Di masa lalu sangat mudah sekali kita mendefinisi seseorang yang menjalin hubungan atau berpacaran. Indikatornya jelas, mudah dibaca orang awam. Pertama ialah seringnya dua orang berkomunikasi, entah bertemu langsung atau lewat sosial media. Kedua, satu sama lain sudah merasa nyaman membicarakan kepribadian dan rahasia masing-masing. Tidak ada rasa canggung diantara mereka. Ketiga, seringnya pergi besama dalam setiap kesempatan. Keempat adalah tidak canggung untuk pegangan tangan atau berpelukan. Dari situ kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka berdua pacaran atau tidak.

Sedangkan di masa sekarang pola tersebut ternyata sudah tidak bisa dipakai lagi ketika istilah "friendzone" masuk di telinga masyarakat. Banyak kasus yang terjadi akibat menerapkan pola yang sama seperti yang saya jabarkan sebelumnya. Orang-orang mulai terjebak dalam rasa nyaman ketika berdekatan dengan seseorang. Saya adalah salah satu korban dari friendzone sendiri.

Bagi saya, friendzone membuat orang berpikir lagi untuk mendekati lawan jenis khususnya yang sering menjadi korban. Mereka sudah malas menjalin komunikasi intensif namun hanya menjadi tempat pemberhentian sementara. Sudah malas menghadapi perasaan yang sama berulang-ulang setiap waktu. Sudah malas karena pola yang sama dari masa lalu tidak bisa diterapkan lagi. Sudah usang dan perlu direvisi sesuai dengan kondisi dan situasi sekarang. Begitu juga denganku yang sudah malas mencari pacar.

Anehnya adalah fenomena seperti ini menjadi kebiasaan untuk sebagain orang. Temanku adalah salah satu pelakunya. Temanku ini satu perguruan tinggi malah mencari "tempat pemberhentian sementara" padahal temanku sendiri sudah memiliki pacar. Entah apa yang ada di pikiran dia.

Mencari cadangan kah?

Advertisement

Kesepian karena tidak mendapatkan belaian dari kekasih kah?

Atau apa?

Seakan istilah Berpacaran mengalami pergeseran makna. Jika benar berpacaran sudah mengalami pergeseran makna, mengapa banyak orang masih mencari lawan jenis untuk dijadikan pacar?