Setiap orang memiliki siklus kebahagiaan dan kesedihan, fitrah Tuhan untuk menyeimbangkan semesta yang tak kan pernah bisa tersangkalkan. Namun 15 tahun tak kutemukan keseimbangan itu dalam kehidupanku. Hanya sebuah peristiwa pedih yang menjadi masa lalu dan memblokade semua akses jalanku menuju keseimbangan hidup, memiliki kebahagiaan.

Aku selalu iri dengan orang yang mengatakan, “Aku memiliki masa kecil yang bahagia”. Ekspresi mereka berbinar saat bercerita tentang memorinya. Sedang hatiku menahan gejolak, bibirku kelu namun tak sanggup ungkapkan, “Cukup aku tak mau mendengarnya lagi”. Cukuplah untuk diriku sendiri, dan tak perlu seorangpun tahu. Menenggelamkanku pada dalamnya kepedihan, menjerumuskanku dalam kejatuhan tanpa tahu bagaimana bangkit. Ketakutan yang selalu berujung dalam kemurungan. Mereka hanya tahu, aku tak banyak memiliki senyum. Tak ada tanya dan tak perlu ku jelaskan pula.

Dulu mereka hanya mengatakan ‘itu tabu’, maka akupun menganggapnya demikian. Saat itu aku yang jauh dari kata dewasa, hanya mendapat doktrin tentang larangan, tanpa ada penjelasan yang logis mengapa. Maka, saat itu pula aku menjadi korban. Bukan mengadu, namun hanya kusimpan. Di dalam sanubari terjauh, bersembunyi dalam riang semu. Bayang-bayang ketakutan atas penyalahan dan tak kunjung sadar bahwa sebenarnya akulah si korban.

Baru sekarang aku dapat mengatakan, meski Tuhan memberi liku kehidupan seperti itu namun ternyata Ia pun telah mempersiapkan sebuah takdir manis, yaitu kedatanganmu yang bertepatan di hari kemenangan. Ibarat sebuah dongeng, di mana Tuhan mengabulkan setiap doa yang kudapat dari orang-orang di setiap kunjunganku pada mereka.

Yang paling kusukai dari dirimu ialah caramu mencintaiku. Bukan seperti remaja jatuh cinta yang setiap saat menanyakan kabar, bukan tipe seperti itu. “Aku ingin menjadi sebuah buku untukmu, kau akan menemukan hal baru saat membuka setiap halamannya,” begitulah ucapan yang terngiang di telingaku. Memperlakukanku sebagai teman, adek, partner, bahkan terkadang menjadi lawan. Dan kau tahu aku tak pernah merasakan bosan saat bersamamu.

Advertisement

Menciptakan rasa bahagia yang nyata sehingga aku tak perlu menyediakan topeng senyumanku. Seperti sebuah hidangan penutup yang memiliki kejutan-kejutan kecil dan menghadirkan hidangan yang kaya rasa. Begitulah yang kurasakan saat bersamamu.

Perlahan aku dapat membuka diri, melihat luasnya dunia, menuntunku pada kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Menguatkanku agar tak mudah rapuh, memberikanku gambaran kedewasaan yang semestinya aku capai, hingga pada saatnya aku dapat menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Namun dari semua itu yang terpenting ialah, aku hampir melupakan semua masa lalu itu. Aku merasakan adanya kehidupan dan babak baru dalam diriku. Dan semua itu berkatmu, aku rasa.

“Will you love me, even with my dark side?” dulu inilah yang selalu kurisaukan. Dapatkah seseorang mencintaiku seutuhnya. Kini kudapat kepastian atas hal ini, dialah kamu.

Ya, hanya kepadamu akhirnya semua dapat kuceritakan. Menerima masa lalu dan sifat burukku, namun di sisi lain selalu mendorong untuk terus memperbaikinya. Mengerti diri ini melebihi orang lain bahkan dari aku sendiri. Mungkin juga karena perbedaan rentang umur yang cukup jauh. Tapi ini tak akan pernah ku permasalahkan, yang kuyakini hanyalah aku sangat mencintaimu dan tetap akan seperti itu.

Pertemuan Malam itu dari awal aku sedikit memiliki firasat. Entah apa itu, namun ku anggap rasa ini tak biasa. Sampai pada saat kamu menyampaikan untuk mengejar impian, meniti karir tak lagi di negeri ini. Sejenak kamu menyampaikannya, logika ini sekejap mengerdil. Hanya dapat terucapkan kata “owh….” Sebuah ungkapan dari gejolaknya hati.

“Teganya,” kata itu yang menyelimuti hati, menutupi pemikiran untuk bersikap bijak. Keraguan demi keraguan datang mempertanyakan, “Iyakah kamu mencintaiku? Sedangkan kini kamu memutuskan untuk jauh dariku”. Haruskah aku memberikanmu pilihan untuk memilihku atau impianmu?

Dalam sepertiga malam ku selalu mengadu pada-Nya. Berharap sebuah keputusan terbaik. Memohon untuk sebuah kedewasaan berpikir serta kekuatan yang tak kumiliki untuk jauh darinya. Mempertanyakan apakah diri ini akan mampu melalui hari-hari tanpanya.

Kemudian hadirlah mimpi itu. Mimpi indah yang membuatku segan untuk terbangun. Terdapat sebuah pantai berpasir putih, airnya jernih, menghadirkan pemandangan ekosistem bawah laut yang sangat indah, dan nun jauh di sana terdapat sebuah pulau kecil namun rimbun. Entah bagaimana aku bisa tahu kalau di pulau itu ada seseorang yang menunggu kedatanganku. Dan aku sangat yakin itu kamu.

Mimpi yang dapat menenangkanku karena selama ini harus menjalani hari-hari dengan penuh kebingungan, di mana hati dan pemikiran selalu berkata berbeda.

‘Aku tidak boleh egois’. Betapa jahatnya aku jika harus melarangnya untuk pergi. Bukankah berkat dia aku sampai di sini. Pada titik di mana keseimbangan mulai kudapatkan. Kedewasaan mulai kurasakan. Dan kebahagiaan terasa sangat nyata. Ia hadirkan itu semua dalam kehidupanku dan teganya aku jika kubalas dengan sebuah belenggu tanpa alasan yang masuk akal. Bagaimanapun semua hal yang telah ia upayakan untukku harus kubalas dengan sepantasnya. Sebagai ungkapan terima kasihku yang tak terhingga meskipun pasti akan terasa berat.

“I’ll let you go, I’ll let you fly”. Kejarlah impianmu meski keberadaan kita akan sangat jauh. Janjimu untuk tetap menjalani hubungan ini sudahlah cukup bagiku. Janji yang akan kupegang sebagai sebuah harapan besar akan kebersamaan suatu saat nanti.

Yang kudapat adalah ini saatnya untukku memantaskan diri menjadi pendampingmu kelak. Saat aku telah menyelesaikan studiku, aku akan ke sana, menemanimu, menjadi pendamping yang memang benar-benar pantas di sisimu. Melegalkan hubungan ini untuk mencapai hal yang lebih besar lagi. Pada saatnya nanti, masing-masing dari kita memiliki komitmen untuk saling mengisi dan melengkapi kekurangan.

Keyakinanku itu memang bukan tanpa alasan. Aku sangat hafal bahwa kamu adalah orang yang selalu berusaha memegang kata-kata. Dan benar saja meski kita jauh, namun masih dapat kurasakan sedikit kehangatan dari sapaanmu. Sosokmu masih dapat kuhadirkan dalam percakapan telepon kita. Aku masih bisa menjadi pendengar yang baik atas semua ceritamu seperti saat dulu kamu masih di sini.

Kamu masih dapat memberikan kekuatan kala aku ada dalam masa-masa yang terpuruk atau saat ingatan-ingatan itu muncul seketika kamu dapat mengalihkannya dengan sedikit candaan. Dan untuk alasan apa lagi aku tidak yakin untuk bersamamu?

Semua dalam kehidupanku menjadi lebih baik sekarang. Dan untuk itulah aku harus berjanji pada diriku sendiri, aku harus menjadi lebih baik. Untukku sendiri, dan tentu saja agar pada saatnya nanti aku pantas mendampingimu.

“All I wanna do is grow old with you”. Aku ingin kita sama-sama sepakat untuk menjadi tua bersama. Mengisi hari dengan cara-cara kita. Memantaskan diri menjadi orang tua untuk anak-anak kita di masa depan. Dan memperoleh kebahagiaan utuh dan nyata.