“Sesungguhnya, nikmat dari bepergian sendirian adalah semua risiko ditanggung sendiri. Tidak ada ruang untuk berkeluh kesah. Sesungguhnya”. Pasti paham gimana romantisnya calo-calo di terminal yang ada di Bali maupun di Kota Mataram, Lombok.

Malam ini gue mau sedikit berbagi cerita sebentar saja, bukan tentang malam, tentang senja atau tentang dia. Ijinkan. Jadi nggak ada angin, nggak ada hujan, adanya cuma kopi sama beberapa batang rokok. “Eh berarti ada pasangannya dong”, nggak juga deng. Waktu itu, entah setan apa yang merasuki ke palung pikiran gue, gue mau-maunya nge-gawein (re: ribetin) badan gue. Why? Kenapa? Ya, benar sekali sodara. Gue mau-maunya backpacker-an, bahasa gaulnya, kalau bahasa emak-emak rumpi mah orang kere tapi maksa buat jalan-jalan. Gitu.

“Oke fix tahun ini gue musti, harus, wajib backpacker-an yang jauh”. Seenggaknya itu yang ada di pikiran (nunjuk dengkul) gue. Setelah beberapa jam backpacker-an di Google, akhirnya Lombok menjadi persinggahan pertama gue. Niat awal sih pertamanya mau ke Jateng atau Jatim, abisnya di sana asik sih, ada gunung, ada pantai, terus ada motor, mobil, kereta, sepeda, dedek gemes kurang bahan juga ada hehe. Lengkap deh pokoknya. Argh jadi kangen backpacker-an lagi. Akhirnya gue batalin karena beberapa hal, terutama adalah peta Pulau Lombok yang begitu berkilau di Google Map.

Sesudah mendapatkan destinasi yang cihuy abis, pertanyaannya adalah gue ke sana sama siapa? Sama temen? Ribet deh yang ada malah wacana doang, sama pacar? Pacar siapa? Hah? Kamu ngeledek? Sama mantan? Yakin? Yang ada malah berhenti ditengah jalan. Eehhh. Maaf.

Dari jauh-jauh hari sekitar 2 bulan sebelum keberangkatan, gue coba buat kumpulin duit. Mulai dari ngampus buat ngejajanin motor doang, dari jual barang yang udah ga kepake lagi (re: mantan) bercanda deh hehe. Setelah kekumpul sedikit, langsung buat gue beli tiket tujuan Jakarta-Banyuwangi. Hal ini gue lakuin karena buat meyakinkan diri gue sendiri, jadi kalau misalnya buka dompet dan ada tiket kereta, langsung ada peri yang ngomong, “Nak ingat nak, katanya mau jalan-jalan, jangan makan terus”, gitu. Akhirnya gue kurus kering. Jadi itu alasannya gue kurus kering. Bukan karena nggak bahagia. Da kalian mah su’ujon terus sama aku.

Advertisement

Satu hari sebelum keberangkatan, packing. Terus tidur. Daaan… mana bisa gue tidur kalau besok gue mau jalan-jalan. Nanti kalau gue bangun kesiangan gimana. Kalau gue tiba-tiba diculik nenek lampir gimana, nanti kalo gebetan gue tiba-tiba nembak gue gimana. Jadi enak. Tiba-tiba tidur. Pagi-pagi buta gue udah kebangun langsung mandi, pas gue lihat jam ternyata baru jam 5 pagi. Rekor. Biasanya kalo ke kampus telat terus euy.

Sesampainya di Stasiun PSE nggak nunggu beberapa lama kereta langsung menuju Surabaya, tapi sebelumnya gue kasih tahu dulu, sebelum sampai Surabaya harus ngelewatin Bekasi-Kerawang-Cikampek-Cirebon, dll baru sampe Surabaya, kurang lebih 15 jam. Iya. LIMA BELAS JAM. Kalo kalian pikir gue bakal melakukan hal-hal gila karena gabut 15 jam? Jawabannya salah besar.

Gue pernah baca beberapa blog dan web yang udah yahut. Jadi enaknya Solo Backpacker itu. Selain denger lagu-lagu di list hp tanpa diganggu temen, lu bisa lebih mengerti keadaan sekitar, ngobrol banyak sama orang-orang. Nggak perlu tentang kamu, dan teman-temanmu, ini tentang kamu dan lingkunganmu. Ciiee pesan moral ciiee…

Awalnya ada satu keluarga, sepasang suami istri dan dua orang anaknya. Gue lihat ketawa, senyum, lepas banget nggak ada beban pikiran gitu. Dari sini gue mulai paham, “Kalau cinta adalah tentang kesederhanaan jika kamu sulit untuk diajak sederhana. Cinta saygoodbye”. Gitu".

Tanpa basa-basi gue lihat mereka bawa beberapa camilan, langsung gue sok-sok akrab gitu deh. Dan tanpa perasaan canggung, mereka langsung cerita tentang gimana pahit manisnya berkeluarga, gue inget betul quote of the day mereka pada waktu itu. Simple, tapi ngena.

“Sebenernya ya mas, bukan cuma mas yang mau backpacker-an.Kita juga. Backpacker-an sama keluarga kita. Rintangannya lebih berat lagi. Jadi mas ga sendirian”.

kata bapak-bapak berjanggut yang duduk di depan gue sambil gendong anaknya. Gue ketawa, mereka juga ketawa. Ah, sederhananya…

Gak kerasa ngobrol bareng mereka tiba-tiba kereta udah berhenti di Lempuyangan, Yogyakarta. Dulu, setelah lulus sekolah sempet ke Yogya juga sendirian. Bukan buat backpacker-an tapi daftar kuliah, yang akhirnya gue nggak ambil karena ada kendala.

Setelah kereta melaju ke Surabaya, baru mau play lagu, tiba-tiba ada bapak-bapak. Dua orang duduk di depan gue, di tempat keluarga yang super romantis tadi. Makasih ya pak camilannya.

“Bapak mau ke Surabaya juga?” tanya gue.

“Enggak, saya turun di Solo,” kata salah satu dari mereka.

Akhirnya, obrolan panjang gue di mulai, kali ini lebih berat lagi, tentang politik. Heeuuhh…

Eh btw terima kasih ya pak baksonya hehe, bapak baik banget deh.

Setelah melewati Solo, akhirnya bisa play lagu-lagu berengsek. Banda Neira, Float, Payung Teduh, 420, etc. Pukul 01.30 dini hari. Akhirnya tiba juga di Kota Surabaya. Seketika, langsung berasa jadi Super Hero dadakan. Eh, ini kan tengah malem… Gue tidur di mana? Karena sebelumnya harus transit di Surabaya sebelum ke Banyuwangi. Sebelumnya muter-muter dulu sekitaran stasiun, cari tempat ngopi, dan akhirnya ada angkringan pas setelah keluar Stasiun Gubeng. Di sana ada beberapa supir taksi, langsung gue pesen kopi dan lagi-lagi harus sok akrab sama yang punya rumah.

Bukannya tidur malah ngobrol panjang lebar. Dan lagi-lagi gue dapet quote of the day. Kurang lebih gini…

“Lu nggak usah takut di sini. Surabaya asik kok".

"Kalo kenapa-kenapa bilang aja gue. Tuh rumah gue deket situ," sambil nunjuk ke salah satu gang.

kata bapak-bapak pemilik perut buncit, yang tidak punya rasa kasihan terhadap kancing baju kemejanya. Gue ketawa. Logatnya Jawa tapi ngomongnya gue-elu. Maksakeun pisan bapak iiihh.

Matahari pagi mulai menyerebak di balik rumah-rumah dan matapun belum ngantuk. Karena kereta yang gue naiki ke Banyuwangi baru ada jam 2 siang. Akhirnya gue muter-muter dulu di sekitaran stasiun. Ke museum kapal selam doang sih, terus ya sarapan dan beli kopi. Ya, jangan berharap makan enak… Iriitt bor…

Akhirnya sampai pada titik lelah, sekitar pukul jam 8 pagi rebah sudah raga ini, di sekitar Stasiun Pasar Gubeng. Melupakan sejenak, tidur di keramaian stasiun tidak pedulikan siapapun. Nikmatnya waktu itu. Selalu berhasil bikin nyandu…

Dan, Terima kasih Surabaya. Lingkunganmu, penghunimu, dan setiap perbincangan kita waktu itu. Mana bisa aku melupakan. Mustahil.

*Bagian 2 bakal gue tulis di blog gue, kopiempatsore.wordpress.com 🙂