Halo buat kau yang disana ? bagaimana kabarmu?

Apakah kau sudah menemukan alasan untuk mulai merindukanku? belum? tak apa, yang penting aku sudah menemukan itu terlebih dahulu.

Apakah begitu susah untuk mulai merindukanku? iya memang

Aku tahu kita tak sedang dalam sebuah hubungan yang bisa dibilang agak menarik. Tapi, tak bisakah kau? Mengapa begitu mudah kutemukan alasan itu?

Ada yang janggal dengan segala pertemuan kita selama ini. Kebetulankah itu? takdirkah itu? Satu yang pasti saat aku sangat ingin melihatmu di suatu hari, kau pasti saja muncul di tempat-tempat tak terduga. Itu membuat ku amat sangat bahagia, setidaknya Tuhan dan semesta mendukung. Salahkah? Mungkin kau sudah punya seorang disana, mungkin seorang disana itu sudah lebih maju satu langkah. Aku tahu seorang itu sangat menunjukan perasaannya kepadamu ke semua orang, tapi kau cuek. Cuek? Bagaimana bila aku yang melakukannya? Apakah kau juga akan cuek? bisa jadi. Tapi sayangnya aku tak seberani itu. Aku payah.

Kau tahu? aku sangat merindukan mu. Aku rindu senyummu, yang kutahu bukan untukku. Aku rindu tatapan lembutmu, yang kutahu tatapan itu bukan untukku. Aku rindu tawamu, dan sekali lagi tawa itu bukan untukku. Bolehkah aku merindukan sesuatu yang bukan untukku dan bukan milikku? aneh memang. Aku selalu berpikir apa yang terjadi bila senyum, tatapan, dan tawa itu adalah untukku dan milikku, bisa jadi aku akan tersenyum sepanjang hari. Melihat nilai yang anjlok semester ini saja, mungkin aku akan tetap tersenyum walau di hati agak-agak sakit.

Akhir-akhir ini kau tak terlihat. Sibukkah kau? Apakah skripsi itu telah menyita segala waktumu? tak apa, itu demi hari esokmu. Bila kau ijinkan, mungkin aku akan membawa makanan yang kau suka untuk sekedar menemanimu menyelesaikan tugas akhir itu. Makanan kesukaan? ah lupakan. Aku bahkan tak tahu makanan seperti apa yang kau suka. Mungkin inilah alasan mengapa kau belum bisa mulai merindukanku, karena aku belum mengenal dirimu seutuhnya. Yang aku tahu darimu, hanya sekedar nama lengkapmu, tanggal lahirmu, dimana kau tinggal, darimana kau berasal dan apa hobimu. Ya, aku belum mengenalmu lebih dalam, tapi bagaimana mungkin itu terjadi? Menghubungimu saja terhalang rasa gengsi yang besar. Bila aku menunggu kau hubungi, mungkin itu akan butuh waktu se-abad. Ya, se-abad, bisa jadi, siapa yang tahu ?

Baiklah, aku bisa terima bahwa kau belum bisa mulai merindukanku. Tapi, siapa yang tahu? yang jelas hanya Tuhan dan dirinya, bahwa di sana, mungkin dalam kamarnya, dia sedang merindukanku. Mungkin, dia berpikir bahwa akulah yang tidak merindukannya, dan sebenarnya dia begitu berkutat dengan skripsinya bukan hanya demi hari esoknya tapi juga karena dia tidak ingin setiap saat merindukanku, karena dia tahu rindunya tidak tersalur.

Advertisement

LOL! andai saja seperti itu.