Aku membenamkan wajah dengan kedua tangan. Mukaku panas, pipiku tampak basah karena air mata yang terus berjatuhan dari mata. Sesekali, aku mengusap pelan pipiku yang basah. Kulihat Sajadah itu indah terbentang dengan berhiaskan ornamen-ornamen kaligrafi yang melingkari tiap sudutnya.

Dalam keadaan duduk, aku mengangkat kedua tangan, bersimpuh, dan berdoa. Doa yang kupanjatkan hanya kepada sang Pencipta Alam. Mengalir lagi air mataku, hingga akhirnya Aku tak sanggup lagi menahannya. Kubiarkan air mata ini mengalir deras seiring dengan panjatan doa yang kupersembahkan.

Aku berserah diri atas segala dosa yang telah kuperbuat. Terenyuh dalam sederet kalimat permohonan ampun, begitu banyak dan besarnya dosaku, hingga terkadang Aku selalu merasa, apakah kesalahanku akan terhapuskan? Apakah dunia punya toleransi, membiarkan manusia ini sedikit bernapas? Apakah Tuhan mendengarkan rintih lirih ucapanku?

Manusia sepertiku, dulu yang sangat fasih membuka kehormatan diri, keluarga, membiarkan tangan-tangan non muhrim menyentuhku, kini duduk pasrah, tenggelam dalam larut yang teramat kalut. Malu yang tak lagi dapat terbendung. Tobat yang terus Aku lanturkan, hari demi hari, bulan demi bulan, seakan hanya menjadi gumam yang tak tersampaikan. Adakah jalanku untuk kembali erat dengan-MU, Tuhanku?