Hallo, inong ku naburju nang pe dohot among parsinuan, apa kabar? semoga Tuhan selalu memberkati kita, Amin.

Inong, teringat aku waktu sebelum pergi merantau, kau masakkannya ikan kesukaanku, ikan mas. Sebenarnya dulu makan masakan mu yang terakhir agak asin kurasakan inong, karena apa? karena sebagian air mataku jatuh dan tercampur ke masakan yang kau masakan dengan bumbu cintamu. Agak-agak gimana gitu yang kurasakan inongku, dengan semangat kau panggil aku yang lagi di kamar, sedang sibuk packing buat keberangkatanku. " makanlah boru, makan lah nak. Banyak makan yah, besok gak bisa lagi kau makan ini, puaskanlah sekarang" dengar kalimat ini, pingin rasanya ku peluk kau dengan erat inongku. Tapi di kala itu aku masih mementingkan kegengsianku dan hal itu yang buat aku sekarang merasa menyesal karena tidak memelukmu.

Among parsinuan, poda yang kau kasih selalunya ku ingat. Jangan lupa gereja, jangan lupa berdoa dan satu hal yang paling kuingat adalah untuk tidak membuat orang yang mengenal aku sakit hati karenaku. Among, kuingat dulu waktu kita berdebat mengenai jurusan untuk perkuliahanku, kau selalu meminta ku untuk memilih jurusan teknik perminyakan dan mengambil universitas di daerah kita. Ku tau apa alasan mu menyuruhku mengambil itu, iya biar aku bisa menggantikan posisi mu di perusahaan tempatmu bekerja dan tidak jauh dari kalian. Tapi dengan bersikeras aku tetap niat buat merantau dan memilih jurusan perkuliahanku sesuai dengan keinginanku. Sampai ada orang yang berkata " akh, bodoh sekali bapak kalian, memperbolehkan dia (aku) merantau jauh hanya untuk kuliah di jurusan dia itu" sakit sih sebenarnya among yang dikucilkan ini, tapi kuyakin pasti lebih sakit kau rasakan menahan rindu buat bertemu dengan aku anak gadismu.

Inong hasian dohot among parsinuan, gak terasa aku udah setahun disini tanpa kalian. Tapi pelukan kalian kurasakannya melalui doa indah yang kalian lantunkan tiap hari untukku. Banyak hal yang ingin kuceritakan pada kalian, mulai dari aku belajar adaptasi di sini, menemukan orang-orang yang memakai topeng, menemukan yang namanya friendship menjadi friendshit, bahkan sampai aku menemukan yang namanya new family dan yang pasti poda(nasihat) yang kalian kasih sangat dan sangat berarti bagiku.

Inong hasianku, dulu waktu kau suruh aku belajar masak selalunya aku merepet, tapi baru kusadari ternyata omelan mu yang dulu yang aku rindukan sekarang, benar – benar kurasakan manfaatnya.

Advertisement

Among parsinuan, selalunya kau ajarkan kami anak – anak mu martutur, dan manfaatnya banyak kutemukan tulang, nantulang, bou, namboru, mak tua dan pak tua di perantauan ini.

inongku naburju, keringat mu yang bercucuran di bawah panas terik matahari dan tangan mu yang mulai keriput menahan kedinginan hujan di ladang, sebentar lagi akan kugantikan dengan kebahagiaan.

among parsinuan, betis – betis kakimu yang sering sakit tiba – tiba dan rambutmu yang sekarang mulai memutih akan kugantikan juga dengan kebahagiaan.

inong dan among, tiap kita bertelefon di malam hari kata yang ingin selalu ingin kusampaikan namun selalu kubendung adalah rindu. aku sengaja tak pernah mengucapkan kata rindu pada kalian, bukan karena aku tak pernah rindu namun aku sangat tau bagaimana rasanya ketika seseorang anak hanya mampu mengucapkan kata rindu namun tidak melakukan pertemuan.

ditiap malamku dan ditiap doaku aku selalu berharap bahwa Tuhan selalu memberkati, mengasihi dan melindungi kita semua, Amin

sekian surat terbuka dari aku anak gadismu yang merantau, buat kalian berdua yang aku rindukan.