Kumohon, tolong jangan salahkan aku jika aku tak pandai membendung air mata. Jangan kesal padaku karena aku tak mampu menyembunyikan kesedihan. Aku tak tahu seberapa besar kerinduan ini menguasaiku. Hanya satu yang aku pahami, perasaan ini semakin menyakiti dalam hitungan hari. Bahkan aku menulis ini dengan sesekali mengusap pipiku dengan punggung tangan.

Aku telah mengirimimu pesan lewat semua sosial media. Hanya menunggumu membaca tanpa ada balasan. Aku telah memohon kepada siapa pun, dengan atau tanpa air mata, agar aku bisa berbicara denganmu walaupun hanya satu kata. Tak ada yang bisa, kecuali Tuhan mengetuk hatimu yang terlampau kebal itu.

Apa kabarmu di sana? Kau selalu bilang bahwa kau bahagia. Aku juga meyakini hal itu. Kau berbeda denganku. Aku tak pernah tahu nama perasaan ini. Dulu, aku hidup dengan ukuran kebahagiaan yang sederhana. Mendapat nilai bagus, walau jauh dari sempurna. Bisa memenuhi segala tuntutan orang tua. Mengamati seseorang yang kukagumi dari jauh, tanpa berani mengatakan perasaan yang sesungguhnya.

Kini, bahagia itu terlalu sulit kucapai. Denganmu, aku pernah merasa sempurna. Dalam segala keterbatasanmu, keterbatasanku, dan keterbatasan kita sebagai manusia. Seperti saat kau menutup penamu dan bunyi “klik” membuatnya pas satu sama lain. Setidaknya bagiku seperti itu. Kini, saat kau memutuskan untuk pergi, aku merasa kehilangan sesuatu. Aku sendiri merasa bingung saat ditanya sesuatu itu apa. Kita tak pernah saling memiliki. Tak mungkin sesuatu itu adalah kau. Tapi aku tetap merasa, hidupku jauh dari kata sempurna bahkan sebelum aku mengenalmu.

Apa kabarmu di sana? Entah di belahan Bumi mana kini kau berada. Mungkin jarak kita tak sampai ribuan kilometer jauhnya, tetapi aku semakin yakin perasaan kita terpaut jutaan tahun cahaya. Apakah perasaan itu pernah salah? Kupikir tidak sama sekali. Hanya saja, perasaan belum pasti tertuju pada alamat yang dituju. Belum pasti pula pada waktu yang seharusnya, bisa saja terlampau dini atau bahkan terlambat sama sekali. Mungkin itu keadaanku saat ini. Tidak, aku yakin sekali kau adalah orang yang tepat. Tapi mungkin waktuku salah, seharusnya bukan saat ini atau bahkan bertahun-tahun yang lalu saat mataku menangkap senyummu pertama kali.

Advertisement

Masihkah kau menyalahkanku? Atas perasaan yang bahkan tidak kutahu akan sesulit ini. Orang bilang cinta itu sederhana, tanpa memikirkan agama, kasta, dendam keluarga, atau lain sebagainya. Tapi cinta menjadi sulit bagi orang yang tak bisa menyalurkan rasa cintanya. Pintu telah tertutup, bahkan untuk saling menyapa. Aku takut sendiri, jika aku mencoba berbicara padamu maka yang kudapat hanyalah benci.

Tahukah kau? Aku sering memutar lagu-lagu patah hati. Mungkin di luar sana banyak yang merasakan apa yang kurasa. Tetapi aku merasa sendirian menghadapi ini. Aku tak pernah lagi merasa senang di dalam keramaian, karena aku merasa asing dan selalu bertanya-tanya mengapa aku di sana.

Oh iya, musim penghujan sudah tiba. Kau bilang aku penyuka hujan. Sebenarnya aku tidak menyukainya sama sekali. Basah kuyup, kedinginan, kotor dengan cipratan air kecoklatan di pinggir jalan. Sukakah kau itu semua? Tetapi hujan pernah membuatku merasa dekat denganmu. Aku tahu, aku selalu bisa merasakanmu.

Sudah, ya. Masih banyak yang harus aku kerjakan. Aku lelah, terlampau lelah. Kuharap kau selalu tahu, bahwa aku tetap ada untukmu. Walaupun kau tak pernah menyuruhku berdiri tegak di bawah guyuran hujan di depan rumahmu. Juga tak memaksaku mengingat setiap hari ulang tahunmu. Atau  berlarian menjengukmu kala jatuh sakit. Bahkan mencemburuimu saat kau dekat dengan yang lain. Sebut aku bodoh. Panggil aku tolol. Setiap orang boleh kan menunjukkan rasa sayang? Mungkin rasa sayangku berbeda dengan wanita-wanita lain yang dekat denganmu.

Akhir kata, walaupun aku bukan salah satu orang yang kau sayangi, tetapi aku berharap aku bukan satu-satunya orang yang kau benci.