Ini bukan keluhan, hanya alternatif, mengubah air mata menjadi rangkaian kata, sebab menangis sudah lelah rasanya.

Bila diceritakan tentang perceraian ayah dan bunda, sebagian kami akan menyebutnya ini lebih buruk dari kematian. Sebenarnya yang sulit bagi kami bukan soal ayah bunda yang tak lagi serumah tapi soal keadaan yang tak lagi sama.

Apa lagi yang lebih memilukan dari dosa dan patah hati? Ayah pergi, cintapun pergi. Ibu berlalu, cintanya juga begitu.

Hati kami pilu bukan sejak hakim ketuk palu, tapi mula dari ayah bunda tak ada candu rindu untuk bertemu. Suasana jadi dingin, hiruk tengkar tak sedikit kami dengar.

Jangankan cerita, duduk bersama sudah jadi malas rasanya. Bahkan sasaran emosi sering tertuju ke kami, seisi rumah menjadi hambar.

Keluar pusing; tak keluar pening.

Tatkala ayah bunda meminta kami memilih hendak ikut bersama siapa, bukan main rasanya! Seakan kalian menyodorkan racun dan bisa untuk makanan pokok kami mulai detik itu.

Advertisement

Mulanya begitu menyakitkan, seterusnya kami akan terlihat seperti biasa saja, dan selanjutnya tak menutup kemungkinan bahkan sering terjadi ketakutan pada kami. Hidup kami jadi sangat rentan dan sensitif, kurang-kurang jadi overprotective .

Bukan sekali dua kali, saat hendak memejam mata, raut wajah ayah ibunda, adik dan kakak muncul tiba-tiba di pelupuk mata.

“Aduh Ayah, aduh Bunda” rasanya kalimat itu normal dan wajar untuk dilontarkan anak kepada orang tuanya pada momen tertentu; mungkin ketika belajar bersepeda lalu terjatuh, atau mungkin ketika merasa patah hati pada cinta pertama.

Tapi tidak untuk kami ini, mungkin kalimat yang sering terlontar “Aduh Allah, aduh Tuhan. Duh, Gusti”.

Bagaimana kami tega menambah beban kalian dengan mengucap kata “aduh”, sementara beban ayah bunda saja harus dilerai dengan keadaan pisah. Maaf bila beberapa dari kami mencari cara lain untuk mengekspresikan rasa sakit dan bahagia.

Ayah, Bunda, sebenarnya tak mengapa bila pisah akan membuat kalian bahagia.

Tapi tolong, bisakah Ayah dan Bunda ciptakan suasana seperti biasa? Agar kami merasa tak ada yang berbeda, agar kami punya kisah indah untuk diceritakan saat bercengkrama dengan mereka di luar sana.

Sungguh tulisan ini tak bermaksud memojokkan dan menyalahkan. Entah kenapa terkadang kami malah menyalahkan diri sendiri atas keadaan yang terjadi.

Tak mengapa, kalian mendidik keras tanpa sengaja. Kami mampu menyimpan lapisan-lapisan luka, perlahan kami tumbuh dangan bijaksana.

Seperti anak lainnya, kami tak jauh berbeda, meski kadang luka dan duka melanda, kami tetap mampu mambaik dengan sendirinya, jatuh bangun itu sudah biasa.

Meski tampak marah dan benci, rasa sayang kami masih pada kadarnya untuk keluarga. Percayalah!