Bukan hanya kebahagiaan, sakit hati sepertinya sudah menjadi pelengkap dalam kehidupan. Pelengkap agar kita dapat merasakan hidup yang sesungguhnya. Sakit hati karena ditinggal pacar, perkataan teman yang kurang enak, dibohongi, atau mendapat perlakuan yang tidak baik – dibedakan?

Ini adalah kisahku. Aku dilahirkan oleh orang tuaku, tapi aku tidak tinggal bersamanya, tidak diakui sebagai cucu, hingga aku harus ikut dengan orang lain. Pernah ada yang mengatakan bahwa bahagia itu memiliki banyak harta dan uang. Ada yang mengatakan, bahagia itu menjadi orang sukses. Ada pula, bahagia itu adalah bekerja sesuai dengan impiannya. Namun, ada satu hal yang sangat sederhana bahwa bahagia itu adalah berkumpul bersama keluarga.

Aku anak broken home – bahkan saat aku masih bayi. Dari aku mulai duduk di sekolah dasar, aku sudah mengalami perlakuan tidak baik dari teman-teman. Berbagai macam celoteh negatif sudah ku dengar dan ku terima – bahkan sejak aku duduk di bangku kelas 2. Ada temanku yang mengatakan bahwa ibuku seorang pelacur. Ada pula yang mengatakan, saat aku besar nanti, aku akan seperti ibuku, aku anak haram, anak tidak punya orang tua, dan celoteh-celoteh negatif yang lainnya. Jujur, aku sedih dan malu saat itu. Aku mencoba untuk selalu kebal dan tegar menghadapi keadaan ini – bahkan untuk hari-hari berikutnya saat aku besar nanti.

Eh, kamu anak haram ya?

Kamu besok besar ‘kan kaya mamahmu, jadi pelacur.

Advertisement

Tidak banyak yang dapat kulakukan. Ingin rasanya aku mengadu ke orang tuaku, tapi hal itu tidak mungkin karena kami tinggal terpisah. Aku hanya mengadu ke orang tua angkatku mengenai keadaan itu dan itu cukup menenangkanku. Begitu mulia orang tua angkatku yang dengan tulus berkenan untuk menaruh tanggung jawab penuh atas hidupku. Segala keperluan dan keinginanku, mereka tanggung tanpa memperhitungkan untung dan ruginya.

Mungkin kami bukan orang tua kandungmu, tapi kami sudah mengangkatmu menjadi anak.

Itu adalah kalimat indah yang pernah saya dengar. Aku seorang anak perempuan yang sejak bayi tidak pernah merasakan dekapan dari ibu seorang ibu dan ayah, akhirnya mendapatkan kasih sayang dari orang lain yang mengangkatnya sebagai anak. Aku dididik selayaknya aku ini murni anak mereka. Membimbingku dalam setiap langkah. Mengajarkanku banyak hal mengenai kehidupan yang mungkin tidak aku dapatkan dari orang tuaku. Jasa mereka sungguh besar – bahkan jika dikatakan, setara dengan jasa para orang tua pada umumnya.

Kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk kami. Kamu adalah berkat bagi kami.

Kata-kata itu akan selalu aku ingat di sepanjang hidupku. Betapa tulus dan bahagianya mereka memiliki aku. Aku tidak akan mengecewakan mereka.

Kami juga tidak serakah. Manusia yang berperan sebagai orang tua, sudah selayaknya memberikan arahan yang benar.

Usia 6 tahun adalah saat di mana aku mendengar pernyataan bahwa aku bukan anak kandung dari mereka yang mengasuhku selama ini. Mereka menceritakan keadaan yang sebenarnya dengan singkat. Saat hari ulang tahunku, mereka menunjukkan siapa orang tua kandungku. Dengan nada lembut, ibu angkatku mengatakan sambil menunjuk ke arah depan bahwa itu adalah ibu dan ayah, serta adik-adikku. Orang tua angkat mengatakan bahwa kami tidak serakah. Kami bukan orang jahat yang membiarkanmu untuk tidak mengenal orang tua dan adik-adikmu.

Suatu saat nanti, kamu akan mengetahui semuanya. Bersabarlah dan tetap menjadi anak yang tegar.

Bersyukur adalah salah satu caramu untuk mensyukuri kehidupanmu ini. Tidak selamanya masa kelammu akan menjadi pertanda buruk untuk masa depanmu.

Mereka yang berperan sebagai orang tua angkatku selalu mengajarkan mengenai bersyukur atas segala hal yang telah terjadi. Baik itu untuk peristiwa baik atau yang buruk. Peristiwa baik mengajarkan kita untuk terus berusaha agar bisa menjadi lebih baik. Peristiwa buruk, mengajarkan kita bukan untuk patah arang, melainkan agar kita tetap berusaha untuk mencapai yang terbaik. Tentu saja, semuanya itu perlu adanya rasa syukur dalam diri kita. Karena dengan bersyukur, kita akan dapat menikamati hidup kita sebagaimana adanya.

Pada akhirnya, semua kembali pada diri kita masing-masing sebagai manusia. Setiap manusia yang mengalami masalah, pasti akan ada jalan keluarnya. Ada manusia yang merasa putus asa karena keadaan hidupnya, ada pula yang merasa tertantang untuk menjadi lebih baik karena keadaannya. Tuhan tidak pernah menutup telinga, mata, tangan, dan hatinya bagi kita. Bersyukur adalah kunci agar kita dapat menjalani kehidupan kita dengan ikhlas.

Terima kasih orang tua angkatku. Kalian sungguh hebat.