Di antara mereka yang baru, ada satu yang lama. Di antara mereka yang kusapu rata, ada satu yang menonjol keluar. Berbeda. Di antara mereka yang bermata sipit, ada satu yang tak punya mata. Dan di antara mereka yang kujajaki, ada kamu tempat aku kembali.

Malam ini aku baru menyelesaikan satu novel yang kubeli di Kapal Buku beberapa waktu yang lalu. Judulnya Dilan. Dia adalah Dilanku tahun 1990. Dan kamu adalah Anginku tahun 2012.

Ini bukan pertama kalinya aku menghabiskan satu novel dalam sekali duduk. Dulu, waktu masih di SMA, aku pernah melakukan hal yang sama. Mahoganny Hills, terbitan Kapal Buku. Bedanya waktu itu di setiap bab aku menangis, dan saat membaca Dilan aku tertawa. Hanya pada bagian akhir saja aku menangis, karena teringat padamu. Ya, aku (sudah) melupakanmu selama kegiatan OSPEK kemarin. Maafkan. Entah bagian mana yang harus dimaafkan.

Dilan banyak mengajariku tentang hidup. Bahwa sesuatu yang kau lakukan berdasarkan tujuan yang baik, maka Tuhan akan menyertai orang-orang baik bersamamu. Dilan bukan pria tampan, Angin. Tapi cara dia memperlakukan wanita yang ia cintai teramat berbeda dengan kawan-kawannya. Kuharap kau pun melakukan hal yang sama. Tapi bukan berarti aku ingin kau menjadi persis seperti Dilan. Jadilah dirimu sendiri, Angin. Layaknya angin pada umumnya. Karena itulah aku memanggilmu Angin.

Mahoganny Hills juga membuka mataku tentang satu hal; Jodoh. Sekuat apa pun kau berusaha mendapatkannya, jika dia bukanlah nama yang tertulis untukmu, maka selamanya dia tak pernah menjadi milikmu. Namun, sekeras apa pun kau mencoba untuk menolaknya dari kehidupanmu, jika dia adalah orang yang menjadi pendamping hidupmu, maka selamanya dia akan berada di sisimu.

Advertisement

Angin, berhembuslah sejauh mungkin. Sejauh yang kau inginkan, dan sejauh takdir membawamu. Karena bila kau adalah apa yang mereka sebut jodoh, maka kau akan berhenti di pelaminan bersamaku untuk kemudian berhembus bersama. Namun jika kau tak pernah kembali hingga aku berdiri di pelaminan bersama orang lain, maka saat itulah aku tahu bahwa kebahagiaan kita adalah saat kita tak berjalan bersama.

Jangan pernah takut untuk meninggalkan tempat yang telah kau kunjungi, Angin. Sewaktu-waktu kau bisa kembali berkujung, tapi tidak untuk menetap lama. Sekadar mengenang masa lalu. Karena sejatinya, semua tempat yang kau kunjungi lambat laun hanya akan jadi pelengkap cerita hidupmu. Teruslah berhembus.

Temukan tempat baru, perasaan baru, dan pengalaman baru. Jika kau pun telah menemukan ‘aku’ yang baru, jangan pernah kembali ke ‘aku’ yang lama. Tetaplah berada di sisinya, dan katakan padanya, “Sigaranging nyawane inyong yo kowe.

Kontak penulis @Wiika_Wulandari