Simbok, panggilan kesayangan ku dan keluarga ku untuk seorang nenek. Sosok wanita yang sangat lembut, penyayang dan juga tak kenal lelah. Semua tentangnya membuat ku kagum.

Aku adalah salah satu cucu di urutan nomor 2 dan ibuku merupakan anak pertamanya.

Aku sayang sekali padamu, mbok.

Yogyakarta.

Aku datang ke kota ini dengan perasaan yang sama, bahagia. Aku dan keluarga besar ku memang setiap tahun pada momen lebaran, kami pulang ke kampung halaman untuk menengok kakek dan nenek ku. Aku ini anak manja, nenek ku lah yang selalu memanjakan ku. Pelukan hangat dan ciuman di dahi masih dapat ku rasakan ketika aku sampai di teras rumah mu. Ini lah salah satu alasan mengapa aku selalu rindu dengan suasana Jogja.

Advertisement

Ketika malam datang, kau selalu sibuk dengan kegiatanmu. Bukan untuk memikirkan dirimu sendiri tapi kau sibuk untuk kebahagiaan kami semua, terutama aku. Kau siapkan tempat untuk ku tidur, bantal, dan juga selimut untuk menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam jogja.

Dan ketika hari sudah pagi, kau adalah orang pertama yang bangun. Aku membuka mata dan ku melihat senyum manis mu disana. Kau sudah siapkan teh hangat dan juga sarapan untuk kami semua. Kau rela melakukan ini semua setiap tahunnya.

Aku merasa beruntung memiliki sosok seorang nenek seperti dirimu, mbok.

Aku teringat saat kami menonton televisi, kau selalu membuat ku tertawa karena disepanjang tayangan kau selalu berkomentar tentang isi tayangannya, dan tiba-tiba tertidur pulas di kursi.

Namun kini, sudah 26 bulan aku kehilangan sosokmu, mbok.Kau meninggalkan kami semua untuk selamanya, kau meninggal dunia setelah seminggu aku wisuda. Hari bahagia ku berubah menjadi duka yang amat dalam, aku tak mampu menahan tangisku saat itu. Tiga hari sebelum kepergian mu untuk selamanya, aku datang untuk menemuimu mbok. Tak ku sangka jika hari itu adalah hari terakhir kita bertemu.

Aku sempat mengecup kening mu saat berpamitan pulang ke Jakarta, dan aku meminta salah satu tante ku untuk memotret momen itu. Kau juga mendoakan aku, dan memberikan senyum manis terakhirmu. Deras air mataku ketika kabar duka itu datang, aku sangat kehilangan sosokmu, mbok.

Maafkan aku yang belum bisa membalas kebaikanmu, istirahatlah dengan tenang di rumah Allah ya mbok. Aku selalu merindukan kebiasaan-kebiasaan indah itu. Saat ini Jogja tak seindah dulu, karena sosok hebat itu sudah tidak ada.

I LOVE YOU, Mbok 🙂