Rembulan itu memancarkan sinar sangat indah, hingga terangnya membuat setiap mata ingin memandangnya. Tak terasa ratusan rembulan sudah ku lewati dan hingga saat ini jawaban tak juga datang. Entah bagaimana bisa hati yang beku tiba-tiba luluh hanya dengan pandangan pertama. Nampaknya ini agak sulit, namun tidak bagiku, karena keyakinanku akan membuat segalanya menjadi indah, pertanyaan yang sering kali muncul dalam doaku setiap malam "Bagaimana kabarnya disana?, apa dia juga memikirkanku?", nampaknya pertanyaan itu selalu membuatku bimbang hingga pada akhirnya aku harus menunggu tanpa waktu yang tak pasti. Ya, mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta diam-diam atau bisa dikatakan menganggumi diam-diam.

Aku tak pernah menyangka awal pertemuan itu membuatku tak bisa lupa wajahnya, tutur katanya hingga saat ini. Apa ini yang dinamakan cinta?, atau hanya rasa kagum semata?. Pertanyaan itu lagi-lagi muncul entah sudah berapa kali kutanyakan dalam hati dengan pertanyaan yang sama. Tuhan selalu punya rencana indah, dan aku sangat percaya akan hal itu. Rembulan itu sangat jauh hingga pada akhirnya aku pun sangat sulit untuk menggapainya. Hingga pada suatu hari, rembulan itu datang namun datangnya tak lama hanya sekilas. Percakapan pun dimulai semenjak 3 bulan tak ada kabar. Rasa-rasanya saat itu hatiku berdegub kencang karena rasa senangku yang sesekali muncul hingga ke permukaan. Biarkan hati yang memainkan perasaan ini, perasaan yang kututupi hingga tak terlihat, perasaan yang tidak bisa ditebak karena datangnya tak pernah diundang, perasaan yang selalu menghantui saat tak dapat kabar darinya, walaupun kabar itu kudapatkan dari sosial media miliknya.

Sekali lagi, aku tak pernah menyangka jika pertemuan pertama membuatku harus menyadari bahwa hingga saat ini hanya dia yang ada di hati, hanya dia yang membuat hatiku merasa bahagia. Walaupun boleh ku katakan aku hanya bertemu dia dalam setiap mimpiku di malam hari, tidak setiap hari. Namun dikala perasaan rindu itu datang, aku berdoa kepada Tuhan agar pertemukanlah dia dalam mimpiku karena aku merasa sulit bagiku untuk mengatakan yang sebenarnya. Mungkin itu dikarenakan aku tak ingin membuat hubungan persahabatan kami menjadi renggang, jika dia tau yang sebenarnya. Bahkan untuk melihatnya saja aku tak mampu. Dalam salah satu catatanku aku menulis rembulan itu :

Bila jarak membuat kita terhalang

Bila waktu membuat kita berfikir lebih lama

Advertisement

Bila rasa tak kunjung berbalas

Akankah aku akan menatap rembulan kembali ?

Mungkin saja aku akan diam atau aku harus merelakan rembulan indah itu

Namun, satu keyakinan yang tak pernah lepas dalam benakku

Bila kita ditakdirkan Tuhan untuk bersama

Aku yakin kita akan bertemu di waktu yang tepat dan saat yang tepat

Kejarlah cita-cita kita masing-masing dahulu

Hingga nantinya Tuhan menyatukan kita dalam ikatan yang halal

Terkadang keyakinan membuat kita kuat menghadapi segala tantangan yang ada, bahkan aku pun menyadari hal itu. Hingga saat hujan itu tiba, aku berharap hujan akan membasahi rasa yang selama ini kupendam hingga hadirnya memberikan kesejukan. Rasanya, jarak dan perasaan rindu yang mendalam membuatku terkadang merasakan benci, namun rasa benciku tidak mampu kutanam lama karena terhalang oleh rasa cintaku terhadapnya. Sesekali hujan itu datang lagi dan memberikan kesejukan bagi yang merasakannya. Bila hujan datang, lantunan lagu rindu ku nyanyikan hingga malam tiba, rembulan itu terlihat jelas dan sinarnya indah sekali membuat aku ingin memandangnya.

Bila memang rasaku ini terlalu jauh kepadanya, ada baiknya aku bersabar dan serahkan semuanya kepada Tuhan, karena Tuhan selalu punya rencana indah nantinya. Keyakinanku lah yang akan menjawab semuanya, hingga pada suatu hari kau dan aku akan menjadi kita dalam ikatan yang diridhoi oleh Tuhan.