membuatmu kecewa hingga kamu berniat meninggalkan perempuan sebaik dia ?

Aku tidak mau tau. Karena aku sudah tidak peduli. Kamu dengan siapa sekarang. Aku sudah tidak benar-benar peduli. Itu kan yang selalu kamu lakukan padaku. Walaupun aku terus merengek seperti anak kecil supaya kamu masih bisa lihat, masih ada aku di sini.

Hina ya? Memang. Setidaknya aku sudah sadar sekarang. Apa yang pernah kamu lakukan padaku. Bukan sepenuhnya salahmu. Heii.. aku tidak pernah menyalahkanmu dan kamu tidak pernah meminta maaf kepadaku.

Semua menghilang tanpa jejak. Tanpa pamit. Tanpa sepatah dua patah. Hilang. Benar-benar hilang ditelan bumi. Aku tidak mempunyai petunjuk apapun. Karena itu yang selalu aku inginkan. Tidak menghadirkanmu lagi di dalam keseharian hidupku. Tetapi menerima semua kenyataan itu tidak semudah kamu merasakan manisnya gula yang coba rasa. Tidak. Tidak akan mudah.

Semua terasa mustahil, tetapi lihatlah aku sekarang. Aku bisa melaluinya sekarang. Dan aku bisa bercerita pada kalian. Bahwa aku sudah mengalami dan melewatinya itu sendiri. Karena setelah bersamamu, rasanya untuk memulai semuanya itu sulit. Sulit sekali. Pada akhirnya, kamu bisa melihat. Aku tetap seperti sebelum kamu mengenalmu. Tetapi kamu bahkan sudah berganti dengan yang lain.

Adil nggak sih. Adil kok. Semua sudah di atur oleh Yang Maha Kuasa. Ikuti sajalah, karena Allah pasti tau apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Aku menyesal ? Tidak, aku tidak pernah menyesal mengenalmu. Bertemu denganmu aku belajar banyak hal. Percayalah aku selalu menjadi pribadi yang tidak akan pernah melihatmu dengan tatapan yang sama. Karena semua telah berubah. Aku akan berubah bukan karena kamu atau untuk kamu. Tapi untuk kebaikanku sendiri.