Hey, kakak perempuanku yang hebat.

Semoga tulisanku ini tidak membuatmu menahan mual karena terlalu banyak mengandung urusan perasaan. Dasarnya memang aku sok puitis sekali menyentuh perasaan sedikit kau bilang aku berlebihan mengungkapkan isi hati.

Hubungan kita memang tidak semanis kakak-adik pada umumnya, kadang pertengkaran itu pasti ada. Kamu juga bukan orang yang kebaikannya kuceritakan ke mana-mana. Kita lebih sering diam, hanya mengobrol sekenanya, sibuk dengan urusan dan dunia masing-masing.

Dilahirkan sebagai saudara, kira-kira sudah seperempat abad kita tinggal satu atap bersama tapi setelah itu kita melanjutkan sekolah kita masing-masing di kota yang berbeda tapi kita masih tetap bisa bertemu dan bertukar cerita. Kamu mungkin dulu sering cemburu denganku, tapi aku tidak keberatan karena cemburumu terdengar sangat wajar. Karena setelah aku dilahirkan ibu memang tidak lagi penuh memberimu perhatian.

Kini kita sudah sama-sama dewasa, aku dan kamu tumbuh jadi dua perempuan dengan sifat dan karakter yang berbeda. Kamu jarang bicara sedangkan aku yang paling suka mengbrol atau bercerita. Model baju, aliran musik, bacaan favorit ; selera kita ibarat bumi dan langit terkadang juga ada kesamaan. Tapi di balik segala perbedaan dan perselisihan, bukankah kita tetap saudara? Tidakkah kamu juga seperti aku, yang menyimpan rasa sayang dan cinta enggan mengungkapkannya?

Advertisement

Aku dan kamu punya karakter yang jauh berbeda. Entah berapa kali kita pernah bertengkar dan saling mencela.

Sebagai adik aku terdidik mencontohmu dan kakakku yang lainnya. Menjadikan kamu dan kedua kakakku yang lain sebagai role model sesuai anjuran ayah, ibu dan kebanyakan orang di sekitarku. Aku pun diajarkan mematuhi perintah dan nasihat-nasihat darimu. Mereka biasa berkata.

“Dik, contoh kakak-kakakmu. Mereka itu pintar, rajin dan bisa mandiri. Kamu harus nurut kalau dinasihati kakakmu."

Semoga kamu juga mengingatnya, mbak, cerita kita berdua. Dulu waktu aku ujian nasional kelulusanku hanya berdua malah berempat bersama Zaqi dan Midun. Pada saat pagi itu 26 Mei 2006 Jogja dan sekitarnya di guncang gempa, pagi itu kamu sedang sarapan dan aku sedang ngobrol dengan Zaqi. Kita kira itu burung dara yang terbang dari atap rumah kita yang beratapkan seng, nyatanya itu gempa 5,8 SR. Kamu lari dan kita pun semua lari. Singkat cerita pada saat belum selesai ujian sudah ada isu tsunami, aku ketakutan hebat saat itu mbak, yang aku inginkan cuma berada di dekatmu mbak, aku mengajakmu ke Bukit Sidoguro (tores).

“Ayo Mba, munggah rono.”

“Munggah ngendi?”

“Munggah neng duwor, aku wedi mba, aku wediii.”

Pada saat itu hanya rasa takut dan ingin tetap mengandeng tanganmu yang ku punya saat itu hanya kamu di rumah, mbak. Ibu dan keluarga kita berada di Jakarta.

Ada cerita lain lagi yang membuatku berkesan, mbak.

Kamu masih ingat tidak, mbak? Apa kamu sudah lupa. Aku ingat betul dulu sewaktu aku masih duduk di kelas satu SMP pada saat ujian kenaikan kelas aku sakit radang tenggorokan. Saat itu ibu di Jakarta merawat ponakan pertama kita “Raihan”, yang paling aku ingat kamu merawatku dengan ikhlas, dengan penuh kasih sayang. Sayangnya kakak ke adiknya, hal itu tidak akan pernah aku lupakan, mbak. Kita juga sering ditinggal sama ibu ke Jakarta, hidup berdua di rumah kita. Kenangan itu akan tetap kuingat mbak, karena ku yakin kamu tulus menyayangiku sampai kapanpun walau terkadang ada banyak pertengkaran di antara kita. :3

Maafkan aku yang banyak ngomong dan cerewet ini. Terkadang aku suka galak dan songong sama kamu mbak, tapi di balik semua itu aku sayang kepadamu mbak, aku hanya ini merasa ingin diperhatikan lebih sebagai adik sebagai mana mestinya. Aku ingin layaknya sahabat yang selalu ada untuk sahabatnya.

Mengapa juga aku menulis surat ini untukmu, karena aku merasa umurku yang tidak jauh denganmu dan selama ini aku tumbuh bersamamu. Mungkin karena ikatan batin seorang saudara, jadi mohon dimaklumi kalau aku di sini sedikit berlebihan.

Tidak banyak waktu yang bisa dibagi, apalagi jika harus bicara dari hati ke hati. Tapi tanpa perlu kuakui, kamu pasti tahu seberapa hebat aku menyayangi.

Mungkin ini akan terdengar lebay, karena di sini aku akan menceritakan bagaimana perasaanku sebagai adikmu yang tidak jauh beda denganmu dan bahkan orang menganggap kita ini kembar tapi nyatanya kita dilahirkan di tahun yang berbeda.

Saat ini yang aku rasakan mungkin tidak akan kamu sadari karena kamu tidak tahu itu, karena aku juga belum bercerita tentang ini sejujurnya kepadamu mbak. Aku dengar kamu akan segera menikah, melabuhkan cintamu pada seseorang pria yang sudah menjadi pilihan hatimu, yang sebetar lagi akan membangun sebuah rumah yang namanya “rumah tangga”.

Aku turut bahagia sekaligus sedih, kenapa aku bahagia sekaligus sedih? Aku bahagia kamu akan menikah setelah penantian panjangmu, mungkin memang tidak banyak yang aku ketahui tentang kisah cintamu, karena kamu tidak pernah berbagi cerita denganku. Hal membuatku sedih di sini adalah sebentar lagi kamu akan menjadi milik suamimu, satu persatu semua kakakku sudah mempunyai keluarga sendiri, dan mungkin semua akan sibuk dengan keluarganya masing-masing, dan kamu jadi terakhir yang akan menikah pada saat aku memahami apa itu pernikahan.

Aku sedih karena aku takut perhatianmu ke adikmu ini berkurang, perhatianmu ke keluarga terutama ibu akan berkurang, karena kamu akan sibuk dengan keluarga barumu. Jujur walaupun aku ini tidak pernah menggungkapkan rasa sayang setiap harinya, sejujurnya dari lubuk hatiku yang teramat dalam, aku belum rela kamu harus di miliki orang lain, entah perasaan macam ini mbak tapi yang jelas aku belum bisa merelakanmu. Tapi semua keputusan sudah kamu buat, kamu akan menikah, aku turut bahagia mendengarnya mbak.

Semua ketakutan di atas hanyalah ketakutanku kalau saja perhatianmu kepadaku kepada ibu berkurang. Mungkin tidak banyak yang aku utarakan mbak, hanya permintaan jangan lupakan keluargamu, kalau kamu sudah berkeluarga nanti, jangan berkurang rasa perhatian itu. Tetapalah jadi Mbak Is yang apa adanya yang terkadang menyebalkan tapi tetap aku sayangi.

Satu demi persatu dari kalian pergi, menjalani hidup baru dengan pendampingmu.

Mulanya aku takut akan merasa sendiri. Lama-lama aku menikmati kesendirianku yang tak seburuk yang aku bayangkan. Aku masih bisa merasa bahagia sebagai adik kecil kalian, bahkan kebahagiaanku bertambah karena nambah ponakan darimu mbak hehe…

Sekarang kita menjalani hidup masing-masing. Ingatlah walaupun sekarang kita terpisah! Kita masih selalu terhubung, walau jarang sekali kita bertemu. Tapi saat kita berkumpul, selalu banyak cerita yang kita ceritakan pada ibu dan kedua kakak kita. Saat itulah menjadi saat yang sangat aku tunggu, walaupun bapak sudah tidak ada di tengah-tengah kita pasti beliau bahagia melihat kita.

Aneh rasanya jika aku harus jujur tentang perasaanku. Tidak bisa kubayangkan betapa canggung suasana ketika aku dan kamu bertemu muka lalu bicara perkara hubungan kita. Aku jamin mulutku tidak akan bisa berkata-kata, tentang seberapa besar rasa sayang dan cinta yang aku punya.

Tapi sungguh aku percaya, kamu pun pasti melakukan hal yang sama bahwa di antara doa-doa yang terapal ada namaku yang tidak pernah luput kamu lafalkan. Tanpa perlu bertukar pelukan, akulah yang tak pernah alpa memberimu perhatian.

Teruntuk kakak perempuanku yang satu ini, semoga surat ini tidak membuatmu menjadi ilfeel kepadaku. Mungkin kamu sedikit geli dan risih, tapi aku bahagia kamu mau membacanya mbak, ketika bertemu pasti aku sedikit malu kepadamu. Terima kasih tak terhingga atas semua kebaikan, nasihat, saran, dan kritiknya sebagai seorang kakak ke adiknya. I miss you so much sister.

Dari adikmu,

Yang berharap kamu tetap berada di sisiku