Aku takut jatuh cinta lagi, takut semua pria itu sama, takut pokoknya takut, stop bicara cinta di depanku!

Aku mencoba menutup mataku rapat-rapat tentang apapun yang berbau cinta. Bukan karena hatiku sering patah, namun belum ada satupun yang bisa membuka mataku tentang apa itu arti cinta setelah kepergiannya. Iya dia; pria yang pernah ku cinta sebelumnya. Pria yang ku kira benar-benar mencintaiku seperti apa yang dikatakannya.

Setelah kepergiannya, memang hanya tersisa kenangan di memori ingatan. Tanpa dia, tanpa roh apalagi raganya. Sepi bukan?

Hatiku sempat patah bahkan hampir hancur ketika dia yang ku anggap matahari itu hilang. Dia yang aku kira mampu menemani ku 24 jam ternyata hanya mampu bertahan tak selama yang ku bayangkan. Ibarat matahari dia sudah terbenam dan mungkin esok akan ku temui lagi. Namun matahariku yang ku kira akan datang membawa cinta dengan segala embel-embelnya tak juga datang. Kini dia; matahariku hanya ada di memori ingatan.

Dia: "hidungmu pesek, cocoknya jadi pacarku. Bajumu dengan bajuku warnanya sama, kita bentar lagi jadi couple nih kayanya, sama dengan baju kita hahaha"

Advertisement

Pria berkacamata itupun datang dengan langkah kaki yang cepat dan tepat. Mengikutiku dengan segala kelucuannya, menawarkanku cintanya. Dan aku hanya tertawa kecil, hingga mampu membuat dia malu dan pergi meninggalkanku. Keesokan harinya dia datang lagi membawa sejuta kelucuan dan membiarkanku tertawa terbahak-bahak. Lalu dia kembali serius dan mengatakan cinta padaku lagi.

Jalani saja yang bisa kita jalani, selagi itu menyenangkan. Tak perlu menerjang ombak, ikuti saja arus nya. Simple bukan?

Aku tolak dia mentah-mentah masih sambil tertawa sisa kelucuannya tadi. Ku jadikan dia sahabat, ku jadikan dia tempat bersandar ketika aku lelah menjalani kerasnya dunia. Tanpa marah dia mengakui juga akhirnya kalau dia nyaman dengan persahabatan ini. Aku juga senang dengan semua ini, dan ku jalani semua seperti air, mengalir, dan mengikuti arusnya.