Bersaudara adalah anugerah Tuhan. Tapi pernahkah kamu mengalami perselisihan dengan saudaramu? Hingga semua kenangan terasa hambar dan ingin segera terlupakan. Untukmu saudaraku, masihkah kau ingat kapan terakhir aku tertawa bersamamu? Aku rindu hal itu, saat kita berjalan bersama, tertawa sepanjang jalan, dan melakukan hal gila bersama. Akulah, adikmu yang selalu menyayangimu, walaupun dalam sepatah kata dan do'a.

Dalam setiap do'a, aku harap Tuhan menjadi saksinya. Aku menyebut namamu dengan sempurna

Aku memang bukanlah adik yang sempurna, bukan seorang yang berprestasi sepertimu. Hidupku pun tergantung padamu. Karena sekolah kita selalu sama, maka aku selalu bertanya ini itu mengenai sekolah kepadamu. Terkadang juga aku adalah sebab dari masalah-masalah kecilmu. Tapi, tahukah kamu wahai saudaraku. Aku selalu menyebut namamu dengan sempurna saat berdoa. Meyakinkan Tuhan bahwa kaulah bagian penting dari hidupku yang tak mampu untuk dipisahkan.

Ketika kau marah, aku merasa diriku sungguh tiada berguna hidup di dunia

Aku sadar bahwa aku terkadang menjadi bebanmu ketika ayah dan ibu tidak ada. Tapi bukan maksudku untuk menyusahkanmu, aku hanya ingin lebih dekat denganmu melalui hal-hal sederhana yang menumbuhkan rasa bahagia. Saat kau tak lagi berkenan dengan kehadiranku, sungguh aku merasa semuanya telah tak berguna; hidup, cinta, dan harapan. Lenyap tak berbekas.

Ketahuilah wahai saudaraku, kaulah yang sebenarnya mengajariku apa itu arti hidup, bersaing, pilihan, bertahan, dan mati

Walaupun ayah dan ibu yang selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan kecilku, tapi tetap kaulah yang menjawab semua pertanyaan gila dariku. Dari semua perselisihan yang ada, aku rasa kaulah yang telah membangun benteng kokoh untukku agar aku tak akan hanyut dalam gelombang kehidupan yang kejam.

Saat banyak pertengkaran terjadi, aku sadar bahwa kaulah guru yang paling baik untukku belajar bahwa hidup bukanlah sekadar bermain.

Advertisement

Namun, hidup adalah permainan yang harus kita mainkan yang wajib kita menangkan. Saat semua temanku lebih pandai dariku begitu juga dirimu, aku sadar bahwa kaulah saingan terberat dalam hidupku. Aku tak mau menyusahkanmu di hari tuamu, cukup sekarang saat kita kecil untuk saling menuduh, menangis, dan menarik perhatian ayah dan ibu.

Sifat kerasmu yang lebih dari ayah dan ibu bukanlah aib darimu. Sakit memang saat kau terlihat tak lagi menyayangiku, tapi itulah caramu untuk menyadarkanku bahwa hidup bukanlah canda dan fana.

Aku hanyalah cemooh bagimu, yang mau tidak mau harus kau jaga hingga nyawa taruhannya

Aku bukanlah adik yang dapat membanggakanmu, aku juga lebih sering menjadi beban bagimu. Aku sadar bahwa terlalu sering aku menyusahkan bahkan menjadi hal yang memalukan bagimu. Tapi aku selalu tahu bahwa kaulah yang selalu menjadi pelindung saat ayah dan ibu tiada. Kaulah orang tuaku selanjutnya, tempatku berlindung dan mengadu.

Ketika Ayah dan Ibu membanggakanmu dibanding aku, sungguh aku merasa kaulah yang kupuja

Kau memang anak yang terlahir sebelum diriku, kau juga yang telah merasakan hidup sebelum embrioku tercipta. Terkadang anak sulung memang lebih pandai dibanding adik-adiknya. Kau memang lebih berprestasi dibanding aku, kau juga lebih pandai dengan IQ mu yang lebih banyak dibanding aku. S

aat ayah dan ibu membanggakanmu dibanding aku, sesungguhnya tiada iri dan cemburu di hatiku. Justru aku lebih menyayangimu, karena kaulah pujaan jiwaku, penyemangatku, alasan kenapa aku harus berjuang karena kaulah sainganku,

Kaulah saudaraku, yang dengan bangga aku ceritakan pada semua temanku

Tak bisa dipungkiri bahwa semua prestasimu adalah kebanggaanmu, tapi semua itu juga merupakan kebangganku memiliki saudara sepertimu. Kau sadari atau tidak, aku selalu bangga menceritakanmu di depan teman-temanku.Semuanya, prestasi, cinta, kasih sayang, dan kenanganku bersamamu. Aku selalu bangga denganmu.

Aku tak pernah sedikitpun menyebut keburukanmu walaupun itu sudah tergambar dari watakmu, aku tahu itu adalah dirimu, sikapmu, bukan aibmu. Bukankah semua orang memiliki kekurangan, kau pun juga sama.

Saat kau jauh, ketahuilah adikmu yang bodoh ini selalu membutuhkanmu

Pertemuan semakin jarang terjadi pada kita berdua. Kau dalam perantauanmu, dan aku dalam kegiatanku. Namun, ketika sepi melanda, aku teringat bahwa aku bisa sampai sekarang karena semua usahamu juga. Sampai saat ini pun aku tetap membutuhkanmu, walaupun sekadar membuatku menangis karena ejekanmu.

Kau sadar atau tidak, jika kelak aku telah bahagia sesungguhnya aku akan selalu membutuhkanmu. Dalam segala keadaan, kaulah pengganti ayah dan ibu, kaulah curahan hatiku. Kau segalanya saat ayah dan ibu telah tiada.

Wahai saudaraku, saat kelak kau persunting wanita pujaanmu janganlah kau perlakukannya sepertiku. Sayangilah ia lebih dariku

Aku memang saudara kandungmu, tapi bagaimanapun, hidupmu kelak akan kau habiskan dengan istrimu. Aku memang seorang wanita, sama seperti istrimu besok. Tapi ketahuilah bahwa aku berbeda dengan istrimu. Aku yang telah terbiasa dengan sifatmu, kurangmu, dan semuanya tentangmu, tapi istrimu baru saja menyelami hidupmu. Aku yang sudah terlalu mandiri karena didikanmu, berbeda dengan istrimu yang mengharap kasih dan sayangmu. Aku ingin, kau limpahkan kasih dan sayangmu lebih dariku untuknya, wanita yang kau puja.

Ketika ajalku lebih dekat dibanding ajalmu, aku ingin kaulah yang menidurkanku dalam liang lahat

Aku tak tahu bagaimana cara Tuhan menyayangi hambaNya. Tapi bagaimanapun, usia, waktu, harapan, dan semuanya adalah kehendak Tuhan, milik Tuhan, sehingga aku pun tak mampun mengelak, menawar, dan berjanji atas semua itu. Bila pada kesempatannya, Tuhan menyayangiku sehingga memanggilku lebih cepat darimu, aku hanya ingin kaulah yang membaringkanku dalam lubang terakhir kau melihatku. Agar kau tetap menjadi kebangganku hingga akhir masaku.

Menjadi adik bukanlah hal mudah karena selalu ada kakak yang mendampingi. Tapi ketahuilah bahwa adik adalah manusia yang beruntung, karena memiliki saudara yang selalu melindunginya. Mencintai saudaramu lebih darimu, menjadikannya hidupmu yang kedua. Sayang, sayang, dan sayang~