Kita tidak pernah tahu dengan siapa kita akan jatuh cinta. Demikian dengan aku, perasaanku terhadapmu wahai sahabatku. Selama ini, aku memilih sendiri dengan alasan semoga Tuhan bisa menyatukan perasaan aku kepada denganmu. Dalam setiap do'a, selalu terbesit namamu. Memang aku tak pernah berani jujur untuk mengungkapkan perasaan ini kepadamu.

Aku merasa belum sepantasnya memiliki sosok yang hampir sempurna seperti dirimu. Tidak sedikit teman-teman kita yang selalu memgungkapkan bahwa kita adalah pasangan yang "cocok". Namun, apalah arti semuanya jika memang selama ini sudah ada sosok lain yang menepati hatimu. Hingga kemaren aku tidak pernah lelah menanti keajaiban agar bisa memilikimu. Namun apalah daya, saat pertemuan kita hari ini yang kuharap menjadi pertemuan yang menyenangkan, ternyata tidak sesuai harapan.

Kamu sudah mempunyai rencana lain dan akan memulai masa depanmu dengannya. Sungguh, aku tak percaya secepat itu kamu melangkah untuk menyudahi masa lajangmu. Padahal harapanku belum lelah untuk terus menantimu. Seharusnya aku bahagia mendengar kabar pernikahanmu, tapi hati ini seakan tak kuasa untuk mendengar berita itu. Kabar baik darimu, sepertinya menjadi kabar buruk untukku. Satu hal yang membuat perasaan ini teramat sakit, karena akau tak pernah sanggup untuk jujur tentang perasaanku terhadapmu.

Harapanku untuk memilikimu sebagai pendamping hidupku pupus sudah, aku tetap harus mengikhlaskan perasaan ini demi kebahagiaanmu atas pilihanmu. Aku akan tetap memeluk erat dirimu dalam do'aku, karena sampai kapanpun aku akan tetap memilikimu dalam jalinan persahabatan. Kuharap, bertemu dengan sosok sepertimu untuk menjadi pendamping hidupku nanti. Amiin Ya Rabb.