Menjadi anak terakhir itu menyenangkan. Disayang, diperhatiin, dibela, dimanja, diutamain dan apa yang kita mau pasti diturutin.

Dan karena sudah biasa dimanja akhirnya kita lupa gimana caranya menjadi dewasa. Ah, sudah biasa dimanja sih jadinya gak ngerti ngambil kerjaan di rumah – kata orang banyak – ada benernya juga, udah biasa diambilin disaat lagi butuh sesuatu, udah biasa diturutin apa yang dimau, udah biasa dibela bahkan disaat yang salah adalah si anak bontot ini.

Rasanya telat untuk mengetahui betapa indahnya menjadi pribadi yang mandiri. Dan udah terlalu lama menjadi anak yang tidak tau apa-apa, bahkan di saat ada masalah di keluarga pun kita tidak diikutsertakan dalam berdiskusi. Kita tetap dianggap anak kecil yang bisanya cuma menuntut sesuatu.

Dan disaat kita mengeluarkan omongan yang terkesan bijak, seluruh isi rumah yang mendengar hanya bisa kaget. Ini anak manja mama? Belajar dari mana kok bisa ngomong begitu? Otaknya lagi bener ya, de? Kok gak dari dulu kaya gini? Halooo kak, kok gak dari dulu stop jadiin gue anak manja? Kok gak dari dari dulu mempercayakan sesuatu ke gue? Kok gak dari dulu ngajarin gue betapa indahnya jadi anak yang mandiri? Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Di saat kita anak bontot ini merantau pun, mereka yang terlahir lebih dulu belum bisa mempercayakan 100% kalau kita akan baik-baik saja di sini.

Advertisement

Kita yang lagi berjuang untuk bisa menjadi adek kesayangan mereka tetapi bukan dalam hal “selalu meminta”, yang kelak akan berubah menjadi “selalu memberi” ini pun terkadang masih di-ah emang kamu bisa? Ngatur duit sendiri aja masih susah, padahal masih minta ke bapak mama, gimana kalau udah punya gaji sendiri? Yang ada itu gaji habis buat kamu sendiri.

Apa de, mau nabung demi masa depan? Demi nikah? Yakin bisa, de? Kamu kan gak bisa megang duit banyak. Yang ada dalam sehari habis itu duit. Di saat mereka menelfon dan kita lagi masak di dapur. Ketika pertanyaan, de emang bisa masak? Kan kamu selalu dimasakin. Apa rasanya itu makanan, hambar pasti. Gimana nanti kalo udah jadi istri, suami kamu mau makan di luar karena masakan kamu gak enak?

Duh, please meragukan perubahan kami anak bontot ini.

Kami juga punya pemikiran, bahwa hidup tak selamanya berjalan lancar. Hidup itu perjuangan. Kami para anak bontot ini juga punya banyak impian. Impian yang harus kami lunasi. Impian yang tidak akan menjadi kenyataan jika kami tetap menjadi anak manja seperti yang kalian katakan.

Tolong, percayakan kami untuk bisa menggapai cita-cita. Tolong, kalian hanya perlu mendoakan dan mendukung kami dalam hal masa depan. Kalian hanya perlu memberi tahu pengalaman-pengalaman buruk kalian semasa dulu, agar nantinya jika kami mengalaminya, kami bisa tau sikap bagaimana yang akan kami ambil agar bisa menyelesaikannya dengan baik.

Teruntuk kedua orang tuaku,

Terima kasih telah melahirkanku ke dunia, terima kasih karena aku menjadi bagian dari keluarga ini, terima kasih buat kasih sayang yang gak ada batasnya, terima kasih telah memberiku kesempatan merasakan enaknya jadi anak manja dan luar biasanya menjadi perempuan mandiri, terima kasih telah memperjuangkanku dan dalam waktu dekat aku yang akan berusaha untuk memperjuangkan kalian,

Terima kasih sudah menjadi bapak dan mama yang luar biasa baiknya, terima kasih karena kalian telah menjadi contoh buatku karena kelak aku ingin menjadi orangtua yang seperti kalian.

Teruntuk ketiga abangku,

Terima kasih karena kalian selalu memberi perhatian lebih. Walaupun tetap masih menganggapku adek kecil. Tolong dengan sabar mengajariku bahwa untuk berubah ke yang lebih baik tidaklah segampang membalikkan telapak tangan, terima kasih telah menuruti permintaanku yang sangat banyak walaupun kalian telah mempunyai keluarga kecil, terima kasih karena di punggung kalian aku pernah merasakan nyamannya digendong saudara,

Di pelukan kalian aku merasakan indahnya masalah kalau dibagi dan diselesaikan bersama, di hadapan kalian aku bisa luar biasa bahagianya jika bercanda dengan kalian. Aku butuh dukungan kalian, aku butuh saran dan semangat kalian. Karena aku ingin laki-laki yang akan mendampingi hidupku kelak, mempunyai sifat dewasa, sabar, mandiri dan pemimpin seperti kalian.

Tolong jangan meragukan adek kecil kalian ini. Dan suatu saat nanti, jikalau ada pria yang ingin memintaku menjadi pendamping hidupnya kelak, tolong jangan menertawainya karena seolah-olah kalian masih menganggapku “Adek kecil”.

Percayalah, karena dengan sendirinya aku bisa menjadi “wanita dewasa” yang sesungguhnya.

Teruntuk kakak perempuanku,

Tolong beritahu aku bahwa menjadi wanita dewasa itu tidaklah mudah.

Aku butuh waktu, kesempatan dan doa agar adekmu ini bisa berhasil nantinya. Tolong dengan sabar mengajariku caranya memasak yang enak agar kelak jika aku sudah memiliki keluarga kecil, aku bisa memberi mereka santapan enak setiap harinya dan caranya mengatur duit dengan baik agar kelak aku bisa mengatur keuangan keluarga kecilku dengan tidak berlebihan menghamburkan duit.

Karena kelak, aku ingin menjadi seperti mama dan sepertimu. Menjadi wanita idaman bapak dan abang iparku. Melahirkan anak-anak hebat seperti kita dan para keponakanku.

Tidak perlulah kalian meragukan perjuangan kami anak bontot ini. Kami akan berusaha semampu kami agar terlihat pantas menjadi anak dan adek kesayangan kalian yang sesungguhnya.