Sebelum kita bahas lebih lanjut kita perlu paham dulu nih, gangster itu apa sih?

Menurut wikipedia, Gangster adalah kriminal yang merupakan anggota organisasi kejahatan pembuat kekacauan.

Semakin tahun berlalu, semakin modern teknologi menopang kebutuhan dunia, semakin pula banyak kejahatan yang sungguh diluar nalar. Yang paling memperhatinkan, pelaku kriminalitas tersebut sudah menembus kalangan remaja. Tidak habis fikir, sangat disayangkan usia pertumbuhan mereka harus dihabiskan dengan hal-hal negative dan merugikan sesama. Parahnya lagi, mereka melakukannya secara berjama’ah.

Berjama’ah artinya tidak sendiri. Mereka membentuk suatu kelompok atau organisasi yang tujuannya agar mereka merasa lebih kuat. Tetapi kuat saja tidak cukup tanpa adanya sebuah pengakuan. Salah kaprahnya, mereka mencari pengakuan tersebut dengan cara-cara yang menyeramkan. Dimulai dengan mencari perdebatan dengan kelompok lainnya, lalu dengan mengatasnamakan solidaritas membela anggotanya, kemudian mengakhirinya dengan peperangan atau tawuran.

Baru-baru ini Indonesia digemparkan dengan banyaknya foto dan video-video viral di media sosial. Tentu tidak menjadi suatu masalah jika video viral tersebut berisikan hal postif dan menginspirasi. Sebaliknya, video yang kini beredar sungguh menggerogoti ulu hati. Astaghfirullah, Miris. Itulah kata tepat yang paling menggambarkan perasaan kita setelah melihat foto dan menonton video tersebut. Sungguh mengerikan sekali generasi muda saat ini.

Advertisement

Foto dan video tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah ulah dari ‘gangster’, para pelaku penyiksa dan pembunuhan. Mereka dengan sengaja, secara sadar, mendokumentasikan aksi mereka kepada sang korban. Jeritan mohon ampun si korban malang tidak lagi mereka pedulikan. Dengan menggunakan senjata-senjata yang sudah dipersiapkan, mereka menguliti dan membabat habis korban. Ini kenyataannya, bahwa mereka sangat menikmati dan justru merasa lega setelah membunuh.

Kenikmatan dalam membunuh sudah bisa dibilang sebagai penyakit mental atau psikopat.

Mereka menikmati setiap sensasi saat korbannya meregang nyawa. Ada perasaan lega dan menyenangkan setelah membunuh. Sehingga, jangan heran mengapa mereka sama sekali tidak terlihat merasa bersalah. Mereka-mereka ini tergolong pembunuh dengan motif hedonistis. Apa itu pembunuh hedonistis?

Hedonistis adalah lebih banyak. Saya tak peduli apakah mereka layak hidup atau tidak. Itu bukan urusan saya.” Sebagian pembunuh mungkin menikmati fase “memburu” atau “memancing” dan menjerat korban lebih dari segalanya, sedangkan sebagian lain mungkin terutama didorong oleh aksi penyiksaan dan perlakuan kejam terhadap korban ketika masih hidup.Pembunuh tipe ini membunuh demi kesenangan belaka, meskipun aspek apa yang membuat mereka senang bermacam-macam. Ini tipe paling umum pembunuh berantai yang digambar dalam film horor, thriller psikologis, dan lain-lainnya. Pernyataan Yang Xibhai setelah ditangkap adalah tipikal sikap pembunuh demikian: “Ketika saya membunuh seseorang, saya memiliki keinginan untuk membunuh lagi. Keinginan itu mengilhami saya untuk membunuh

Setelah mereka selesai melakukan aksinya, foto dan video tersebut sengaja disimpan. Untuk apa? Karena menurut mereka itu adalah sebuah karya. Karya yang membuat mereka merasa bangga dan berkuasa. Nah, sebaiknya kita tidak perlu share karya mereka tersebut. Mengapa? Karena mereka akan merasa senang saat karyanya menjadi konsumsi publik.

Foto dan video tersebut juga akan menginspirasi gangster lainnya yang tidak mau kalah menunjukan aksinya. Kita juga harus menghormati korban dan keluarganya. Apalagi foto dan video yang kita share tanpa adanya blur effect, itu sudah melanggar kode etik jurnalistik loh guys!

Kita seharusnya menghadapi situasi ini dengan bergotong-royong. Bersama-sama kembalikan lagi budaya siskamling. Membantu aparatur negara menjaga dan mengurangi aksi-aksi bengis gangster yang mungkin saja berasal dari lingkungan kita.

Sambil kita memperbanyak istighfar, berdoa, kita juga harus memberi perhatian lebih lagi kepada anggota keluarga kita. Semoga saja kita sekeluarga tidak menjadi korban atau amit-amitnya malah bergabung dengan gangster tersebut ya guys.