"Pekerjaan hanyalah bagian dari karir. Karir yang membahagiakan berkaitan erat dengan hal-hal seperti passion, tujuan hidup, values, dan motivasi, bukan berapa besar gaji atau fasilitas yang diperoleh dari pekerjaan."-Rene Suhardono.

Berangkat dari kebingungan di tempat kerja saya, membuat saya ingin menuliskan pengalaman yang pasti sering dialami oleh kebanyakan lulusan baru. Beberapa waktu kemarin, saya diterima oleh salah satu perusahaan benefit yang cukup baik. Mengapa saya bilang cukup baik? sebab saya mengenal pendiri usaha tersebut, aturan di kantor juga sangat fleksibel sekali, tidak ketat, yang penting pekerjaan dapat diselesaikan secara timeline yang sudah di buat. Jarang sekali ada perusahaan yang demikian. Peraturan yang sangat fleksibel membuat saya semangat.

Namun, beberapa bulan bekerja di dalamnya, membuat saya merasa berat dengan pekerjaan dan beberapa kali berpikir ingin resign. Bukan sebab berat pekerjaannya atau pimpinannya, melainkan apa yang saya kerjakan bukanlah keahlian saya sebagai lulusan akuntansi dan juga pekerjaan tersebut sangat jauh dari impian saya. Awalnya saya berpikir pekerjaan saya akan lebih banyak kepada memecahkan masalah dan itu benar namun pekerjaan saya semakin ke sini semakin tidak jelas, lebih kepada memahami sistem dan komunikasi. Jelas jauh sekali dari apa yang saya pahami.

Berbulan-bulan saya mencoba mencari solusi, apa yang sedang terjadi terhadap diri saya sendiri. Dahulu, sewaktu kuliah saya begitu kuat ingin bekerja pada sebuah perusahaan seperti ini, namun setelah bekerja justru hidup saya terasa kosong. Jiwa sosial saya selalu memanggil dan jiwa saya ingin mengajak ke luar dari pekerjaan. Bekerja pada sesuaatu yang bukan penunjang karir dan passsion adalah hal yang sangat berat dan melelahkan, sekali pun gaji yang diberikan lebih dari cukup.

Bersyukurlah, Rene Suhardono menulis sebuah buku berjudul "Your Job Not Your Career" dan itu menjawab kehampaan saya selama ini. Bahwa saya bekerja hanya mencari uang, bukan bekerja pada sesuatu yang menjadi tujuan serta passion saya. Karir saya bukan di sini, namun karena saya sudah tandatangan kontrak, maka biarlah satu tahun ini saya habiskan di sini sebagai profesionalitas kontrak saya dengan perusahaan ini.

Advertisement

Bagaimana saya mengatasi kejenuhan saat bekerja selama satu tahun ini? Walau saya merasa berat, namun saya melakukan setiap pekerjaan dengan baik dan tepat waktu. Saya juga belajar menjadi karyawan yang baik dengan datang tepat waktu dan mematuhi segala peraturan yang ada. Saya hanya belajar profesional dan disiplin terhadap keputusan yang saya ambil. Jika sedang jenuh, saya berkeliling ke toko buku sehabis bekerja, sebab di sana saya menemukan jiwa saya hidup. Berkumpul dengan buku, membaca buku, menulis apa pun yang ingin ditulis, itulah jiwa saya. Saya hidup dan memiliki tujuan di sana. Maka, mulailah terlihat saya ingin ke manakan langkah ini.

Yap, selesaikan kontrak satu tahun lalu sudahi. Mulai mengejar tujuan hidup yang membuat jiwa benar-benar hidup. Pekerjaan tidak sama dengan karir, begitu kata Rene Suhardono. Dan yap, benar. Tapi bisa jadi pekerjaan sama dengan karir jika karir ada di dalam pekerjaan yang telah dipilih.

Sudahkah berpikir apa passion diri? Tujuan hidup seperti apa? Hal tersebut membantu kita untuk melangkah dengan jiwa yang hidup. Sebab hidup di dalam jiwa yang kosong dan hampa sangat melelahkan, saya sudah merasakan hal itu. Rasanya seperti dipenjara puluhan tahun. Berat sekali.

Masih bingung dengan tujuan hidup? Maka pertanyakan dua hal ini untuk membantu menemukan tujuan hidup. Hal apa yang benar-benar membuat jiwamu hidup? Apa yang ingin kamu tampilkan kepada dunia? Jawablah secara jujur dari hati kecil. Gunakan hati, sedikit gunakan pikiran, sebab tujuan hidup biasa terlahir dari dalam hati. Panggilan hati terhadap sesuatu hal seringkali adalah tujuan hidup.

Apakah kamu sedang di dalam kebingungan yang luar biasa? Silahkan ke luar, mencari jawaban atas kebingungan yang ada. Jangan diam.

Selamat berpetualang mencari tujuan hidup. Temukan panggilan jiwa.