Baru setahun rasanya kita kenal dekat lalu saling mengerti satu sama lain. Tak pernah meragukan kemampuanmu mengurus ini dan itu. Selalu percaya walaupun kau jarang memberiku kabar. Yakin, bahwa kau ada suatu urusan yang memang harus didahulukan. Namun, jauhmu sekarang melebihi jarak tanah dan langit.

Tahukah kau, bahwa aku seolah tak bisa ‘meraihmu’ saat ini? Tahukah kau jika banyak prasangka negatif yang aku sumpalkan diselip-selip otakku sekarang? Beribu argumen berotasi dan berjalan di kepalaku saat mengingatmu. Hal-hal aneh yang tak kusadari telah terjadi di sekelilingku, tepat berada pada dirimu. Maaf jika aku bertele-tele, tapi memang sulit menguak apa yang sedang terjadi pada dirimu kawan. Bahkan, kaupun tak menyadari itu.

Maaf jika akhir-akhir ini aku menjauhimu dan lebih banyak bersikap dingin. Seharusnya aku lebih waspada pada dirinya yang telah membuatmu seperti ini. Maaf aku yang kadang kurang memperhatikanmu. Maaf jika selama ini aku selalu menyembunyikan sebuah rahasia yang tak kau mengerti. Rasanya ketika bertemu aku ingin memelukmu kawan. Seandainya kau bisa mengerti tanpa aku harus berkata-kata, melalui pikiran dan batin.

Sedih, jelas aku rasakan. Membayangkan bahwa dirimu sebentar lagi melewati masa-masa genting. Kali ini apakah hanya pikiran ruwetku atau memang ketakutanku yang akan menjadi nyata? Bukankah sahabat tak mungkin meninggalkan sahabatnya pergi bahkan ketika cobaan terberat datang? Bukankah memang seharusnya selalu bersama bagaimanapun keadaanya?

Aku tahu ini tentu berat bagimu juga bagiku. Kau yang sedang menjalani itu dan aku yang mungkin memang ditakdirkan menemani saat-saat tersulitmu. Sejujurnya aku tak tahu peranku nanti bagaimana kawan. Seakan untuk maju aku tertusuk dan mundur aku akan masuk jurang curam. Aku bukanlah pengecut yang lari dari segala hal yang menghadang, bukan juga pahlawan yang rela mati-matian membela kebenaran. Aku hanyalah seseorang yang banyak memikirkan ketakutan tentang masa depan. Maka dari itu, kembalilah kawanku. Dia yang kau inginkan kadang hanya kebutuhanmu yang semu.