Di masa lalu, aku bisa jatuh cinta dan mencintai dengan mudah tanpa memikirkan apapun. Namun sekarang, yang terjadi adalah aku takut jatuh hati dan takut terluka.

Saat hatiku memiliki sebuah nama yang bernaung di sana, saat itulah ketakutan akan terluka menjelma. Tentu saja ini tak adil. Mengapa sekarang aku membatasi rasa yang seharusnya mengalir begitu saja? Tanpa diduga orang itu adalah dirimu. Aku dan dirimu telah melangkah jauh dari masa lalu. Aku dan dirimu telah banyak tahu apa itu arti sebuah luka.

Untuk kita yang kini bertemu dimasa depan bisakah aku titip hatiku padamu? Jaga dengan sepenuh hati,maka aku akan melakukan hal yang sama terhadapmu. Tidak mudah memang untuk benar-benar sepenuh hati mencintai seseorang ketika masih ada rasa takut terluka. Dan aku masih belum bisa mempercayai apa yang kamu rasa terhadapku.

Untuk aku yang pernah terluka memang sulit mempercayai jika rasa yang kau rasakan adalah cinta, meskipun kau pun tak tau persis apakah itu rasa cinta yang sedang bergejolak di hatimu. Sebenarnya aku terlalu membatasi hati karena hanya terlalu takut.

Aku yang sekarang tidak bisa bermurah hati membuka hati.

Advertisement

Aku sering menghela nafas saat menenangkan hatiku agar aku percaya bahwa memang tidak ada cinta yang sempurna. Tentang sebuah ingin di masa depan, bisakah kita menjadi peran yang hebat menghadapi banyak rintangan nantinya?

Tentang satu hari nanti yang akan menjadi saksi kebersamaan dimulai antara aku dan dirimu. Lalu kemudian satu hari yang terus berlanjut menjadi minggu, bulan, tahun dan seterusnya. Terselip disana mampukah kita bertahan meskipun badai tak henti menerpa? Demi mewujudkan mimpi bersama. Dalam setiap memecahkan masalah dapatkah kita selalu berkompromi untuk kebaikan masa depan kita berdua? Ini tidak mudah. Kita sama-sama mengetahuinya.

Saat kau akhirnya memenuhi pikiranku tanpa permisi. Kemudian sebuah rasa muncul tanpa persetujuan.

Lagi-lagi aku menghela nafas menenangkan hatiku, mungkin ada yang salah. Sembari memejamkan mata pikiranku berkata, mana yang kiranya baik? Benar. Aku tak peduli tentang masa lalumu. Lalu walaupun begitu, aku juga tak mungkin terus menutup mataku bahwa kau harus berhenti dari kebiasaan burukmu di masa lalu. Tidak bisakah cukup dengan aku menyayangimu, kau berhenti dengan dunia masa lalumu? Bisakah kau menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita kelak?

Jika kau bertanya apakah aku siap hidup denganmu yang tak mempunyai apa-apa, aku juga tidak tahu jawabannya. Yang aku inginkan sebenarnya adalah partner perjuangan. Tentang menjalani kehidupan di masa depan yang akan menawarkan banyak rintangan, setidaknya bisakah kita saling menguatkan untuk tetap bertahan sesulit apapun itu?

Dan tetap bertahan meskipun tak sengaja ketika saling mengecewakan. Karena sesungguhnya niatku menginginkanmu menjadi imam untukku dan anak-anak kita nantinya. Bukankah itu mimpi yang terlalu jauh untuk kita,yang masih dalam kebimbangan perasaan? Lalu… temui aku dan katakan jalan mana yang akan kita lalui bersama.