Kau hisap aku nikmat-nikmat. Kepulan asap kau hirup pekat. Aku tahu kau begitu mencintaiku, duhai hamba setia ku. Aku hargai itu. Meski kau harus berhutang nyawa, masih setia kau menggerogoti tubuh mu dengan nafas liarku. Arsenik yang tugasnya memporak porandakan DNAmu yang rusak itu tak lagi kau hiraukan. Aku tahu kau begitu memujaku, duhai penghisap tubuhku. Aku hargai itu. Namun jangan sekali-kali cari aku dan bertanya mengapa ketika Hidrogen Sianida itu mencabik-cabik seluruh organmu. Aku tidak bertanggung jawab akan hal itu.

Pagi kau menemuiku, menyentuh batang tubuhku, membakar lalu menghisapku dalam-dalam bak menghirup sejuk angin malam. Aku rela membakar tubuhku untuk kenikmatanmu, itu ku berikan sebagai persembahan tanda cintaku kepadamu, duhai hamba setiaku. Tapi tak ada yang cuma-cuma di dunia ini, camkan itu. Pada akhirnya nanti kau akan rasakan betapa nikmatnya aliran Benzena dalam darah mu yang telah sukses mengalahkan fungsi Oksigen yang menghidupi tubuhmu selama ini. Kau sukses menabung bibit Leukimia hasil dari tumpukan Benzena ini, duhai hamba setiaku. Tak mengapa, itu hanya proses.

Nikmati saja. Senikmat-nikmatnya. Aku tak akan menjahatimu sekarang. Atau mungkin lebih tepatnya, bukan sekarang. Tar itu masih mencari jalan mungkin, menuju paru paru mu yang kelihatannya baik-baik saja namun sesungguhnya ia memohon mohon ampun kepadamu, untuk berhenti menghisap ku. Aku masih bergeming, karena semua ini jelas jelas pilihanmu. Karena aku tahu kau begitu membutuhkanku, duhai hamba setia ku. Sejak Nikotin itu beradiksi di raga mu, sejak saat itu pula kau menanda tangani surat pernyataan setia sampai mati. Setia menghisapku sampai mati.

Bacalah surat cintaku ini untukmu, duhai penghisap raga ku. Bacalah sambil menghisap aku dalam-dalam. Jangan sekali-kali kau tinggalkan aku ketika membaca ini, agar apa yang kau cerna dari kata-kata ini bisa lebih tercerna lagi, sambil kau menghisap tubuh mungilku. Tubuhmu akan terus awet akan suntikan Formaldehida, seperti zombie, kau akan diawetkan sementara demi terus menghisap raga ku walau notabene nya fungsi organ raga mu telah mengering dan sebentar lagi tewas. Karena aku. Aku tahu kau begitu mencintaiku, duhai hamba dan penghisap setiaku. Bacalah surat cinta ini sambil menghirup pekat kepulan asapku, karena dengan cara itulah batalyon Hidrogen Sianida-ku akan melaksanakan tugasnya secara gerilya, menginterupsi tugas Cilia dalam menyaring udara yang masuk ke dalam raga ringkihmu itu. Duhai hamba penghisap setiaku, masihkah setia engkau menghisapku sampai dentingan detik ini? Aku rasa masih.

Terakhir, kuberikan satu pesan untukmu. Aku tidak tahu akan hal apa yang nanti akan terjadi di hidupmu. Aku tidak berhutang budi apapun kepadamu, jadi jangan cari aku apalagi menghardik ku ketika kau merasa ada yang salah dalam pompaan jantung mu. Itu sudah tugas dari Gas Oksidan untuk melumpuhkan normalnya detak detak kehidupan itu, dan aku hanya penghantar dan teman setia mu selama ini. Pun ketika pada saatnya nanti kau harus pergi meninggalkan orang yang teramat kau cintai, pergi meninggalkan tempat tidur empuk mu menuju alam kedua nanti, karena aku. Aku tidak tahu menahu soal itu duhai hamba setiaku. Kusarankan agar teruslah menghisap ku jika kau merasa dirimu hebat dan bernyawa ganda, karena aku terlihat memang seperti tak berdaya, tapi diam-diam akulah penghantar tidur panjangmu nanti, selamanya.

Advertisement

Berhentilah menghisap tubuhku walau masih terasa begitu memikat. Masih ada waktu akan hal itu. Masih ada organ hati mu yang setia mendetoksifikasi 4000 zat jahat dalam tubuhku yang kau damba-dambakan ini. Meski susah payah, hati akan tetap melakukan tugasnya. Melakukan tugasnya untukmu, yang sedikit tidak tahu diri, duhai hamba setiaku.