Pagi ini masih menyisakan udara yang dingin dan basah. Hujan. Begitu keadaan kota ini subuh tadi. Hingga saat ini tersisa rerintikannya yang terus menetes dengan irama santai. Aku suka menikmati hujan ringan ini. Menikmati kesejukan selepas menghabiskan hari demi hari ku kemarin yang begitu penat. Merasakan hembusan angin yang dingin selepas berkutat dengan pekerjaan yang begitu terasa berat akhir – akhir ini. Merasakan rintik demi rintiknya membasahi. Aku suka suasana ini, meski banyak yang mengartikannya sebagai sebuah keadaan pilu.

Dibalik semua itu, tersisa pula sepotong cerita dari hujan ini. Sepenggal kisah yang barangkali tak akan aku lupa hingga cerita kehidupanku telah kunikmati seluruhnya.

Sepenggal cerita yang tak manis, ku rasa tak juga indah. Hanya sepenggal kisah, tak lebih dari itu ku harap. Aku tak suka lagi membahas semua itu terlalu dalam, tapi bagiku pelajaran berharga bisa dipetik bahkan dari sebuah cerita yang berjudul kesalahan.

Aku sudah melupakan semua itu. Tepat sebulan sejak kau memutuskan untuk benar-benar pergi. Aku telah membujuk hatiku agar tetap berdiri tegar. Tetap berdiri tegak mandiri. Memahami bahwa keputusanmu memang jalan bagiku. Aku telah mengorbankan hari-hariku dan memaksa jiwa ini untuk ikhalas atas apa yang digariskan-Nya. Sungguh itu bukan pekerjaan mudah. Berhari-hari aku membujuk agar hati ini tenang. Berhari-hari pula aku menutup telinga atas jeritan hati yang kadang terdengar begitu pilu. Hal yang berat yang kufikirkan saat itu adalah 'harus sampai kapan?'.

Tapi bagiku kini semua itu bukan lagi hal penting yang patut ku ratapi. Hanya saja sampai detik ini ada satu hal yang terus mengganggu dan mengusik fikiranku sebagai seorang yang ditinggalkan.

Advertisement

Tak dapatkah engkau berpamitan sebelum akhirnya benar-benar pergi? Tak bisakah engkau datang dan menyelesaikan semua secara dewasa?

Bukankah sesuatu yang di awali dengan baik juga seharusnya diakhiri dengan baik-baik? Pergi dengan hanya menganggap semua selesai dengan pembicaraan via telepon ku rasa bukanlah ciri seorang lelaki pemberani.

Jika kau dulu sempat merasa sombong dengan wanita baru pilihanmu, mengapa sekarang kau harus pergi berlari dan menghindar seperti itu ketika mengetahui aku telah bersama yang lain? Apa semua itu karena kini kau tahu bagaimana sebenarnya wanita itu?

Lantas apa masih pantas jika saat ini kau ingin kembali sedangkan dulu kau pergi bahkan tanpa berpamitan kepadaku?

Jangan menghindar seperti itu, bung! Kita sudah terlalu dewasa untuk melakoni sifat kekanak-kanakan seperti itu. Kita tetap bisa menjadi teman tanpa harus membawa-bawa perasaan yang sudah usai, bukan? Tak ada yang perlu dicemaskan, aku telah memaafkanmu, bung! Namun memaafkan bukan berarti melupakan. Aku percaya, janji Allah itu pasti. Biarkan janji-Nya yang berbicara.

Fikirkan lah bahwa kita adalah makhluk dewasa yang harus dapat menjalani semua juga secara dewasa. Mendewasalah, bung ! Siap, tidak siap, hadapi!