Kamu, gambaran seluruh bahagiaku. Dalam pelukmu, kurasa ada surga kedua selain telapak kaki ibuku. Bukan karena aku tak menangis, kemudian tudingan bahagia atas perpisahan kita bisa kamu lontarkan begitu saja. Berusahalah untuk mengerti. Pria ini benar-benar ingin siap mendampingimu nanti.

Pisahnya kita saat ini bisakah kita sepakat bukan untuk merasa tersakiti, tapi hanya seperti sedang diberi waktu oleh Tuhan untuk memperbaiki diri. Pastikan padaku, bahwa kelak saat aku kembali untuk menjemputmu menulis cerita bersama, kamu sudah benar-benar menjadi wanita yang siap menyandang nama belakangku selamanya.

Jangan menangis lagi hai wanita dengan hati bidadari. Bilang pada papa mamamu. Aku tak akan ingkar dengan apa yang telah kami sepakati. Aku tak hanya ingin mendampingimu sebagai seorang laki-laki yang hanya bermodalkan cinta. Melainkan pribadi yang siap menafkahi lahir batinmu juga. Jadi jangan ragu. Ada cinta yang selalu bersemayam dihiasi rindu. Kamu, sekalipun jauh masih tetap jadi yang paling ku ingat saat pagi menemaniku membuka mata.

Jarak dan waktu ini. Juga rindu yang menyiksa kelak akan ku bayar lunas saat aku sudah mampu berada disampingmu sampai akhir masa. Ini bukan tentang Asia dan Eropanya. Ini tentang cinta yang terlanjur terikat padamu saja dan tak ingin pergi kemana-mana. Jangan lelah menunggu, seperti aku yang tak akan lelah membicarakanmu dalam sujudku dengan Sang Pencipta. Ada rasa syukur yang luar biasa. Terimakasih selalu ku haturkan padaNya karena kamu telah dilahirkan kedunia.

Demikian juga aku, dinegara ini. Negara yang berbeda denganmu sedang berusaha mati-matian dalam perjuangan yang tak ada henti-hentinya. Aku akan menyiapkan istana untuk kita berdua nanti. Karena sungguh, aku memperlakukanmu seperti putri raja, masih mungkinkah aku membawamu dalam kehidupan susah?

Advertisement

Memang cinta kurasa cukup membuatmu menatapku penuh bahagia saat aku pulang sehabis bertarung menaklukan dunia diluar sana dengan usaha seadanya. . Tapi akan lebih indah bila kumiliki kamu dari orang tuamu dengan ikhlas mereka. Sebelum itu, bukankah harus ku yakinkan pada mereka bahwa dalam pelukku putri mereka tak akan pernah hidup menderita. Akulah jaminan mereka untuk merasa rela memberikanmu padaku untuk ku ajak menua bersama.

Jangan takut sayang, jarak dan waktu ini membawa hatiku lebih dekat padamu. Sejauh apapun aku darimu, justru semakin membuatku sadar bahwa disebelahmu adalah tempat yang paling nyaman untuk ku perjuangkan. Pelukmu yang selalu bisa menggambarkan hangatnya rumah. Senyummu yang teduh dan selalu mampu membuatku merasa tenang. Itu semua ternyata hal yang selalu aku rindukan.

Untuk saat ini, kumohon bersabarlah aku tak akan menyerah. Semangat darimulah yang membuatku tak hilang akal untuk mengumpulkan semua hal yang kamu dan anak-anak kita nanti butuhkan. Aku tak akan menyerah. Bila sebelumnya aku telah bersusah payah memasuki ruang hatimu dan keluargamu, mana mungkin aku akan rela begitu saja melepasmu yang selama ini selalu jadi alasan aku tertawa bahagia.

Karena itu, tunggulah aku. Tunggu aku dengan sujudmu dihadapan Sang Esa. Ceritakan rindumu padaNya. Agar kita dapat bertemu dalam doa. Agar lantas tersenyum Dia Sang Maha cinta. Disini ada aku, umatnya yang mampu mengagungkan keajaibannya. Keajaiban dalam satu kata yang mampu membuat hati kalut menjadi penurut. Yaitu cinta. Aku sangat berterimakasih padaNya. Karena kamu telah dilahirkan kedunia. Ciptaannya yang sempurna. Tersenyumlah sayang. Cintaku untukmu dan kutabung jutaan rindu, untuk kutuangkan dalam dekapmu nanti saat Tuhan mempertemukan kita lagi.

Dari aku, pria yang tak berhenti mencintaimu dalam usaha.