Kerap kutemui tulisan bahwa pasangan idaman adalah jurusan ini atau jurusan itu. Pendamping yang ideal di masa depan adalah seseorang yang berprofesi tertentu. Semua jurusan berlomba mengklaim menjadi sosok menantu idaman.

Jika benar seperti itu, apa kabar aku yang tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keadaan? Tidak masukkah aku dalam kategori pasangan idaman?

Aku tidak bisa menjadi anak kedokteran yang cerdas dan siaga mengobatimu jika sakit. Aku juga bukan perawat yang dengan telaten merawat ketika badanmu lunglai. Tetapi bukankah tidak harus kuliah kedokteran dan keperawatan untuk berusaha menyembuhkan dan mendampingimu?

Aku bukan anak teknik yang gesit, perencanaan matang, dan serius dalam mengeksekusi sebuah rencana. Tetapi yang kutahu cara untuk menunjukkan keseriusan adalah dengan menemui orangtuamu.

Jika dibandingkan anak hukum yang lugas, cermat, dan ahli dalam menyelesaikan masalah, aku kalah telak. Namun kelak jika ada masalah bukankah kita memiliki dua pikiran dan hati yang siap menyelesaikan masalah bersama-sama tanpa mengumbar ke dunia maya?

Advertisement

Aku bukan komika yang bisa membuatmu terpingkal, tetapi aku berjanji jarimu tidak akan basah karena menyeka air mata kesedihan.

Aku bukan calon psikolog yang juara dalam mendengar keluhan dan memberi nasihat. Tetapi telingaku selalu tersedia untuk segala keluh kesahmu. Hanya untukmu dan bukan untuk orang lain.

Aku bukan anak pertanian yang "tanaman aja diperlakukan istimewa, apalagi kamu". Satu hal yang harus kamu tahu, aku akan berusaha menumbuhkan bibit-bibit cinta yang akan membuatmu jatuh cinta pada orang yang sama berkali-kali.

Aku jauh tertinggal bila dibandingkan anak IT yang berwawasan luas dan update dalam teknologi. Tetapi aku tidak ingin kita terperangkap canggihnya teknologi. Aku ingin kita saling menatap mata, bukan mata yang memendarkan cahaya gawai. Berkacalah pada Steve Jobs yang selalu mengadakan makan malam sambil mendiskusikan buku atau hal-hal menarik lain bersama keluarganya.

Masih banyak jurusan menyebut diri merekalah pasangan idaman. Bahwa standar idaman ditentukan darimana seseorang menimba ilmu dan menempa diri.

Aku tidak menyalahkan mereka yang seolah mendeklarasikan bahwa jurusan merekalah yang melahirkan pasangan idaman yang layak diperjuangkan, toh mereka memang memiliki kemampuan di bidang itu.

Yang kutahu bukan latar belakangku yang menentukan, tetapi sikapku.

Menjadikan kebahagiaanmu sebagai prioritas, bekerja keras, berbuat baik, dan selalu menghadirkan Tuhan dalam semua perbuatan. Kukira itu cukup.

Tetapi jika engkau masih menggunakan standar itu, kepadamu calon pasangan halalku di masa depan, dari hati yang paling dalam, aku minta maaf. Aku bukan pendamping idaman.