Hanya surat ini yang mampu aku tulis dalam kebisuan hati dan perasaanku..

"Tak kan menyesal untuk mengenalmu.. 🙂 yang aku sesalkan hanya KEBODOHANKU sendiri.. 🙂
Dimana aku tetap bertahan begitu lama hanya untuk menunggu balasan cinta dan sayangmu,, walau hanya sedikit.. Hingga sampai saat ini..

Namun perlahan aku sadar bahwa aku hanya sebuah patung atau bahkan mungkin sebuah boneka untuk menikmati sebuah rasa pelarian yang kamu berikan..
Dan pada akhirnya di ujung rasa ini aku mencoba menghempaskannya,, ku biarkan terbawa oleh angin.. Ku berusaha untuk tetap tegak berdiri dan melukiskan senyum di bibirku.. Ku berharap turun hujan,, agar kau tak melihat ketika ku lemah dan menitikkan air mata..

Ku ingin kau bahagia dengan dia yang telah kau pilih.. Mungkin aku sedikit egois tapi keyakinanku mengatakan bahwa tidak ada yang dapat mencintaimu seperti aku..

Biarkan aku menapaki hari – hariku dengan lembaran putih yang baru.. yang dimana nanti aku mengoreskan garis-garis kehidupan dengan kekasih sejatiku kelak..
Tiap lembaran yang telah kamu gores akan menjadi kenangan.. tetapi tidak akan pernah ku ingat..

Advertisement

Jantung dan hatiku akan menimbulkan api ketika aku perlahan melupakanmu.. dan setelah semua habis terbakar.. maka akan tergantikan dengan jantung dan hati yang baru.. memang butuh proses untuk mengganti dengan yang baru.. tapi aku yakin itu tidak akan lama..

Dan pada akhirnya aku mendoakanmu.. memelukmu untuk yang terakhir kalinya dan memberikan senyum kecil untukmu serta mengucapkan selamat dan terima kasih..
Itu kado terakhir dari ku..

Dari :

Aku yang pernah mencintai dan menikmati setiap kepalsuan darimu 🙂