Kontes menulis Hipwee #SiMbahkuKeren kali ini benar-benar mengajakku untuk bernostalgia, mengingat memori lamaku bersamanya. Bersama dengan orangtua dari orangtuaku, yang jelas memiliki rentang umur lebih banyak dariku. Aku menyebut mereka mbah kakung dan nyai. Iya, sebutan itu merupakan panggilan kesayangan seorang cucu kepada kakek dan neneknya di pulau Jawa. Kali ini, aku akan membahas almarhum mbah kakungku yang lebih sering aku panggil dengan sebutan mbah Muk (karena namanya Mukmin).

Mbah Mukmin tinggal serumah denganku dan kedua orangtuaku. Ketika itu beliaulah yang menjadi kepala keluarga dirumah ini, mengingat beliaulah yang paling tua dan segala sesuatu tentang keputusannya yang menjadi prioritas seluruh anggota keluarga. Didalam keluarga ini beliaulah yang memiliki sifat paling keras, hingga terkadang aku membencinya karena sifat kerasnya yang keterlaluan.

Kesalahan kecil yang aku perbuat, disikapinya dengan sangat serius. Tak jarang aku bercekcok dengan mbah kakungku yang satu ini. Mengingat itu membuatku sedih, karena aku merasa telah durhaka kepada mbah kakungku yang satu ini.

Dulu ketika aku masih duduk di bangku MA (sederajat dengan SMA), aku mengikuti beberapa macam organisasi di sekolah. Sekolah dan mengurus organisasi, memang banyak meyita waktuku. Hingga aku sering pulang malam karena hal tersebut. Ketika itu aku berangkat dan pulang sekolah dengan diantar-jemput oleh Bapak. Sesampainya dirumah, aku langsung disambut oleh amarah dari kakekku. “Mengapa pulang hingga malam begini? Padahal anak sekolah lainnya maksimal pulang sore.” Aku sudah lelah, dan sampai dirumah malah disuguhi hal yang demikian. Hal itu benar-benar membuatku kesal. Aku tak menggubris perkataan mbah Muk sedikit pun, lantas masuk kekamar dan tidur.

Kini, setelah beliau tiada. Aku baru menyadari bahwa hal yang dilakukannya adalah suatu bentuk kekhawatirannya terhadapku. Ketika itu statusku masih pelajar di salah satu Madrasah Aliyah. Beliau hanya tidak ingin aku kelelahan dalam menempuh studi.

Advertisement

Meskipun beliau tampak begitu keras, terkadang sifat lembutnya pun muncul. Kala itu aku sedang sakit tipus, dan aku hanya bisa terbaring diatas tempat-tidur tanpa melakukan hal apa pun. Mbah Muk yang sudah sangat tua, berjalan perlahan menuju kamarku, lalu mendatangiku yang pura-pura tertidur diatas kasur. Tangan kasarnya menyentuh dahiku, lalu berkata “sudah tidak panas” (dengan logat Jawa). Duduk di bibir tempat tidur, menemaniku sebentar dengan melihat raut wajahku kala itu. Lalu, perlahan berjalan pergi, keluar dari kamarku. Dari situ aku benar-benar merasakan perasaannya yang dalam terhadapku. Rasa sayang seorang kakek kepada cucunya. Aku benar-benar merindukan momen itu, momen dimana Mbah Muk membesukku ketika aku sakit.

Mbah Muk pergi meninggalkan dunia ini ketika aku masih duduk di bangku kelas 11 (2 MA). Detik itu juga aku benar-benar merasa kehilangan. Aku menyesal atas segala tindakanku yang kurang baik terhadapnya selama beliau masih bernyawa. Aku menyesal karena sempat membencinya.

Kalau diingat-ingat, beliau itu orang yang baik. Tiap hari memberiku uang saku ketika aku akan berangkat sekolah, orang yang menemaniku dirumah ketika Bapak dan Ibu sedang ada acara diluar rumah, dan beliau merupakan salah satu teman mainku kala aku kecil.

Aku sadar, seluruh sifat kerasnya terhadapku, seluruh amarah tidak jelas yang dilontarkan kepadaku merupakan salah satu bentuk kepedulinya terhadapku. Kalau aku bisa memutar waktu, aku ingin menemuinya dan meminta maaf atas segala tindakanku yang kurang sopan. Aku ingin beliau kembali. Bahkan aku rela, jika tiap hari dimarahin terus. Aku baru sadar, bahwa aku sangat menyayanginya. Tapi, nyatanya aku bukan Doraemon yang memiliki mesin waktu. Yang bisa dengan gampangnya kembali ke masa lalu. Aku yakin dan percaya, bahwa di suatu tempat indah disana, beliau sedang melihatku dengan senyuman.

Aku disini, akan terus brjuang menjadi cucu kecilnya yang sukses. Akan kutunjukkan semua hal hebat yang bisa aku lakukan, agar beliau disana bangga. Jika bukan karena sifat kerasnya, mungkin aku tidak memiliki memori indah seperti ini.