Beberapa hari sebelum Minggu 21 Februari 2016, grup WhatsApp yang berisi teman-teman semasa kuliah ramai. Topik pembicaraan kali ini liburan. Sebenarnya, tidak sekali-dua kali grup WhatsApp ramai pembicaraan tentang liburan. Hanya saja, rencana sering tidak terlaksana karena berbagai alasan.

"Besok minggu pantai yok?" lontar seorang teman.

"Renang di Wediombo!" jawab yang lain.

"Kalau Greweng gimana, dekat kok dari Wediombo," celetuk yang lainnya lagi.

Alhasil, berkumpulah 5 orang saja di kontrakan salah satu teman. Oh iya, masih ada satu teman cewek yang akan ikut menyusul, jadi total kami sebanyak 6 orang liburan menuju pantai Greweng.

Advertisement

"Setelah ladang ada pertigaan, kalian belok kiri. Lewat sungai lalu belok kanan. Nanti ikuti jalan setapak lewat ladang, naik bukit ikuti jalan setapak. Disitu pantainya," begitu kata kakek yang kami temui di parkiran motor.

Berbekal arahan itu, akhirnya kami mulai berjalan kaki menuju pantai Greweng. Akses pantai Greweng hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sekitar 1,5 kilometer dari parkiran motor terdekat. Awalnya ragu karena sepi dan jarak lumayan jauh. Hanya ada beberapa orang berpapasan dengan kami. Saat kami berada di puncak bukit, birunya air laut terlihat.

Menjadi gemuk dan kurang olahraga, lalu berjalan dibawah teriknya matahari membuat saya ingin cepat sampai pantai. Tubuh serasa limbung dan pandangan berkunang-kunang seperti akan pingsan. Melihat pantai sudah dekat adalah kebahagiaan untuk saya. Lelah berjalan akhirnya terobati.

Tidak bisa dipungkiri, pantai Greweng memiliki keindahan unik. Bukit karang mengapit pantai, sehingga membentuk cekungan. Pasir putih dan karang dangkal ditumbuhi rumput laut berisikan ikan-ikan kecil, kepompong serta bintang laut menjadi pelengkap alaminya pantai. Ditambah, tidak ada nelayan dan sedikitnya warung yang berada di pantai membuat pantai ini layaknya pantai pribadi.

Cukup lama kami menikmati indahnya pantai Greweng. Bercengkerama dan saling ejek khas obrolan teman akrab namun tetap santun. Puas berfoto dan bermain-main di pantai, kami bersiap balik ke parkiran motor. Kami sudah memutuskan destinasi selanjutnya adalah pantai Wediombo karena tertarik untuk berenang di laguna pantai.

"Eh, mampir pantai Sedahan yuk," sahut seorang teman.

"Ah, saya tunggu disini saja," jawab saya dengan nada malas untuk berjalan lagi.

Pantai Sedahan ini memang searah dengan pantai Greweng, lokasinya di timur pantai Greweng. Kali ini saya tidak sepakat dengan teman-teman dan memutuskan untuk menunggu, walau akhirnya saya berjalan sendiri menuju parkiran motor yang masih harus naik bukit, turun lagi, lewat ladang lagi, kepanasan lagi. Sepanjang perjalanan pulang, saya merasakan hawa tidak enak, saya berjalan lebih cepat karena takut, iya takut, padahal siang yang panasnya naudzubillah.

"Mari-mari dik mampir, isi air minum," teriak seorang kakek yang sedikit menyadarkan limbung saya.

"Iya pak," jawab saya.

Saya akhirnya mampir. Pasti akan lama dan membosankan jika menunggu teman-teman saya sendirian. Kakek yang memanggil saya ini bernama mbah Soro, sebelumnya saya sudah bertemu dijalan setapak menuju pantai. Saat itu mbah Soro akan mengambil air di sebuah mata air.

"Sudah lama mbah, menjaga parkir disini?" tanya saya basa-basi karena pasti jawabannya belum terlalu lama. Itu karena setahun lalu saya pernah lewat jalan depan parkiran namun belum ada gubuk parkir milik mbah Soro.

"Belum dik, baru setelah lebaran saya buka parkiran disini," jawab mbah Soro.

"Mbah, nanya, kok pantainya dinamakan pantai Greweng," tanya saya tiba-tiba yang entah karena kesambet apa.

"Ya itu karena ada tempat bertapa Nyi Roro Kidul dan Soekarno dulu," jawab mbah Soro.

Lah, jawabannya mbah Soro malah membingungkan saya. Apa hubungannya nama Greweng dengan pertapaan. Oh iya, di pantai Greweng memang ada sebuah goa pertapaan. Disekitar goa tersebut diberi tali pembatas agar tidak ada sembarang orang bisa masuk. Agak ngeri sih saat saya menengok ke dalam dari mulut goa. Ada rasa hawa aneh yang sama, seperti saat saya berjalan pada jalan setapak pantai Greweng.

Dahulu, Soekarno bertapa di dalam goa selama 7 hari 7 malam. Di dalam goa hanya terdapat meja dan kursi. Dengan pintu masuk yang hanya muat untuk orang dewasa yang jelas jangan gemuk seperti layaknya saya. Barangsiapa bisa masuk, kata mbah Soro berarti nyicil permintaannya akan terpenuhi karena tidak banyak orang yang bisa masuk ke dalam goa. Lah, saya mau masuk pun mikir, sudah sempit, penuh karang tajam pula.

"Dik, tadi tidak ambil kepiting di pasar gaib to?" tanya mbah Soro dengan nada serius.

"Pasar gaib mana mbah??" buset saya mulai agak deg-degan.

Menurut kisah mbah Soro, rimbunan pohon yang berada di jalan setapak sebelum mencapai pantai adalah pasar alam gaib yang penuh jin. Pantas saya merasakan hawa yang aneh, seperti ibarat berada di tempat jauh nan sepi padahal masih bersama teman-teman. Pasar gaib itu adalah tempat penunggu pantai Greweng. Keberadaan lokasi ini sebenarnya sudah ditandai dengan pembatas tali, saya kira itu hanya hiasan untuk jalan setapak namun ternyata untuk pembatas rimbunan pohon yang disebut pasar gaib tersebut.

Ditengah rimbunan pohon tersebut terdapat sungai yang membelah, sungai berasal dari mata air. Dan apa hubungannya dengan kepiting. Mbah Soro menceritakan bahwa salah seorang temannya diganggu makhluk gaib karena mengambil kepiting tanpa ijin di sungai tepat di tengah rimbunan pohon tersebut. Di malam teman mbah Soro mengambil kepiting tersebut, dia di datangi seorang tinggi besar dengan wajah marah yang kurang bersahabat.

"Balekno Lembuku! (Kembalikan Sapiku!)" kata orang tinggi besar itu.

"Lembu sing endi? (Sapi yang mana?)" jawab teman mbah Soro dengan badan gemetaran, saya dapat membayangkan ibarat nembak cewek idola di kampus yang presentase diterima cintanya hanya 10% bahkan kurang, alamak!

Teman mbah Soro lalu teringat sebelumnya mengambil kepiting. Dengan tergesa-gesa dipulangkanlah kepiting tersebut di sungai pada rimbunan pohon yang kini kemudian diberi pembatas dan diberi papan nama pasar gaib. Dalam hati saya bersyukur tidak bercanda keterlaluan karena sudah kecapekan karena berjalan. Jika iseng, waduh bisa-bisa malam hari ada tamu seram tak diundang datang. Ngeri.

Tak terasa entah berapa lama saya dan mbah Soro berbincang. Teman-teman sudah menyusul ke parkiran mbah Soro dengan kepayahan juga. Nah, untuk pengalaman teman-teman sekalian, jika ke pantai Greweng lebih baik pada pagi hari saat matahari belum tinggi atau sore hari sekalian, pulangnya kan sudah tidak terlalu panas. Kami istirahat sejenak dan menumpang sholat di gubuk milik mbah Soro. Sambil istirahat dan menunggu giliran sholat, saya datangi teman saya yang penakut lalu membisiki cerita mbah Soro.