Hei kamu, kenapa kembali lagi? Apa karena dia yang dulu kamu pilih telah menyakiti? Sangat aku sayangkan. Sekalipun kamu bilang kembali dengan maksud untuk memperbaiki hati yang dulu kamu lukai, untuk saat ini bukan kamu lagi yang aku ingini. Kalau boleh jujur, sesungguhnya aku bahkan tak ingin melihatmu lagi.

Kamu tentunya masih ingat bukan. Saat kamu berteriak padaku dipinggir jalan? Kamu bilang akulah mahluk paling merepotkan. Akulah orang yang paling tak mengerti semua kesibukanmu. Akulah manusia yang paling tak bisa diam. Kebawelanku bahkan bisa melebihi ibumu. Seandainya dulu kamu mau sedikit bertanya kenapa aku begitu. Percayalah, aku hanya mengkhawatirkanmu.

Dulu aku sangat mencintaimu. Aku rela hujan-hujanan demi untuk mengantarkan makan siangmu. Akulah yang selalu menelponmu untuk sekedar mengingatkan, kalau ibumu yang jauh diseberang pulau sana pasti sedang duduk termenung menunggu kabarmu, saat kamu terlalu sibuk dengan semua aktivitasmu.

Aku juga tak pernah merasa keberatan menjengukmu dirumah saat sebulan lebih tak ada satupun kencan direncanakan untukku. Aku bahkan hanya diam, menunggumu disudut kamarmu saat kamu berkutat dengan semua pekerjaanmu. Tak bicara sepatah katapun, kemudian pulang tanpa sempat berpamitan karena kamu sudah tidur, tenggelam dalam tumpukan kertasmu.

Aku juga tak pernah mengeluh saat kamu lebih memilih berkumpul dengan teman-teman ketimbang menemui aku yang bahkan kabarnyapun tak pernah kamu tanya sekalipun melalui pesan singkat.

Advertisement

Aku juga yang merawatmu semalaman saat tubuhmu mulai kalah dengan rasa lelah. Tak jarang kamu memarahiku karena aku kurang cakap dalam mencuci dan melipat bajumu. Harusnya aku tahu, kamu selalu ingin terlihat sempurna dalam acara apapun. Aku minta maaf yah untuk itu.

Kamu juga memarahiku saat aku menyusulmu ketempat dimana kamu dan teman-temanmu bertukar canda.

Andai kamu tahu, saat itu aku benar-benar sedang rindu. Kamu juga membentakku, saat aku memohon untuk dijemput selepas jam kerja saat lembur membuatku tak bisa meninggalkan kantor tepat waktu. Mungkin kamu saat itu tak melihat, waktu menunjukkan pukul 23.00 malam. Aku takut pulang sendiri. Sangat takut..

Ingatkah kamu? untukmu, aku pernah melakukan itu semua.

Dulu kamu bilang 'dia' jauh lebih baik dari aku. Baiklah. Aku sangat mencintaimu. Apapun akan aku lakukan demi untuk melihatmu bahagia. Sekalipun aku harus menggurat luka pada hatiku sendiri saat melihatmu pergi bersamanya.. merengkuh bahagiamu dengannya.

Mungkin itulah alasan mengapa sampai saat ini aku masih ingin sendiri. Perpisahan denganmu membuat aku merasa takut untuk memulai dengan siapapun. Bukan takut jatuh cintanya, tapi takut menghadapi keadaan bila aku kembali harus kecewa.

Kini kamu kembali, memohon agar aku berkenan merajut apa yang pernah dengan susah payah aku tinggalkan. Kamu bercanda? aku bahkan benar-benar tak ingin melihatmu lagi. Lalu bagaimana bisa aku memaksa hatiku untuk kembali terbiasa disakiti?

Berhentilah disana. Aku tak ingin kamu mendekatiku lagi. Berhentilah menceritakan betapa bahagianya kita dulu. Karena seingatku, Dari awal pertemuan sampai kamu berikan perpisahan, akulah yang paling berjuang. Sendirian!

Bila sampai saat ini aku masih memilih sendiri, itu bukan berarti aku masih menunggumu. Aku hanya berusaha mencari dia yang datang bukan dengan kesempurnaan seperti kamu dulu. Ya! Seperti kamu..

Aku masih ingat, ada begitu banyak wanita memujamu. Ingin ada ditempat aku dulu berada. Aku rasa, ini saatnya aku mencari yang biasa saja, tapi tak akan membuatku kecewa. Yang tidak akan menghiasi tiap malamku dengan airmata.

Ku mohon pergilah. Aku tak ingin melihatmu lagi. Berbahagialah dengan hidupmu. Seperti aku yang akan mencari bahagiaku tanpa kamu. Bila dulu inginku begitu kuat untuk menjadi masa depanmu. Kini kamu hanya penggalan cerita yang sudah lama aku tinggalkan. Buku usang yang tak ingin aku baca lagi.

Semoga kamu temukan dia yang sempurna. Tapi sungguh, tak ada manusia yang sempurna. Carilah dia yang bisa melengkapimu agar kamu tak perlu melajang selamanya. Selamat tinggal kuucapkan untukmu. Yang tak ingin lagi aku jumpai, dalam keadaan apapun. Terimakasih karena pernah mengajarkan aku bertahan dalam kesendirian.

Dariku, yang tak akan pernah lupa sakitnya ditinggalkan begitu saja.