Kita berada di posisi yang berseberangan, dipisahkan oleh sebuah dinding tebal. Hanya surat berbentuk pesawat terbang setiap waktu melintasi dinding tebal tersebut. Aku selalu menunggu dengan antusias surat berbentuk pesawat terbang itu terbang mendarat perlahan di sisi dinding di mana aku berdiri.

Kita sadar, ini bentuk kecurangan, tetapi kekonyolan itu memenangi pertempuran dengan akal sehat dan mengambil alih dalam bersikap. Percayalah, tiap kali surat berbentuk pesawat terbang itu sampai di hadapanku dan membaca isi pesan yang ada di dalamnya, selalu ada senyum kecut serta memaksa hati untuk berbicara, “Ah, andai saja aku datang lebih cepat sebelum dinding ini tegak berdiri”.

Ada cinta yang mengamuk di dada ini tetapi seperti yang pernah aku terangkan sebelumnya, aku bukan tipe orang yang senang melakukan vandalisme. Aku sangat tidak mungkin mengambil palu gada dan menghujamkan ke dinding itu berkali-kali hingga hancur berkeping-keping, lalu puas karena tidak ada yang memisahkan kita berdua lagi, jangan pernah berpikir seperti itu, karena aku tak sekampungan itu.

Kita memang sering berfantasi bagaimana bila dinding ini tidak berdiri memisahkan kita. Tapi kita harus paksa agar fantasi itu tidak selalu muncul, dinding itu sudah tertanam jauh sebelum pertama kali aku melemparkan surat berbentuk pesawat terbang ini.

Entah sampai kapan perasaan yang ada di hati ini akan terus ada. Mungkin saja dalam hitungan hari kedepan, akan memudar dengan sendirinya. Dan ketika hari itu tiba, percayalah, sewaktu-waktu aku akan berdiri, di mana posisi aku berdiri pada saat ini, sambil melempar surat berbentuk pesawat terbang terakhir kalinya bertuliskan pesan, “Waktu itu seru ya?”.