Kepada hujan, terima kasih telah mempertemukanku dengan dia. Pertemuan pertama yang tidak pernah aku duga sebelumnya akan membawa hubunganku lebih jauh dengannya.

Aku masih ingat betul sore itu. Kamu mengenakan kaos abu-abu tua, celana jeans hitam, sepatu merah ditambah rambut kamu yang klimis. Tidak ada yang spesial di hari pertama pertemuan itu. Sebab bagiku, kamu hanyalah seorang pria tampan yang sedang duduk bersebelahan dengan kekasihmu, yang sangat cantik dan lemah lembut. Begitu juga dengan aku, aku juga sudah bersama lelaki pilihanku saat itu. Kita berempat sepakat untuk menyebutnya double date. Ah! Sangat lucu rasanya jika aku teringat lagi akan hal itu.

30 hari setelah pertemuan itu, siapa sangka kamu memutuskan kembali menghubungiku. Bagaimana mungkin, pria yang sebelumnya tidak pernah aku kenal sama sekali, bahkan bertemu dengannya pun hanya baru sekali dan setelah pertemuan itu pun sudah tidak lagi aku mendengar kabar nya. Lalu, tiba-tiba kamu datang lagi menanyakan kabarku saat itu. Sayangnya, kabarku kurang baik didengar sepertinya. Aku baru saja patah karena pria pilihanku merangkap teman kamu sendiri. Patah hati itu malah justru membawa kita untuk kembali bertemu untuk kali kedua.

Malam itu, ditemani live music dan kerlap kerlip lampu kafe, kamu mulai membuka obrolan. Aku ingat kamu bilang kalau wanita secantik aku rasanya tidak pantas kalau merasakan sakit hati sebegitu dalamnya. Sebentar, biar aku cerna lagi kata katamu itu. Bagaimana bisa, pria yang sudah mempunyai kekasih (yang sangat cantik itu) bisa bilang kalau wanita yang biasa-biasa seperti aku ini bisa terlihat cantik di matamu? Wah, ku anggap kata-katamu malam itu hanya penyemangat saja agar aku aku tidak terlalu larut dalam kesedihan.

Namun, dapatkah kita menduga kepada siapa kita akan jatuh cinta?

Advertisement

Ku pikir setelah pertemuan malam itu, tidak akan lagi terjadi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Dan ku pikir, perasaan ini tidak akan jatuh kepada kamu. Tidak, aku tidak pernah bermaksud untuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kamu dengan dia.

Namun, disadari atau tidak, perlakuanmu yang menganggap aku seperti kekasihmu itu ah yang membuat aku jatuh terlalu dalam. Aku tidak pernah menyalahkan kamu sepenuhnya atas rasa ini. Aku menganggap adanya hubungan kita saat ini adalah kesalahan kita bertiga. Iya, bertiga dengan wanitamu juga.

Bukan. Bukan maksudku untuk menyalahkan wanitamu yang tidak tahu apa-apa. Namun seharusnya dia lebih bisa menjaga kamu atas perasaan yang sudah kamu bagi dua itu. Dan untuk kamu dan aku, seharusnya kita bisa berpikir dengan logika yang jernih lagi kalau kita harus terima kenyataan bahwa sampai kapanpun hubungan ini akan selamanya seperti ini. Bertahan secara sembunyi-sembunyi.

Ketahuilah, sejujurnya aku juga tidak ingin bertahan selama setahun ini dengan status yang tidak jelas. Dengan kepastian yang tidak pasti.

Bukan mauku juga untuk ada di tengah hubungan kalian. Bukan maksudku membuat hubunganmu dengan wanitamu menjadi tidak sehat. Sebagai seorang wanita, aku paham betul rasanya sakit ketika lelakinya yang dicinta ternyata telah membagi perasaannya secara sembunyi-sembunyi dalam setahun ini. Namun, mengertilah.

Sekali lagi aku katakan, aku tidak berharap terjebak dalam situasi serba salah seperti ini. Sudah berjuta kali aku mencoba untuk melepaskan kamu dan berjuta kali juga kamu mengejar aku untuk kembali ketika aku sudah berjalan cukup jauh. Sialnya, aku selalu luluh atas itu. Aku juga tidak mengerti apa yang membuat kamu untuk teguh pendirian mempertahankan aku. Begitu juga sebaliknya dengan aku. Kita berdua selalu terjebak dalam ego masing masing.

Aku menyadari bahwa yang telah aku lakukan ini salah. Namun ketahuilah, melepaskan rasa yang sudah bertahan sebegitu lamanya tidak mudah. Begitu juga denganmu, bukan? Kamu pun tidak ingin melepaskan wanitamu. Meski di sisi lain ketika aku berusaha untuk keluar dari hubungan ini dengan mencoba membuka hati untuk lelaki lain lagi, kamu selalu marah seolah aku ini milikmu seutuhnya.

Sudah. Aku sudah cukup lelah mempertahankan yang tidak pasti. Biarkan aku saat ini untuk mencari jalan keluar sendiri. Jangan kejar aku untuk kembali lagi. Lupakan semua tentang kita yang pernah ada. Biarkan aku membuka hati untuk pria lain.

Dan untuk kenangan, terimakasih sudah membolak-balikan perasaan ini. Sekarang, berdamailah dengan perasaanmu sendiri! Biar ku urus perasaanku ini sendiri. Kembalilah kepada wanitamu. Dia sudah menunggu di sudut sana untuk mendapatkan kata “sayang” yang sesungguhnya dari mulut dan hati mu. Terima kasih untuk segalanya, sekarang sudah waktunya aku pamit darimu. Sampaikan maaf kepada hati wanitamu bahwa aku sempat melukainya.