"Untukmu lelaki yang akan selalu aku sebut dalam setiap sujudku "

Takdir ruang dan takdir waktulah yang mempertemukan. Tatap pandang saling tak kenal membuat tak ada bahasan yang harus diucapkan. Mungkin hanya dalam hitungan detik aku melihatmu, yang saat itu sama sekali tak dapat ku lihat pancaran aura tingkah halusmu, yang saat ini membuatku diselimuti anugerah sebuah rasa dari Sang Maha Kuasa setelah dua bulan aku mengenalmu.

Alhamdulillah, Sang Maha Penyayang menitipkan rasa indah ini kepadaku, untukmu lelaki seusiaku yang setiap hari dapat kusentuh lewat pandanganku tapi tak pernah bisa ku sentuh lewat jemari tanganku. Lelaki pertama yang ku munajatkan di sepertiga malamku. Lelaki pertama yang membuatku menjadi seutuhnya wanita yang sangat engkau cintai. Besar syukurku memiliki rasa indah ini, walau aku pun tak tau pakah rasa ini akan menjadi abadi. Dalam malam aku menangis pada Rabbku meminta mu untuk menjadi imam abadi ku. Dalam setiap pertemuanku dengan Rabbku, tak pernah lupa rasanya aku, menyebut namamu dalam setiap derai air mataku. Seakan tak ada hal lain yang ingin ku pinta.

Tak lama Rabbku kembali mengujiku. Menguji dengan rasa cinta yang begitu besar kepadamu. Kini aku tak lagi hanya memandangmu, kini aku diberi kepercayaan untuk lebih bisa dekat denganmu. Ku curahkan semua rasaku. Rasa yang begitu lembut, kau temani setiap hariku. Kau bersedia menjadi lelaki yang selalu aku bebani dengan semua beban yang seharusnya aku tanggung sendiri. Dalam setiap pertemuanku, selalu terucap kata alhamdulillah, syukurku pada Rabbku yang mengabulkan setiap permintaanku. Persis, sangat persis seperti yang aku minta.

Waktu berjalan. Di setiap detik itu aku berusaha menjadi dan memberi yang terbaik untukmu. Walau sempat ku rasakan perih karena sama sekali tak ada ikatan sedikitpun antara aku dan dirimu. Tapi aku tau, perih yang kurasa ini hanya perih tanpa luka, tanpa goresan sedikitpun hingga tak perlu rasanya diobati, hanya perlu diyakini bahwa yang ku rasa tak akan perih lagi. Tapi rasa yang harus di jaga kesuciannya hingga Rabbku berkata iya. Tak pernah kau ikrarkan janji pada Rabb mu untuk selalu menjagaku. Aku Tau bukan karena tak sayang. Bukan karena tak cinta, tapi karena kau tak ingin menyakitiku karna sungguh terlalu besar rasa cintamu padaku.

Advertisement

"Insya Allah mas sayang sama chaca"

Tak perlu lagi pembuktian darimu. Aku sudah tahu. Iya. Aku sudah tau. Kau hanya ingin terus menjagaku. Mencintaiku dengan cara yang benar. Maafkan aku, aku hanyalah wanita penggoda bagimu, yang terus berkata bahwa aku sangat mencitaimu. Tak pernah kau balas dengan kata cinta padaku. Tapi kau balas dengan tetesan air mata yang tak sengaja jatuh tanpa kata-kata. Kau bungkam mulutmu, kau tahan rasamu.

Sempat aku bertanya dalam hatiku, apa kau menangis? Tetesan air mata itu?

Tak berani ku tanyakan kenapa kau menangisi kelakuanku, kutunggu hingga kau jelaskan sendiri apa alasannya. Aku hanya berusaha merekam dalam ingatanku, raut wajah sedihmu, kerut keningmu yang selalu kau tunjukkan agar tak bertambah deras derai matamu, alismu? Bola matamu yang terus berkaca? Hingga air mata nan suci menetes perlahan dari sudut bening indah matamu. Hingga tak kusangka ada kata yang jelas tiba-tiba ku dengar keluar dari mulutmu. Tidak harus seperti ini ku tunjukkan rasa cintaku. Bukan dengan cara seperti ini. Maafkan aku tak bisa menjaga mu.

Sejak saat itu, aku tahu bahwa kau mencintaiku karna Rabbmu dan Rabbku. Berharap kelak kau akan menjadi ladang pahala bagiku. Begitu pula diriku, untukmu.

Maka dalam setiap detik hela nafasku berharap,
Jadikan aku,
Bukan teman sehidup semati,
Tapi teman sehidup sesurga..