Ini hari ke empat aku tak mendapati senyum polosmu selepas kepulanganmu ke kampong halaman. Ada getar yang tak biasa, kunamai itu rindu. Sebentar lagi aku pulang, kembali menjumpaimu, dan kembali kuceritakan hal-hal yang mengililingiku. Meski kamu tak banyak bicara, aku percaya kamu pendengar setia. Oleh karena itu, padamu aku suka sekali bercerita.

Adikku tersayang yang diam-diam gemar menangis di pojokan..

Kutemui lagi kamu lewat surat sederhana yang kutulis di ujung pagi yang juga sederhana. Apa kabar kampong halaman? Masihkah ada suara petasan yang disulut segerombolan anak kecil saat matahari pelan-pelan muncul di ufuk timur? Masihkah ada suara merdu orang-orang mengaji dari toa-toa mushola dan masjid? Btw, apa puasamu lancar? Aihh.. Aku rindu sekali mengahbiskan makan sahur bersamamu di warung makan depan Indomaret. Btw, ibu apa kabar? Aku rindu sekali dibangunkan ibu, baik untuk sahur maupun sholat subuh. Aku jadi ingin lekas-lekas pulang. Tak sabar ingin mencicipi sayur asam dan sambal tomat buatan ibu. Apa ibu baik-baik saja, dek?

Adikku yang sederhana yang begitu menyukai rumus-rumus fisika..

Aku sedang sedih, sebab ponsel dan leptopku rusak. Aku sedih bukan karena aku tak bisa menggunakannya lagi, aku sedih karena aku tak mampu menjaga amanat orangtuaku yang memintaku untuk menjaga baik-baik segala hal yang aku miliki, termasuk ponsel dan leptopku yang kini rusak dan tak mampu menyala kembali. Lagi, aku merusak kepercayaan orang tuaku. Lagi, aku membuat kecewa orangtuaku. Barangkali, sudah basi rasanya kata maafku. Aku bisa saja bekerja, tapi butuh waktu lama untuk bisa membeli ponsel dan leptop baru sebagai ganti ponsel dan leptopku yang rusak. Tak mungkin juga aku sok menjual kemalangan pada orangtuaku untuk minta dibelikan yang baru, sudah terlalu banyak hal yang aku minta, bahkan sampai sekarang aku belum sempat membalasnya. Aku sedih, dek. Aku takut. Aku bingung. Melihat keadaanku ini, apa kamu malu punya kakak sepertiku, dek?

Adiku yang manis dan begitu baik hati..

Beberapa waktu lalu, aku sempat kecewa berat pada seseorang yang sedang dekat denganku, sampai-sampai aku nonaktifkan semua akun social mediaku, begitu juga nomer ponselku. Begitulah aku, jika rasa sedih dan kecewa menusukku terlalu dalam, aku memilih diam, menghilang sejenak dari peradaban. Jika kamu tanya apa masalahnya, simpulkan saja; aku cemburu. Jujur, aku masih selalu kewalahan dalam menaklukan rasa cemburuku. Aku rasa itu wajar, iyakan, dek? Menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan (baca; pacaran) adalah satu cara dari sekian cara untuk melatih diri; melatih diri untuk lebih bersabar, melatih diri untuk lebih jujur, melatih diri untuk lebih bisa menerima kekurangan, melatih diri untuk lebih dewasa, melatih diri untuk lebih mantap menatap masa depan. Dan, masih banyak lagi yang tak mungkin juga satu persatu aku jabarkan, aku rasa itu terlalu panjang juga akan memakan banyak halaman.

Adikku yang ramah dan tak pernah mengeluh..

Kemarin lalu kekasihku pamit untuk liburan ke kota kelahirannya, Kota Angin dia menyebutnya. Kamu tau, dek? Kepergian kekasihku ke Kota Angin menyisakan ledakan-ledakan tak biasa dalam dada, semacam kutukan kesedihan. Aku kesepian. Mungkin ini terdengar berlebihan, karena toh masih ada ponsel untuk saling bertukar kabar. Entahlah dek, jarak selalu sukses membuatku merasa tak baik-baik saja. Meski kata penyair terkemuka “jarak itu menautkan rindu”, bagiku jarak tetap membuatku was-was tak menentu. Ah, rindu menindihku. Bantu amininya, dek; Semoga rindu yang aku tabung ini mampu membawa aku dankekasihku kembali kedalam pertemuan yang berkualitas. Amiin..

Adikku yang polos dan tak pernah boros..

Advertisement

Terlalu pagikah aku menulis hal semacam ini, dek? Kakakmu ini hanya ingin berbagi cerita. Aku sedang merasa sangat kesepian. Akhir-akhir ini juga aku kerap uringan-uringan tak jelas, menangis tak jelas, marah-marah tak jelas. Aku tampak tak jelas. Aku berantakan. Aku kacau. Apa menurut kamu, kakakmu ini nampak begitu menyedihkan dengan menulis surat semacam ini? Aku sedang tidak butuh belas kasihan, dek. Sekali lagi, aku hanya ingin berbagi cerita. Sementara kamu yang selalu ada untuk mendengarku bercerita tak ada di depan mata. Oh iya, kamu dapat salam dari kekasihku, katanya: "Belajar tak melulu tentang buku-buku maupun rumus-rumus fisika. Semoga kita bisa kembali berjumpa dan membincangkan keresahan-keresahan yang ada dalam dada."

Adikku yang murah senyum dan setiakawan..

Jadilah anak baik-baik, buatlah orangtua bangga. Jadilah purnama bagi siapapun saja. Tetaplah menjadi anak baik, tetaplah menjadi anak yang selalu menjunjung tinggi kepercayaan orang tua, tetaplah murah senyum, tetaplah rajin belajar, tetaplah sederhana, tetaplah setiakawan, tetaplah kuat, dan jangan pernah lelah berjuang. Maaf bila sebagai kakak, aku belum bisa membuatmu bangga. Aku yakin, kamu dengan segala perjuangan dan ketekunanmu itu, akan menggiringmu kedalam kesuksesan yang diridhoi Tuhan.

Oh iya, mohon maafkanlah kakak perempuanmu ini yang masih saja belum bisa mengajakmu berkeliling kota Jogja. Ya, aku mengerti, kamu sibuk dengan segala rutinitas barumu di kota pelajar ini. Aku punsama. Maka bila saatnya tiba, saat kita tak lagi ditindih rutinitas-rutinitas yang meledakan kepala, aku janji aku akan mengajakmu berkeliling kota Jogja. Bila perlu kuajak juga kekasihku itu untuk turut serta bersama kita. Kau tau, dek? Betapa kekasihku ingin sekali mengenalmu, berbincang-bincang dengan kamu. Semoga kamu lekas ada waktu, dan jangan malu.

Aku sudahi dulu suratnya sampai disini, lain waktu disambung lagi. Selamat beraktivitas. Selamat beristirahat. Aku menyayangimu..

Dari Kakak yang menyayangimu,

Nona Tulip