Dalam kurun waktu dekat ini banyak kita temui guru, wali murid, dan siswa yang sering memamerkan barang-barang bermerek di lingkungan sekolah. Bahkan mereka sering menggerombol atau mengelompok membentuk kelompok arisan sekaligus kelompok sosialita. Bagi mereka yang memiliki latar belakang ekonomi menengah kebawah namun ia merasa gengsi jika tidak mengikuti kelompok sosial tersebut memilih untuk bergabung dengan kelompok arisan tersebut. Akan tetapi ada juga yang memilih untuk tidak bergabung dengan kelompok sosialita tersebut.

Menurut saya, kelompok sosialita dilingkup sekolah sangat tidak baik, sebab banyak kerugian-kerugian yang kita dapatkan apabila kita mengikuti gaya hidup kelompok sosialita tersebut. Saya sering menemui wali murid-wali murid yang membentuk kelompok sosialita. Akan tetapi, mereka yang tingkat ekonominya menengah kebawah berfikir ulang untuk bergabung dengan kelompok sosialita. Mereka memikirkan akibat-akibat yang mereka hadapi apabila mengikuti gaya hidup kelompok tersebut.

Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan sosial diantara wali murid. Seperti contoh ketika mereka sedang menjemput anaknya saat pulang sekolah, anggota kelompok tersebut menggerombol sendiri. Bagi mereka yang tidak bergabung memilih menghindar dari kelompok itu, mereka merasa dikucilkan dalam pergaulan antar wali murid. Biasanya sosialita tersebut setelah mereka pulang dari menjemput anak-anaknya pulang sekolah, mereka menyempatkan diri untuk berkumpul. Mereka berkumpul di tempat makan atau di salah satu rumah wali murid secara bergiliran untuk membicarakan hal-hal apa saja yang sedang digemari oleh masyarakat terutama fashion, gudget, dll.

Kelompok sosialita sendiri memiliki kesan “sombong”. Mereka sering memamerka atau memakai barang-barang bermerek ketika sedang berkumpul atau mengikuti rapat wali murid. Pada saat itu dapat kita lihat kesenjangan sosial diantara wali murid.

Kesan kedua yang dimiliki kelompok sosialita ialah boros dan hedonisme (mementingkan hal-hal duniawi). Bagi mereka yang tidak kuat imannya banyak anggota-anggota sosialita yang terlilit hutang. Mereka tidak bisa menahan hasrat untuk berbelanja atau hasrat untuk memiliki barang-barang bermerek, agar mampu mengikuti gaya hidup anggota sosialita lainnya. Apabila mereka tidak mengikuti gaya hidup anggota lainnya mereka akan malu dan gengsi, di dalam kelompok sosialita tersebut terdapat persaingan antara anggota satu dengan yang lainnya.

Advertisement

Banyak kita temukan di lungkungan sekolah entah guru, wali murid, bahkan siswa yang sering menggunakan barang-barang bermerek disekolah. Adanya kelompok sosialita dilingkup sekolah menimbulkan kesenjangan sosial antara warga sekolah. Alangkah lebih baiknya kita hidup apa adanya tanpa memperdulikan gengsi.