Kisah ini dimulai ketika kau terluka. Ketika senja tak lagi berwarna jingga. Ketika bibirmu lupa tersenyum, dan ketika dirimu dipecundangi hidup.

Pernahkah kamu merasakan kehilangan?

Ahh, tentunya kamu pernah merasakan hal itu.

Ya, ketika dulu kamu bercerita kepada saya tentang sedihnya masa kecilmu saat kamu kehilangan ibumu.

Apakah kamu mau merasakan hal itu lagi?

Advertisement

Keyakinan saya yang selalu yakin bahwa hati selalu membukakan dirinya untuk dimasuki dan ditinggalkan.

Adalah permainan yang saya ciptakan, tanpa memikirkan akhir dari kisah itu.

"Ada sepi yang terus memeluk.."

Beberapa kali saya paksa sepi pergi, namun seketika seseorang pergi (lagi).

Nyatanya, sepi menunggu dengan kadar yang lebih dari sebelumnya.

Jika perhatian tak dapat kamu berikan secara langsung, jika perasaan tak dapat kau tunjukkan dengan setiap detiknya.

Ketahuilah, akan ada satu jalan untukmu agar selalu bisa menunjukkannya dengan sepenuh hati.

Bolehkah saya bertanya?

Adakah saya di hatimu?

Karena mungkin bagimu, saya hanya seseorang yang tidak pandai dalam membuatmu nyaman.

Saya terlalu berlebihan dalam mencintaimu.

Dan yang bisa saya lakukan, saya hanya mampu terisak ketika setiap pertengkaran terjadi di antara kita.

Tak ada satu pun yang dapat mengerti rasanya menjadi saya, termasuk kamu.

"Seperti kemarin, senja menjamu kita dengan firasat yang terabai.."

Apakah sikap tidak pedulimu akan berbeda ketika kamu mengetahui rahasia terbesar saya?

Apakah kamu akan lebih perhatian kepada saya?

Ahh, saya tak menyukai hal ini jika kamu mengetahui rahasia saya.

Karena rasanya, kamu akan merasa terbebani dan saya merasa dikasihani hanya karena ini.

Biarlah selayaknya hubungan normal lainnya tanpa kamu mengetahuinya, walau semakin ke sini saya merasa sedih dengan semua ketidaknormalan ini.

Berapa banyak mencaci diri tidak akan mengembalikan semua hal yang sudah terjadi.

Jika kamu tahu bahwa saya tidak bisa selamanya menemanimu, jika kamu tahu di setiap pertemuan kita ada rahasia terbesar yang tidak saya ungkapkan karena hanya akan membuatmu bersedih.

Ini perihal ikhlas, bukan?

Kamu bisa menjadi apa yang kamu mau, selama kamu benar-benar tahu apa yang kamu mau.

Ahh, bukan saya tidak sayang untuk selalu bisa berada di sisimu, tapi jika saya masih diberi waktu.

Sebab, setelah lelah berjuang, ketenangan akan mendinginkan pikiran. Dan keikhlasan akan menyegarkan pikiran.

Dan ketika mati yang membuatmu mati, untuk apa lari dari pelarian yang mengurung.

Kemarin, senja menahanku untuk berpikir ulang akan semua keputusan.

Karena saya tahu kamu akan merasa sedih akan sebuah kehilangan.

Tahukah kamu bahwa sebuah keputusan yang baik itu diambil bukan berdasarkan pada “emosi”, melainkan saat semua perasaan sedang “tenang”. Hati dan pikiran kita sudah tak dipenuhi lagi dengan amarah.

"Karena melepaskan itu bukan tentang melupakan, tapi tentang mengikhlaskan.."

Tidak salah jatuh.

Yang salah terus terpuruk ketika kamu kehilangan.

Karena apakah kamu dapat menemukan orang yang benar dengan cara yang salah?

Termenung dalam senja ku tertunduk. Tidak ada yang lebih indah dari rasa “membebaskan” ketika semuanya akan hilang.

Memikirkan masa depan yang indah, walau mungkin masa depan itu tak bisa kita ukir bersama, setidaknya saya pernah berpikir ke sana. Dan semoga akan menemukan senjamu selamanya.

"Kamu adalah orang yang memberi warna baru di hidup saya.."

Yang membuat saya kuat melawan rasa sakit.

Yang mampu membuat saya menghargai rasanya dicintai dan mencintai.

Yang selalu menjaga saya dan menenangkan saya dengan pelukan hangatmu.

Jangan paksakan genggamanmu apabila yang kau genggam tak mampu lagi kau genggam.

Biarkan semuanya mengalir pada tempat yang semestinya… Hidupmu indah.

Saya berterima kasih padamu yang telah menjadikan saya seseorang yang berpikir. Darimu saya banyak belajar arti kehidupan, arti menjaga, arti memaafkan, arti keikhlasan untuk melepaskan sesuatu yang pernah berharga untuk saya.

"Begitupula matahari,

Meninggalkan senja yang tetap dalam elegi.."

Dan bahkan sekarang saya tak punya keberanian untuk berharap.

Beginikah rasanya?

Dengan apa yang dinamakan kehendak, mari kita belajar untuk memasrahkan, bukan lagi memaksakan.

Tidak banyak permintaan saya, hanya kamu tetaplah menjadi kamu dengan atau tanpa saya lagi kelak.

Tetap menjadi sosok kesayangan saya yang selalu tangguh menjalani kehidupan dari masa kecilmu sampai sekarang.

Terima kasih untuk semua kisah kita dan maaf jika saya tidak bisa di sisi kamu selamanya karena Tuhan sayang sama saya…

Jika memang harus berpisah, setidaknya jangan membuat sepasang mata menjadi basah.

"Dan jika Tuhan memberi waktu lagi, saya ingin kita yang selamanya.."