Sore ini aku sedang menikmati secangkir kopi didekat jendela, ditemani hujan yang sedang deras derasnya. Dan kembali teringat memori tentang kita berdua.

“aku tak bisa membagi waktuku denganmu. Sepertinya dunia kita memang sudah mulai berbeda”

Kurang lebih seperti itu kalimat yang kamu gunakan untuk meninggalkanku. Sederhana memang. Tapi kamu mungkin tak pernah memikirkan bencana apa yang terjadi dihidupku setelah itu. Rasanya masih sangat lekat ingatan itu. Rasanya baru kemarin kaki dan dadaku setiap malam bertemu saat mengingatmu. Masih memeluk diri sendiri setiap hari sampai pergantian hari. Hampir saja aku kehilangan kewarasanku.

Kamu tak akan pernah tahu berjuang sendiri itu melelahkan. Jadi mengikhlaskan adalah cara terwaras dari segala kegilaan dan perjuangan keras.

Aku masih tetap saja memikirkan alasan dari semua. Kamu pernah melepaskanku begitu saja. Apa tak berartikah semuanya? Aku berusaha sekuat yang aku bisa. Mengurangi waktu tidur hanya untuk bercerita. Berusaha percaya untuk hal yang seharusnya tak bisa dipercaya. Entah karena aku yang kurang berusaha atau memang kamu yang tak bisa bersyukur dengan semua yang ada. Jika ingin membusungkan dada, rasanya ingin sekali bertanya, kurang apa?

Advertisement

Sudahlah. Aku sudah lelah bertanya. Aku tahu kamu jenuh. sering ingin bertemu tapi waktu tak mengizinkan, dan saat itu waktu seperti hal yang paling kejam. Akupun juga tahu pasti kamu kesal, menghadapi gadis sepertiku yang kadang menjengkelkan. Tak apa, aku tak akan menumpahkan semua kesalahan. Karena sadar diri masih penuh dengan deretan kekurangan.

Tapi seharusnya kamu mengerti apa yang sudah kita lalui selama ini. Dan seharusnya kamu bisa lebih berjuang lagi. Jujur saja, masih ada Tanya yang tersisa, masih ada rasa yang memaksa, dan masih ada kata kita didalam doa yang seharusnya sudah binasa. Semua masih tersisa. Tapi memang apa? Aku dan jutaan manusiapun tahu, cinta yang menyatukan dua dunia. Dan kalau sudah tak ada lagi tentang kita, anggap saja kita tak dapat restu dari semesta.

Semenjak kamu pergi, entah berapa malam aku sudah berdoa, semoga kamu kembali diesok hari. Berharap masih ada kata kita yang menyejukkan dada. Tapi Tuhan memberikan perintah berbeda. Kata-Nya, keputusan berpisah tidak datang tiba tiba, ada alasan untuk kita tak bisa lagi berdua.

Aku layak bahagia. Menengok kebelakang hanya akan membuat perjuanganku berdiri terbuang percuma. Saat ini aku sudah mengikhlaskanmu, memantaskan diri untuk yang sedang menanti dan lebih menghargai.

Kopi di cangkir sudah hampir habis, hujanpun tinggal tersisa gerimis yang sebentar lagi reda. Setelah ini dada akan kembali lega dan senyum manis akan akan menjadi akhirnya.

Karena semua orang pasti pernah terluka. Tapi mereka juga tak boleh lupa untuk bahagia