Jadi orang dewasa itu ternyata tidak menyenangkan yah? Mau melakukan sesuatu sekalipun itu benar dan baik mesti dipertimbangkan dulu. Saya sampai curiga jangan-jangan saat ‘pelantikan’ untuk jadi dewasa masing-masing kita diberi timbangan.

Menjadi dewasa berarti juga harus pandai menyembunyikan banyak hal, itu mungkin alasan mengapa mereka selalu mencari ruang-ruang privasi sebagai tempat persembunyiannya. Dan karena mereka banyak menyembunyikan, mereka juga banyak berbohong. Apalagi kalau bukan demi menjaga apa yang mereka sembunyikan. Meskipun mereka tahu kalau berbohong itu dosa, ada-ada saja alasannya untuk membenarkan kelakuan mereka. Argumen yang paling sering mereka gunakan garing sekali, contohnya ‘Berbohong demi kebaikan itu nggak apa-apa’ atau ‘Ini demi kebaikan semua orang’.

Orang dewasa juga punya kebiasaan buruk yakni ‘memberi nilai’ pada segala gerak-gerik dan perbuatan sesamanya. Itu mungkin kegunaan lain dari timbangan mereka. Saya ngeri. Orang-orang dewasa itu dengan timbangan-timbangannya bertingkah seperti Tuhan di dunia. Bukankah pekerjaan timbang-menimbang adalah pekerjaan Tuhan? Ah, tiba-tiba saya jadi rindu pada kehidupan kanak-kanak, dunia tanpa bobot, tanpa pretensi, tanpa pekerjaan timbang-menimbang.

Menjadi dewasa berarti juga menjadi sibuk. Sibuk mengejar banyak hal yang nantinya bakal hilang juga. Perhatikanlah ketika mereka bangun di pagi hari, hal pertama yang mereka pikirkan adalah mereka harus bekerja. Mereka tergesa-gesa menuju kantor masing-masing, sibuk mengejar bus, berjibaku dengan simpang-siur jalanan sambil mengingat-ingat hari itu mereka ingin beli apa, ingin makan siang di mana. Saking sibuknya mereka sampai lupa hal-hal kecil. Mereka kadang-kadang lupa bersyukur. Mensyukuri nikmat hidup yang dianugerahkan Tuhan. Orang dewasa sering tidak sadar kalau hal kecil dan mudah seperti syukur itu ketika mereka lupa, mereka bisa kehilangan banyak hal.

Saya juga kadang-kadang sebal, ternyata ketika kita sudah dewasa itu berarti kita sudah tidak bebas lagi berteriak menyuarakan isi hati. Kita dibatasi ketakutan. Takut membuat orang-orang di sekitar kita terganggu akibat teriakan kita. Takut disangka gila sebab orang yang suka teriak-teriak identik dengan orang gila. Mereka lupa kalau gila yang dipendam-pendam jauh lebih menakutkan daripada gila yang ditampakkan.

Advertisement

Aduh! Sudahlah. Saya kok jadi terlalu banyak mengeluh−salah satu penyakit orang dewasa. Suka mengeluh−menjadi dewasa itu kan pilihan. Kata salah seorang teman saya, ‘siapa suruh jadi dewasa!’

Ya nggak apalah daripada terus-terusan jadi kanak-kanak mending jadi dewasa. Orang dewasa yang senantiasa bersyukur.