Saat diri ini jatuh cinta, dengan sejuta rasa dan ekspektasi tentang keindahan cinta, justru itu semua membuatku lupa. Sebenarnya aku ini siapa? Aku yang terlahir sebagai manusia dengan dua kutub berbeda yang tertanam dalam satu raga dan jiwa, selalu saja ingin memenuhi kriteria dan standart penilaian manusia yang aku cinta. Bagiku, hal ini adalah sesuatu yang aku anggap biasa dalam menjalani kisah cinta anak manusia.

Memenuhi penilaian standar manusia, apalagi yang kita cinta, tentu butuh pengorbanan yang sungguh bukan hanya sekedar kata-kata indah dalam cinta. Lebih dari itu semua, aku rela melakukan apa saja untuknya. Mulai dari hal yang sederhana bahkan sesuatu yang tak pernah aku duga. Karena memang, dia yang aku cinta adalah sosok yang sempurna diantara seribu wanita yang pernah singgah dalam kehidupan cintaku yang nyata. Walaupun pada kenyataanya, dia yang aku cinta bukanlah cintaku yang pertama, cinta untuk yang kesekian kalinya, namun sungguh yang teristimewa.

Jujur, aku yang dekil, yang selalu menampilkan sosok apa adanya. Harus berubah dan bisa melakukan banyak hal untuknya, hanya untuk sebuah kata "pantas", untuk bersamanya. Menata diri dengan memperbaiki kondisi fisikku yang kurus kerempeng dengan membiasakan diri ke gym untuk bisa membuat otot-ototku layaknya superman. Mengatur pola makan seperti gaya makan orang Medeteranian, bahkan menjadi vegetarian agar aroma tubuh seperti Veromon yang bisa menarik perhatian.

Bukan hanya itu saja yang aku lakukan. Aku selalu datang dan pulang ke kota tetangga untuk sebuah alasan. Mengunjungi dokter ahli demi sebuah perawatan wajah agar bak aktor tampan yang bisa bikin wanita tak bisa mengatupkan bibir saat bertatapan. Bahkan aku juga rela menempuh jalan setan hanya demi memantaskan diri dan membuatnya bahagia. Mengesampingkan jalan tempuhku untuk bisa mendapatkan gelar pendidikan yang selama ini aku siapkan untuk masa depan, menggarong uang kuliah dan uang makan. Sampai dengan melakukan hal yang melanggar norma hanya demi sebuah cinta di dada yang ingin aku persembahkan untuknya.

Namun, pada kenyataannya. Setelah sekian lama aku berjuang dengan semua waktu, energi dan uang, hasilnya sungguh mengecewakan.Tak peduli, diriku yang menjelma menjadi sosok pria yang terus tampil kekinian dengan otot yang kekar dan aroma tubuh yang memikat penciuman.Ternyata, ekspektasi yang selama ini melekat dalam benak pikiranku tentang sebuah pencapaian dari perjuangan untuk bisa di anggap layak saat bersamanya justru bertolak belakang dari kenyataan yang aku harapkan dalam angan. Karena semua yang telah aku perjuangkan tidak menjadi standar penilaian yang layak baginya.

Advertisement

Baginya,standar kepantasan adalah memenuhi semua keinginannya, tak perduli jalan apa yang harus ditempuh. Selama semua keinginannya terpenuhi, dia selalu menganggap diriku pantas untuknya.

Kecewa. Jangan ditanya seberapa besar kecewa yang aku rasa. Kecewa sudah pasti menggerogoti hati ini sampai aku tak sanggup harus berkata apa tentang rasa kecewa ini.

Sedih? Hal yang sudah nggak bisa aku tutupi dan aku pungkiri. Tangisanku ini deras bak hujan turun dari langit bersama badai yang sedang membasahi bumi selalu menjadi bagian dari hari hariku yang sungguh terasa sulit menerima kenyataan pahitnya sakit hati. Dan tentu saja, perasaan ingin mati pun ada dalam perjalanan kisah cintaku ini. Karena saat diri ini berusaha berjuang memantaskan diri dengan standar penilaian sang kekasih hati, akhirnya hanya menjadi sebuah serpihan debu yang tak berarti saat standar penilaiannya tentang memantaskan diri berubah seiring berjalannya waktu .

Namun di saat itu, aku disadarkan pada suatu peristiwa yang begitu nyata terlihat di depan mata. Saat langit meneteskan berjuta kubik ton air yang menyirami bumi.Ternyata memberikan sejuta manfaat kepada banyak kehidupan yang terus tumbuh dibumi. Bahkan tidak hanya itu, di saat yang sama setelah sebagian air tertumpahkan, muncullah sang pelangi dengan ragam warna yang memberikan keindahan tersendiri kepada semua mahluk bumi.

Walaupun tak selalu ada pelangi

sesaat setelah langit menangis

tapi yakinlah, bahwa tangisan langitpun

memberikan keindahan dan kesegaran

bagi semua mahluk bumi

Sungguh, semua itu memberiku pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana cara kita memantaskan diri.Hal yang aku sadari adalah memantaskan diri sejatinya bertujuan hanya untuk Sang Ilahi. Tentu sudah pasti dan tak bisa berubah serta ditawar tawar lagi bahwa standar memantaskan diri dari Sang Ilahi untuk kehidupan saat ini, esok dan nanti sudah pasti dan takkan mengalami perubahan dan akan selalu memberikan kebaikan bagi semua orang.

Berbeda dengan standar memantaskan diri untuk sang kekasih hati yang menenggelamkanku dalam keterpurukan. Jika kini standarnya seperti bumi, maka entah esok lusa atau nanti bisa saja berubah seperti langit atau bahkan bisa berubah seperti hal yang lainnya yang menurut pemikirannya benar dan sah selama tak menyakiti diri sendirinya.

Karena pada akhirnya

Manusia hanya bisa berusaha

memantaskan diri untuk yang dicinta

hasilnya Tuhan yang menentukan

bisa bersama atau berakhir derita

dengan sejuta pelajaran yang berharga

Jadi, ini mungkin bisa jadi pelajaran juga untukmu yang membaca kisah ini. Bahwa standar memantaskan diri setiap manusia berbeda. Bahkan pada satu manusia saja, standar memantaskan diri bisa berubah kapan saja dan dimana saja sesuai dengan apa yang ada di dalam benak sang manusia yang di pengaruhi oleh banyak faktor yang menjadi pendukung berubahnya sebuah standar penilaian tentang memantaskan diri.

Cukupkanlah dirimu memantaskan diri sesuai taste-mu sendiri. Jika orang lain ingin dirimu berubah, maka katakanlah bahwa inilah standarku memantaskan diri. Jika kamu tak suka, enyahlah.

Memantaskan diri

bukan tentang standar penilaian mereka

Memantaskan diri

adalah standar tentang kemajuan diri

kemajuan diri dari semua sisi

untuk kemanfaatan diri & umat manusia di dunia ini