Satu tahun sudah berlalu dari hari itu, perpisahan yang membawa kita menjadi sepasang aku. Sejak hari itu kita belum pernah sekalipun bertemu. Ada rasa yang kadang datang menganggu, tentang kenangan-kenangan lama yang datang merayu, tentang rindu yang masih saja untukmu, tentang cinta yang tak pernah bergeser dari tempatmu.

Ada malam yang kulalui dengan sesak, aku menangis sampai suara serak. Tidak sering, hanya sesekali, namun isak itu mampu membuatku kesulitan untuk berpijak. Lalu aku mulai mengajukan permintaan yang menggelitik, berharap Dia mendekatkan jarak, mentakdirkan pertemuan kita, dibalut dengan papasan tak disengaja pun tak apa walau dalam waktu yang hanya sejenak.

Satu per satu pikiranku mulai keluar dari kotaknya, mengingat kembali apa yang sudah kita lalui bersama. Dari mulai pertama kali kita saling jatuh cinta, mengucap kata suka, dan sepakat untuk menua bersama. Banyak hari kita lalui dengan tawa, juga tidak sedikit pertengkaran yang memaksa keluarnya air mata. Aku pernah sangat bahagia, mampu mencintaimu tanpa jeda, hingga percaya bahwa satuan selamanya itu berlaku pada kita. Hingga datang dia, perempuan yang kau sebut murni hanya teman saja, nyatanya merebut hatimu dari genggamanku yang tak kukatupkan dengan serapatnya. Kamu pun pergi meninggalkanku dengan tega, menciptakan luka menganga tanpa mengajariku bagaimana cara menambalnya. Jika tidak ingat kesopanan, harga diri, dan usia kita yang sudak tidak lagi remaja, sejujurnya saat itu ingin sekali aku menamparmu dan mencakar-cakar wajahnya.

Aku pernah sangat marah dan mengutuk kalian, juga merutuki semesta yang tak memberi keadilan, namun kemudian aku benar-benar memaafkan, bahkan mengumpulkan harapan satu hari nanti padaku kau pasti akan dikembalikan. Aku mulai meyakini waktu akan menyadarkanmu siapa yang sudah kau tinggalkan, aku lah harta paling berharga yang paling layak untuk kau dekap dalam pelukan. Kembalilah sayang, aku masih punya cinta yang sama besarnya, aku punya maaf paling tulus dari yang seluruh dunia bisa berikan, pulanglah, akulah rumah terbaik untukmu pulang dan membangun masa depan.

Kemudian di satu sore itu aku lihat namamu menari di layar ponselku, aku gemetaran membaca pesan singkatmu. Kamu menanyakan dimana keberadaanku, kamu ingin datang dan bertemu. Dalam setahun terakhir, itulah hari yang paling aku tunggu, akhirnya kau datang juga mencariku, berjuta pertanyaan berkelebat di kepalaku. Rindukah kau padaku? Sudah terjawabkah semua doaku? Aahh entahlah, yang jelas sebentar lagi kita akan bertemu, dan, hei…aku bingung bagaimana cara terbaik untuk menyambutmu! Aku hanya bisa menyiapkan penampilan terbaikku lalu dengan tidak sabar menyambutmu di depan pintu. Kamu pun datang, tersenyum, dengan tatapan teduh dan senyaman dulu. Ingin sekali rasanya aku membanting tubuhku ke dalam pelukmu, Sayang…aku benar-benar rindu! Tapi saat itu lidahku kelu, aku hanya bisa tersenyum seadanya dan menanyakan kabarmu, lalu pandanganku terarah pada sesuatu yang ada di tanganmu, selembar undangan berwarna biru, lengkap dengan nama dan fotomu terpampang jelas di situ, bersama perempuan yang merebutmu dariku, dulu. Hari itu, runtuh duniaku.

Advertisement

Sayang, apa yang kau lakukan? Tahukah kamu setelah pertemuan itu kuhabiskan setiap malam dengan menangis sesenggukan? Tidak ada yang salah dengan kalian, tidak ada yang salah bagi dua orang yang saling mencinta untuk meresmikan ikatan di hadapan Tuhan. Tapi tak bisakah kamu tidak usah memamerkan padaku betapa bahagianya kalian? Kenapa di hari itu aku harus kau libatkan? Jika hanya untuk menggoreskan luka lebih dalam, untuk apa hari itu kamu harus datang, aku bahkan sempat besar kepala dan menumbuhkan harapan.

Mana ada wanita yang rela dipaksa menyerahkan satu-satunya hal yang paling ingin dimilikinya?

Undangan itu memaksaku merubahmu menjadi doa yang berhenti aku panjatkan, menjadi kemungkinan yang berhenti aku semogakan, menjadi mimpi terbesar yang harus sepenuhnya aku lepaskan.

Maaf sayang, aku tidak mungkin datang. Maaf sayang, untuk kebahagiaan kalian aku masih sulit untuk mendoakan. Biarkan kutolong hatiku dulu, dia sedang remuk dan sangat berantakan. Satu saat nanti pun kebahagiaan yang sama pasti bisa aku rasakan, entah bagaimana caranya, entah lewat mana jalannya, akan kutunggu jalan terbaik dari Tuhan. Aku tidak bisa bilang sudah merestui kalian, tapi aku juga tidak akan berdoa ikatan kalian berujung perpisahan. Sudah, aku juga pasti bahagia, entah kapan, biar kutunggu giliran.