Jadi pada akhirnya aku sampai juga pada saat ini. Bukan saat kembali merindukanmu sebegitu dalam dan larut dalam menunggu. Tapi saat dimana aku bahkan tidak lagi berminat basa-basi sekedar menyakan kabar.Kamu sudah tertinggal jauh. Ribuan kilo dibelakang, terkubur bersama waktu yang terus bergerak maju. Masa lalu tidak akan pernah menang, karena dia selalu tertinggal dibelakang. Masa lalu? Seakan kita pernah ada saja.Seakan pernah ada yang diperjuangkan bersama-sama. Padahal nyatanya? Ah sudahlah kamu sudah berakhir, titik. Bukan tanda Tanya yg harus kuterka.Bukan tanda koma yang kupaksakan hingga menemukan titik temu. Aku dan kamu memang tidak pernah seirama. Kamu hanya dating dengan sikap manis dangombalan magis tanpa bermaksud untuk serius. Jika aku lihat lagi kebelakang, harusny adari awal aku tidak usah menggubrismu, meladeni lelucon yang selaluku seriusi. Aku sudah berhenti menanyakan artitatapan yg sering kamu lemparkan. Akusudah kembali pada tempatku. Tidak lagi menunggu kereta di halte bis.

Aku tidak akan berhitung berapa lama waktu yg kugunakan menunggumu. Waktu itu tidak akan kembali. Tapi jika kamu mau tau, kamu akan menemukan angka lebih dari empat miliyar milisekon detik waktu yang kuhabiskan sejak pertama aku menyadari ada desir aneh setiap kali bola mata kita berada pada garis pandang searah. Saat itu aku piker aku hanya mengagumimu, itu saja. Kagum pada setiap inci pribadi yang bahkan baru aku temui dalam hitungan puluhan hari. Hanya karena kita bertemu setiap hari, dibumbui tatapan yang kupikir istimewa, aku terlalu cepat menyebutkan bahwa aku jatuh cinta.Dan hal paling tidak rasional yang aku pikirkan adalah bahwa kita berada pada rasa yang sama. Hanya karena sikap manismu yang ternyata ratusan lebih manis padanya. Hanya karena tatapan sendu yang ternyata juga kamu bawakan setiap kali bertemu dengannya. Aku awam dan aku terlalu lugu untuk kamu taklukkan dengan tatapan yang ternyata membuatku luruh itu. Aku menikmatinya seolah aku satu-satunya.

Mereka bilang kita saling jatuh cinta.Dan hal paling tidak rasional yang kedua adalah aku percaya begitus aja.Seolah membenarkan bahwa aku tidak mengada-ada ketika bias melihat desir yang sama dari tatapan mataitu. Aku mencari pembenaran untuk terus menunggumu bahkan meyakinkan diriku untuk tetap berdiri disini sampai kamu kembali. Tapi aku lupa, bahwa kamu tidak akan pernah menghampiri. Kamu tidak akan pernah kembali karena aku bukan tempatmu pulang. Aku hanya persimpangan jalan yang kamu lewati sebelum menemukan tujuanmu. Kamu tidak pernah memperjuangkan aku. Kamu hanya peduli pada egomu dan kepuasanmu menjadikan perasaanku sebagai bahan lelucon yang kamu piker bias membuatku tertawa. Kamu bilang, aku pantas mendapatkan yang lebih baik. Kamu bilang kita menjadi teman saja.Itu kata-kata tidak rasional yang kamu ucapkan untuk menjelaskan pertanyaan-pertanyaanku. Jawaban yang kamu piker menyelesaikan segalanya. Setelah hari itu, hal paling tidak rasional ketiga yang aku pikirkan adalah kita bias menjadi teman baik, teman berbagi masalah sama normalnya seperti pertemanan lainnya. Tapi toh lagi-lagi kamu mudah sekali melupakannya. Masih menganggapku asing dan terus saja menjadikan perasaanku sebagai lelucon setiap kali kita bertukar kabar. Akhirnya aku lelah pada sikap tidak dewasamu itu. Aku jadi kehilangan selera untuk sekedar merindukanmu. Jadi jika sudah seperti ini apakah perasaanku yang pernah menggebu bisa disebut cinta? Atau apakah sebenarnya sejak awal aku hanya mengagumimu saja dan yang menjadikan cerita ini berdarah-darah adalah ketidakrasionalanku saja?Entahlah.

Kamu abu-abu, selalu abu-abu hingga kini. Aku juga tidak akan menanyakan kejelasan. Rasanya kamu memang benar, aku pantas mendapatkan yang lebih baik. Paling tidak seorang yang tidak mengumbar gombalan pada perempuan lain ketika sudah berkomitmen denganku. Masa itu sudah berakhir, aku tidak akan berusaha meyakinkanmu bahwa aku sudah tidak lagimenunggu. Kalaupun kamu tidak punya hati untuk menyadari bagaimana aku pernah begitu lugu menunggu kamu yang ternyata sudah mengenggam kebahagiaan, setidaknya semoga kamu masih punya cukup akal sehat untuk mengerti kenapa sikapku menjadi begitu kaku dan hanya mengubris messagemu dengan satu dua huruf saja. Silahkan kamu pergi, terima kasih sudah pernah mengisi, terus genggam kebahagiaan yang kamu yakini. Jaga perempuan yang sudah lama bersamamu itu. Jangan mengumbar gombalan pada perempuan lain lagi. dewasalah, berjuang tidak sebercanda itu.

Dan sampai pada akhir dari tulisan ini, aku tidak merindukanmu.

Advertisement

Untuk kamu yang entah harus aku sebut sebagai siapa.