Jika kita ditanya apa pelajaran berharga yang didapatkan di tahun 2016?

Banyak, hingga tidak sanggup disebutkan satu per satu. Setiap dari kita punya kesan tersendiri di tahun yang akan berakhir tinggal menghitung jam ini. Tak sedikit resolusi yang dicapai, tak sedikit pula kesalahan yang dilakukan dalam proses pencapaiannya. Begitu juga banyaknya kejadian di luar sana yang mewarnai tahun 2016, tentu tidak dapat dihitung lagi kehebohannnya.

Bagaimana dengan kamu?

Apa yang kamu lakukan saat menyaksikan berbagai situasi yang terjadi di sekelilingmu? Banyak dari kita yang menutup mata dan memilih no comment, ada juga yang bersikap pura-pura dengan mengesampingkan apa yang sebenarnya dirasakan, namun ada juga yang memilih untuk bersikap menentang dengan keras hingga berwujud perilaku yang mengerikan. Di zaman yang serba bebas ini, semuanya bebas berpikiran. Semua orang nampak membenarkan pendapatnya masing-masing. Merasa paling benar, dan yang lainnya dianggap salah. Tak jarang mereka saling beradu, menghujat, melaporkan, berharap dirinya adalah pihak yang memperoleh kemenangan.

Saat kita memulai hari dan mendapati hal yang tak sesuai, rasanya mudah sekali untuk mengkritik. Namun pernahkah kita mencoba untuk memperbaiki kondisi alih alih mengkritik tanpa memberi masukan? Jika memang sulit, mengapa tak dimulai dari sekarang dan disini saja. Bukankah hidup lebih indah dengan harmoni yang muncul dari keragaman sosial? Berbeda itu wajar, tapi toleransi itu keharusan. Berikut ada tiga kata ajaib yang apabila diucapkan dengan tepat dan benar dapat menciptakan hubungan yang baik antara kita dengan orang lain.

Advertisement

Pertama, kata terima kasih yang seringkali lupa kita ucapkan atas jasa-jasa kecil orang di sekeliling kita. Misalkan saja kita sedang berada di suatu tempat makan dan pelayan mengantarkan makanan, sudahkah kita mengucapkan terima kasih sambil tersenyum manis kepadanya ketimbang asyik update media sosial?

Contoh lainnya, ada orang yang mengkritik atau membully kita dengan kata-kata yang pedas, daripada marah-marah yang mengatakan bahwa ini masalah harga diri, coba ucapkan terima kasih atas masukannya yang begitu mengena. Justru dari situ, kita makin mudah melupakan kesalahan orang dan meminimalisir timbulnya penyakit hati seperti dendam.

Kata kedua yaitu maaf yang juga sering tidak kita sadari untuk kita ucapkan ketika melakukan kesalahan. Memang benar tidaknya suatu perilaku itu relatif, tapi selama kata maaf disampaikan secara tulus dan tepat pada waktunya, maka segala hal menjadi jernih. Tak akan ada lagi namanya salah paham jika kita mengucapkannya pada orang yang tepat. Susah? Iya memang, awalnya berat karena ada rasa gengsi yang menjadi tolak ukur harga diri seseorang. Tapi kalau tidak dicoba, siapa yang tahu hasilnya seperti apa?

Kata ketiga yaitu aku sayang kamu. Eits jangan baper dulu bacanya. Nah inilah yang kadang sering disalah artikan. Padahal maksudnya adalah mengungkapkan penghargaan terhadap kehadiran orang tersebut dalam hidup kita. Ya memang di budaya kita kata-kata itu kurang familiar dan tidak bisa digunakan begitu saja dalam lingkungan sehari-hari, kecuali kepada orang-orang terdekat seperti orang tua, keluarga dan pasangan. Tapi, mengungkapkan rasa sayang tidak melulu harus dengan kata-kata “aku sayang kamu.” Bisa juga berupa perilaku menghargai, atau dengan pelukan tulus. Tentunya pelukannya harus yang sesama mahram ya.

Sebenarnya tiga kata ajaib tersebut adalah salah satu metode penyembuhan yang dicetuskan oleh seorang doktor dari Hawai yaitu Dr. Ihaleakala, metode ini disebut ho’oponopono. Kata-kata ini terbukti secara ilmiah dapat menyembuhkan seseorang dengan tujuan memaafkan kesalahan orang lain. Selain itu kata-kata ini dapat menghilangkan memori negatif dari orang yang pernah melakukan kesalahan pada kita. Ketiga kata tersebut biasa digunakan ketika seseorang bermeditasi dan membayangkan sosok yang kurang disukainya. Namun apabila ketiga kata ini bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari juga berdampak baik, tentunya dengan diiringi oleh niat yang tulus pula.

Sebagai makhluk sosial, manusia sejak dulu selalu berada di lingkungan yang menuntut untuk kebersamaan. Berbuat salah, memaafkan dan dimaafkan adalah hal yang tidak bisa terlepas dari kebersamaan. Bahkan menurut Fuad Hasan, seorang guru besar psikologi mengatakan bahwa, “Manusia yang tunggal dan tersendiri tanpa hubungan dengan manusia lain adalah tak lengkap, bahkan tak dapat ditemui dalam kenyataannya; ia selalu bertautan dengan suatu kekeluargaan, kekerabatan, kemasyarakatan. Singkatnya, hakikat manusia adalah adanya dalam suatu kebersamaan.”

Sebagai pribadi yang mengaku bermartabat, sudah selayaknya kita bertanggung jawab atas kehidupan kita sendiri. Kita dapat menyelesaikan masalah dengan menghilangkan emosi negatif dalam kehidupan kita dengan cara memperbaiki pikiran dari diri kita. Semua itu dilakukan untuk mewujudkan kebhagiaan dan kedamaian. Bukankah hidup bahagia dan damai adalah hak kita semua?