Aku tidak tahu lagi harus menjelaskannya seperti apa padamu. Sesak di dada tak kunjung sembuh juga. Menulis pula akhirnya.

Selamat malam, kamu. Aku harap kamu baik-baik saja, dan bahagia di sana.

Sumber ketidaknyamananmu sudah pergi lho. Apa kamu sudah (agak) merasa lega? Atau malah sangat bahagia berlipat-lipat ganda?

Karena rasa penasaranku yang terlalu tinggi, aku memberanikan diri. Berawal dari pertemuan singkat kita, dua tahun yang lalu, aku berusaha mencari namamu. Kuakui sangat sulit untuk hanya mengetahuinya, perlu per satu huruf. Namun aku tidak menyerah begitu saja. Aku tetap mencari hingga papan pengumuman di tempatmu bersekolah (dulu) pun kudatangi, demi satu nama yang ku rasa berarti.

Aku gagal. Melihat badge namamu ketika aku berada di sampingmu pun hanya menghasilkan satu huruf, esoknya dua huruf, satu kata, satu kata satu huruf, lalu berkembang pesat menjadi dua kata satu huruf, hingga lambat laun tak kulihat lagi sosokmu, yang sudah biasa kukagumi dari jauh. Hingga pada akhirnya aku berhasil menemukanmu meski lewat sosial media karena kamu pun telah berada nan jauh di sana.

Advertisement

Aku menepis semua rasa gengsi yang cewek punya, memulai semuanya lebih dulu. Meski kamu dingin dan cuek, aku tetap melakukannya. Menyapamu terlebih dulu, ngomong apapun dulu, bahkan pesanku ke kamu seperti membuat cerpen. Semua cara sudah kulakukan.

Kini aku musti sadar, bahwa kamu tidak pernah mencintaiku. Umumnya awal pacaran pasti romantis, tapi tidak untuk kita. Aku tahu kok, kamu dulu dengan yang sebelum aku tidak seperti apa yang kamu lakukan padaku. Kamu amat sangat memperhatikannya. Kalian memang romantis. Tapi kita? Berbanding terbalik.

I can’t lie anymore. It’s hurt.

Aku mencoba selalu tersenyum di depanmu, ceria, seolah hatiku baik-baik saja. Padahal hatiku kian rapuh porak poranda.

Memang benar, cinta tidak bisa dipaksa. Terima kasih telah mencoba, namun sebaiknya berhentilah berpura-pura. Jika hadirku tak kamu inginkan, katakan. Aku akan melakukan apapun asal kamu bahagia.

Maaf jika hadirku mengganggu kehidupanmu, mulai sekarang aku akan ‘jaga jarak’.

Aku ingin bertahan, namun berjuang sendirian itu sakit.

Kamu, yang selalu aku cinta, sudah saatnya kubebaskan, kurelakan.